Mondok Itu Anugerah Terbesar

Ratusan santri baru Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten, sudah berdatangan pada Sabtu, 14 Juli 2018. Mereka dihantarkan oleh keluarganya beramai-ramai laksana pengantin. Mereka berasal dari wilayah Lebak, Pandeglang, Serang, Cilegon, Tangerang, Jakarta, Lampung, Palembang, Jawa Barat dan sebagainya.

Di hari pertama, mereka melakukan wawancara dengan para guru terkait kesiapan menjalani kegiatan di pesantren. Secara umum, para santri baru memilih pesantren karena keinginan sendiri, bukan karena dipaksa orang tuanya. Mereka ingin menjadi anak-anak yang berakhlak mulia. Orang tua yang diwawancara, juga secara umum memyampaikan alasan memondokkan anaknya karena ingin anaknya menjadi pribadi yang mulia.

Selain wawancara kesiapan, santri baru juga dites bacaan al-Qur’annya. Tujuannya, untuk mengetahui sejauh mana kemampuan bacaan kitab suci mereka. “Yang sudah mahir tentu akan dibina sesuai kadarnya. Dan yang belum bisa membaca al-Qur’an sama sekali atau masih terbata-bata, akan dibina juga sesuai kadarnya. Kami ingin menjadikan mereka ahli-ahli di bidang al-Qur’an. Upaya akan kami lakukan secara maksimal insya Allah,” ujar Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) Nurul H. Maarif.

Sebagai mana santri baru pada umumnya, menjalani kehidupan pertama di lingkungan pesantren selalu dirasa berat dan menjadikan mereka kikuk. Ada yang terlihat murung, menangis, namun lebih banyak yang ceria. Dengan berjalannya waktu, insya Allah mereka akan kembali seperti sedia kala. Tantangan terberat santri-santri baru memang selalu adaptasi dengan lingkungan barunya. Jarak yang jauh dengan orang tua menjadikan mereka harus kembali menata dirinya.

“Kita akan arahkan mereka mengenal lingkungan, akrab dengan kawan-kawan juga enjoy dengan kegiatan yang dicanangkan. Insya Allah kami Pembina juga akan memantau setiap aktivitas mereka,” ujar Ustadz Eman Sulaiman, pembimbing kobong.

Di hari pertama, mereka sudah mulai diarahkan untuk shalat berjamaah, tadarus al-Qur’an juga membaca asmaul husna. Mereka juga belajar bangun shubuh untuk berjamaah. Dan Ustadz Muhammad Yusuf, Pembimbing Hafalan al-Quran, bertindak sebagai imam sekaligus pemberi kultum untuk memberikan sedikit tausiah.

Dalam tausiahnya, Ustadz Yusuf menyampaikan, santri-santri yang menjalani kehidupan di pesantren adalah mereka yang mendapat keberuntungan. “Mondok itu anugerah. Kalian dipondokkan bukan karena dibuang, melainkan karena sayangnya orang tua. Mereka ingin melihat anak-anaknya sebagai pribadi yang mulia akhlaknya,” ujarnya.  

Mengutip Hadis Rasulullah Saw, Ustadz Yusuf juga menyatakan, jika Allah Swt menghendaki hamba-Nya menjadi pribadi yang baik, maka diberikan-Nya pemahaman di bidang agama. “Man yurid Allah bihi khairan yufaqqihhu fi al-din. Dan pesantren insya Allah bisa membantu mewujudkan itu,” katanya.
 
Namun demikian, tentu saja semua keberhasilan tergantung pada ketekunan dan kesungguhan santri. Keberhasilan tidak pernah datang tiba-tiba. “Siapapun yang tekun belajar akan bisa menggapai cita-citanya, dalam bidang apapun,” wasiatnya.

Usai tausiah singkat itu, santri-santri baru istirahat kembali di kobongnya masing-masing. Sedangkan santri-santri lama menjalankan kerja-bakti membersihkan lingkungan.[nhm]