Belajar Sambil Bermain ke Saidja-Adinda

Menimba ilmu tidak harus selalu di bangku sekolah, namun bisa juga di luar lingkungan sekolah. Begitu halnya yang dilakukan oleh santriawan dan santriawati Kelas IX MTs Qothrotul Falah pada Jum’at, 26 Oktober 2018.

Didampingi oleh beberapa dewan guru, seperti Cahyati, Fitri Aryanti, Siti komalasari, Iis Wardaniatunnisa, dan Agus Faiz, dan Ustadzah Nurjanah selaku wali kelas IX, para santri berkunjung ke Gedung Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Saidja-Adinda yang terletak di pusat Kota Rangkasbitung.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Qothrotul Falah, Ahmad Turmudzi, M.Pd., yang juga turut mendampingi kunjungan ini. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan wawasan baru kepada santri.

Dari kegiatan ini, santri diharapkan dapat mengambil banyak pelajaran dan motivasi belajar berdasarkan hasil pengamatan, ilmu, juga pengalaman yang didapat. Selain itu, kegiatan juga bertujuan untuk memberikan hiburan kepada santri dengan bisa menikmati keindahan dan kebersamaan di Kota Rangkasbitung di luar rutinitas harian di Pondok Pesantren.

Kegiatan pertama yang dilakukan di Perpustakaan Saidja-Adinda adalah Nonton Bareng di ruang Audio Visual perpustakaan. Ini merupakan ruangan layanan masyarakat Lebak yang ingin belajar dengan menonton film-film sejarah, sosial, pendidikan, atau keislaman. Perpustakaan tidak memungut biaya apapun dan cukup mengirimkan surat kunjungan kepada pihak pengelola.

Dengan penuh kegembiraan dan antusiasme, para santri memenuhi ruangan untuk menonton di area yang sudah didesain dengan sangat nyaman. Film yang diputar adalah film sosial dengan judul “Aisyah Biarkan Kami Bersaudara”. Film yang dibintangi oleh Laudya Chintya Bella dan disutradarai oleh Herwin Novianto ini memuat pelajaran yang indah tentang keragaman dan kondisi di wilayah Indonesia Timur.

Usai menonton film, beberapa santri memberikan kesannya terhadap film yang ditonton. “Filmnya bikin haru, sampe nangis di akhir filmnya. Filmnya ngajarin tentang pentingnya hidup toleransi, karena Indonesia itu banyak keragamannya”, kesan Ria Alfiah, santri asal Cilegon.

Hal yang selaras juga diungkapkan oleh Iis Nufus Nuraini santri asal Cikeusal, “Bagus Filmnya. Dari film ini kita belajar tentang pentingnya menerima perbedaan. Terutama perbedaan Agama”.

Kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi Museum Multatuli dan terakhir dengan mengenalkan santri pada dunia perpustakaan atau dunia literasi. Diharapkan santri dapat termotivasi untuk lebih aktif dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya membaca guna menambah pengetahuan dan mencapai setiap cita-citanya.[CAH]