Tim Medis RS Misi Beri Penyuluhan Kesehatan

Enam Tim Medis Rumah Sakit Misi Lebak memberikan penyuluhan kesehatan pada santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten, Selasa, 17 Juli 2018. Turut serta dalam rombongan, antara lain, drg. Deni (Direktur RS Misi), Marsutio (Kabag Humas), dr. Shanti Lestari (dokter umum), Dina (ahli gizi) dan beberapa lagi.

Bertempat di Majelis Putera, pihak pengelola pesantren yang hadir, antara lain, Nurul H. Maarif (Koordinator Majelis Pembimbing Santri), Ahmad Turmudzi (Kepala MTs), Dede Saadah (Bendahara), Maani Makmun (Kabag Tata Usaha), Puput Nadhifah (Bidang Wirausaha) dan banyak lagi.

Dua hal yang disampaikan oleh Tim Medis RS Misi adalah penyakit kulit (scabies) dan kesehatan reproduksi. “Dua hal ini penting disampaikan karena terjadi di lingkungan kita. Kami datang untuk berbagi tentang dua materi ini. Karena kami dari kesehatan, maka yang bisa dibagi ya materi kesehatan,” ujar drg. Deny yang baru menjabat sebagai Direktur RS Misi tiga bulan ini.

Dr. Shanti, yang baru bergabung dengan RS Misi selama enam bulan, didaulat menyampaikan dua materi ini. Menggunakan power point yang ditampilkan pada layar besar, dr. Shanti menjelaskan dengan gamblang penyebab timbulnya penyakit kulit (scabies) dan upaya pencegahannya. Penyakit yang disebabkan oleh kutu ini bisa menular baik karena sebab kontak langsung maupun tidak langsung.

“Kontak langsung seperti berjabat tangan, bersetubuh, berpelukan, dll, itu bisa menularkan penyakit kulit,” ujarnya. “Sedangkan kontak tidak langsung bisa terjadi karena tidur di kasur atau handuk yang dipakai orang yang terkena penyakit kulit,” imbuh dokter lulusan Ukrida ini.

Sedangkan cara penanganannya, menurutnya, selain dengan obat juga harus dengan menjaga kebersihan. “Kalau gatal jangan digaruk dan segeralah minum obat anti gatal,” kata dokter asli Cibubur Bekasi Jawa Barat ini. “Juga perlu sering-sering menjemur kasur ya,” imbuhnya.

“Berapa kali dalam seminggu kasur harus dijemur?” tanya seorang santriwati.

“Idealnya seminggu dua kali. Jangan jam 08.00 s.d. 09.00 ya, karena di waktu itu kutu nggak akan mati. Jemurlah di terik matahari yang maksimal,” katanya lagi. “Sebenarnya penyakit kulit itu sendiri nggak gawat sih. Yang gawat justru perilaku kita,” sambungnya.

Di sela-sela tanya jawab itu, M. Eman Sulaiman, Pembina Santri, menyampaikan mitologi yang berkembang di kalangan santri. “Penyakit kulit itu menjadi penanda yang sah bagi seorang santri. Belum dikatakan santri jika belum terkena penyakit kulit,” katanya sembari tertawa.

Merespon pernyataan ini, dr. Shanti menepisnya. Ia berharap, pandangan ini diubah dan cara pandangnya diperbaiki. “Itu penyakit kok. Dan mitos ini harus diperbaiki. Mindset harus diubah,” pintanya.   

Di sesi kedua, dr. Shanti menyampaikan pentingnya pengetahuan kesehatan reproduksi, sehingga diharapkan remaja tidak terjerumus pada pergaulan yang keliru. “Pengetahuan ini penting karena masih banyak remaja yang tidak mengetahuinya. Akibatnya banyak yang terjerumus dalam pergaulan yang salah,” ujarnya.

Tanda-tanda keremajaan, menjadi sorotan dr. Shanti, baik yang dialami lelaki maupun wanita. Diantara yang banyak diulas, misalnya, menstruasi yang datang rutin tiap bulan menjumpai remaja puteri. “Itu kondisi alamiah, walaupun kadang ada yang sampai kesakitan ketika datang haid,” katanya.

“Bagaimana menghilangkan rasa sakit atau sumilangen jelang datang bulan itu?” tanya seorang santri.

“Biasanya di hari pertama dan kedua itu sakit sekali. Diantara caranya dengan banyak makan sayuran, minum yang banyak dan makan makanan bergizi,” katanya.

Usai penyampaian materi, mereka diajak berkeliling pesantren dan disambung dengan makan bersama ala kadarnya. Semoga saja, kegiatan ini memberikan kemanfaatan baik untuk RS Misi maupun bagi Pondok Pesantren Qothrotul Falah dan para santri.[nhm]