Khitan Perempuan Bukan Tradisi Islam

Santri-santri dan guru-guru Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten mendapat kunjungan kehormatan Komisioner Komnas Perempuan, Prof. Nina Nurmila, Ph.D., Kamis, 9 Agustus 2018 sore. Didampingi dua staffnya, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini disambut hangat oleh keluarga pesantren, seperti Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) Nurul H. Maarif, Bendahara Bunda Saadah Syatibi, dewan guru dan para santri.

Kehadiran Prof. Nina untuk menjalin silaturahim dengan civitas pesantren sekaligus menyampaikan visi-misi Komnas Perempuan terkait isu-isu penting seputar perempuan, terutama keadilan pada perempuan yang termarjinalkan dan kekerasan pada perempuan. Bertempat di Pondok Baca Qi Falah, Prof. Nina yang tampak energik ini menyatakan, Komnas Perempuan memiliki tujuan utama untuk menghapuskan kekerasan pada perempuan.

“Untuk menghapus sama sekali tidak mudah ya, tapi setidaknya mengurangi,” ujarnya.

Dikatakannya, kekerasan yang dialami perempuan bisa terjadi dalam berbagai bentuknya: kerasan fisik, kekerasan psikologis, kekerasan seksual, kekerasan ekonomi dan sebagainya.

“Kekerasan fisik seperti pemukulan. Kekerasan psikologis bisa berupa perselingkuhan. Kekerasan seksual bisa pemerkosaan atau hubungan seksual yang terpaksa. Dan kekerasan ekonomi umpamanya tidak diberi nafkah. Termasuk kekerasan ekonomi adalah suami melarang isterinya bekerja,” kata Doktor lulusan the University of Melbourne  ini.

Untuk mengikis berbagai kekerasan pada perempuan ini, Kompas Perempuan perlu menjalin kerja sama dengan para ulama termasuk guru-guru pesantren. “Untuk itu kami hadir ke tempat ini sebagai bagian upaya mengikis kekerasan yang acapkali dialami perempuan,” ujarnya.

Prof. Nina yang mengambil konsentrasi Gender and Islamic Studies ini lalu menyampaikan tradisi khitan perempuan yang dinilainya sebagai bentuk kekerasan pada perempuan. “Itu kekerasan karena ada unsur pelukaan genital perempuan,” katanya.

Ia lalu menceritakan berbagai praktik khitan perempuan yang terjadi di bergai belahan dunia, termasuk yang marak di Indonesia. Khitan perempuan ada yang benar-benar melukai genital dan ada yang sekedar simbol.

“Seakan khitan perempuan ada legitimasi agamanya, padahal itu tradisi di luar Islam,” katanya.

Komentar cendekiawan muslim Mesir, Mahmud Syaltut, tentang khitan perempuan lalu dikutipnya. Dikatakannya, Syaltut berpandangan, khitan perempuan itu ijtihadiyah (hasil olah nalar para ulama).

“Itu tidak ada dalam al-Qur’an. Dan menurutnya, yang menyakitkan secara medis dan tidak ada manfaatnya, lebih baik ditinggalkan. Sayid Sabiq bahkan menyatakan, Hadis-hadis khitan itu tidak ada yang mencapai derajat shahih. Anaknya Rasulullah Saw juga tidak dikhitan,” katanya.

“Dalam fatwa MUI memang disebutkan, khitan perempuan itu dihukumi makrumah (kemuliaan). Tapi dalam term fikih sendiri, hukum makrumah itu tidak ada sebenarnya,” ujarnya.

Karena itu, menurutnya, khitan perempuan hanyalah tradisi di luar Islam yang justru mengandung madharat bagi perempuan. Apapun yang mengandung bahaya, sudah semestinya ditinggalkan. Bahkan dalam beberapa kasus, khitan perempuan menyebabkan kematian.

“Ini berbeda dengan khitan laki-laki yang jelas sehatnya. Kulup kemaluan laki-laki itu sarang bakteri, yang bisa menjadi penyebab kangker rahim. Khitan laki-laki bahkan bisa wajib, karena untuk menghindari kerusakan yang akan ditimbulkan.
 
Usai penyampaian pandangannya, lalu dilanjutkan sesi dialog. “Dalam kitab fikih dijelaskan mana-mana praktik khitan perempuan yang ideal dan mana yang salah dan jauh dari ketentuan fikih. Yang kita soroti sebenarnya apakah praktik yang tidak ideal atau memukul rata seolah khitan bagi perempuan tidak ada manfaatnya?” tanya Ustadz Muhammad Yusuf.

Dalam responnya, Prof. Nina mengutip Hadis Rasulullah Saw bahwa umat Islam lebih tahu urusannya sendiri (antum a’lam bi umur dunyakum). “Soal khitan perempuan tentu yang lebih paham para dokter, karena menyangkut kesehatan. Tapi jika itu tidak ada manfaatnya dan justru bahaya, maka tidak perlu dilakukan,” jawabnya.

Usai menyampaikan paparannya, Prof. Nina beranjak menemui ratusan santri yang telah menantinya di Majelis Putera. Kurang lebih 45 menit, beliau memberikan motivasi pada para santri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Para santri juga didorong untuk mengejar beasiswa luar negeri. Trik-trik sekaligus link-link beasiswa luar negeri diberikannya.

Menyimak pengalaman Prof. Nina di luar negeri yang sangat banyak, para santri berkali-kali bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi. Mereka juga tampak antusias mendengarkan detail-detail penyampaian paparannya. Semoga saja, para santri tertantang untuk meniru langkah akademik Profesor perempuan ini.[nhm]