Santri Nggak Boleh Cengeng

Setelah menjalani serangkaian kegiatan Masa Bimbingan Santri (MABIS) dan Perkemahan Perkenalan Santri Baru (PPSB) selama sepekan, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten Tahun Ajaran 2018-2019, baik sekolah formal, diniah kitab kuning, ekstrakuliter, maupun selainnya, resmi dimulai sejak Senin, 23 Juli 2018.

Sebagai penanda dimulainya KBM, Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah, KH. Achmad Syatibi Hanbali, membukanya secara resmi di hadapan para santri dan dewan guru, Ahad, 22 Juli 2018 malam. Bertempat di Majelis Putera, banyak nasihat yang disampaikannya.

Kiai Ibing – sapaan akrabnya – menyatakan, santri baru sudah tinggal di pesantren lebih sepekan. Karenanya, sudah semestinya waktu sepekan itu cukup untuk beradaptasi dengan suasana barunya.

“Ternyata di pondok itu enak dan nikmat. Juga menyenangkan. Kenapa? Banyak kawan, saudara, juga lika-likunya,” ujar Rais Syuriah PCNU Kab. Lebak ini. “Mudah-mudahan tidak ada lagi yang nangis atau kepingin pulang. Yang ada bagaimana kita mencari ilmu di sini,” imbuhnya.

Di pondok, ujarnya, semua bersaudara, yang karenanya harus saling mengayomi dan tidak saling menyakiti, baik perasaan maupun badan. “Kita juga harus saling mengingatkan dan memotivasi plus mengajak ke jalan kebenaran. Itulah teman yang baik,” katanya.
 
Siapapun yang datang ke pondok tidak akan mengalami kerugian, karena niatnya mencari ilmu. Bagi Kiai Ibing, mencari ilmu itu tidak cukup hanya dengan motivasi, melainkan juga aksi.

“Kalau kalian punya tujuan mencari ilmu, insya Allah rasa nggak betah akan hilang. Semua yang datang saya yakin ingin mencari ilmu, baik ilmu agama maupun dunia,” ujarnya.

“Ingin dunia harus dengan ilmu. Ingin akhirat harus dengan ilmu. Ingin dua-duanya, dunia sejahtera dan akhirat selamat, semua dengan ilmu. Saya yakin semua arahnya ke sana,” sambungnya.

Karena itu, semua santri sudah semestinya mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, terutama mental. Tak ada ilmu yang mudah diraih, apalagi dengan leha-leha. “Jangan cengeng! Harus ulet! Jangan loyo! Kalau kita punya motivasi dan semangat, semua akan didapat. Semua tergantung kita,” katanya.

Pengasuh meyakinkan, semua hal telah diatur di pesantren yang diasuhnya. Apapun yang diinginkan oleh santri, insya Allah akan dipenuhi sesuai kemampuan pesantren. “Mau belajar nulis, kitab kuning, ekstrakurikuler, semua disiapkan,” ujarnya.

“Mudah-mudahan semuanya Allah berikan keberkahan, sehingga yang diajarkan guru-guru bisa dicerna dan dipahami,” ujarnya lagi menutup tausiahnya.

Semoga, santri-santri yang belajar di pesantren ini menjadi anak-anak yang saleh dan selahah, bermanfaat bagi masyarakat dan sejahtera dunia akhirat. Amin![nhm]