Langsung Kembali pada al-Qur’an Itu Sombong

Sabtu, 2 Juni 2018, malam, para santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten menyelenggarakan Peringatan Nuzulul Quran sekaligus malam perpulangan. Kegiatan yang dihelat di lapangan upacara ini dihadiri oleh Pengasuh Pesantren, Kepala MTs/SMA Qothrotul Falah dan guru-guru.   

Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah, KH. Achmad Syatibi Hambali, didaulat menyampaikan tausiah kepulangan. Dalam tausiahnya, Kiai Ibing, sapaan akrabnya, mengapresiasi kegiatan ini.

“Saya mengapresiasi kegiatan ini, yang memadukan kegiatan perpulangan dengan peringatan turunnya al-Qur’an,” ujarnya.

Beliau lalu menjelaskan perihal al-Quran, yang merupakan petunjuk bagi manusia (hudan li al-nas) dan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa (hudan li al-muttaqin).

“Al-Quran itu petunjuk bagi manusia yang ingin mendapat keridaan Allah,” katanya.

Dikatakan Kiai Ibing, belajar ngaji di pesantren itu tiada lain diniatkan untuk memahami al-Qur’an. Menurutnya, memahami al-Qur’an itu tidak mudah. “Membacanya saja susah, makanya dinilai ibadah, terutama di bulan puasa,” ujarnya.

“Namun mengamalkan kandungannya itu wajib,” imbuhnya.  

Untuk memahami al-Qur’an, maka dibutuhkan banyak perangkat pengetahuan. Misalnya, nahwu yang meliputi Awamil, Jurumiyah, Imrithi, Alfiyah dan lain lagi. Juga harus memahami ilmu maani dan bayannya. “Dan masih banyak lagi selain itu,” katanya.
 
Untungnya, banyak ulama yang menafsirkannya. Misalnya, ada Tafsir al-Jalalain, Tafsir al-Munir, Tafsir Ibn Katsir, dan sebagainya. “Membaca karya ulamapun tidak mudah,” katanya lagi.

Pengasuh lalu menyentil beberapa orang zaman ini yang mengatakan tidak perlunya menukil pandangan para ulama dan harus langsung kembali pada al-Qur’an dan Sunnah.
 
“Kalau ada yang bilang langsung aja ke al-Qur’an dan Hadis, itu orang sombong. Tanpa tafsir para ulama, kita nggak bisa memahami al-Qur’an. Nggak boleh lah itu. Dan semestinya kita beruntung karena ada ulama yang membantu memudahkan kita memahami al-Qur’an dan Hadis,” katanya.

Selain itu, Pengasuh juga mengingatkan para santri yang akan pulang kampung untuk menjaga akhlaknya. Tidak boleh meninggalkan shalat dan menyakiti orang tua di rumah misalnya.

“Jaga akhlak kalian sebagai santri,” pesannya.

Di akhir acara, diumumkan juara-juara kelas sekaligus pemberian hadiah ala kadarnya.[nhm]