Tausiah Maulid Nabi, Cinta Butuh Pembuktian

Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten menyelenggarakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, Kamis, 22 November 2018 malam, di Lapangan Futsal Qothrotul Falah. Hadir para santri, dewan guru dan masyarakat. Bertindak sebagai penceramah adalah KH. Bay Mahdi Mukhtar, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Mukhtarin Balaraja Banten.

Sebelum penyampaian tausiah, para hadirin disuguhi penampilan marawis dan hadrah, yang dibawakan oleh santri-santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah.

Dalam tausiahnya, Kiai Bay menyatakan, umat Islam sudah semestinya mencintai Nabinya, karena telah membimbingnya dari kegelapan menuju hidayah. “Cinta itu butuh pembuktian. Kita cinta sama seseorang saja butuh pembuktian, apalagi pada Nabi Muhammad Saw,” ujarnya.

Tanpa pembuktian, cinta hanya sebatas klaim yang tidak bisa diakui. Bagaimana membuktikan cinta kita pada Nabi Muhammad? “Tentu saja dengan mengikuti sunnah-sunnahnya,” ujarnya.

“Maulid Nabi Muhammad Saw ini juga menjadi bukti kecintaan kita pada beliau,” sambungnya. “Kalau kita tidak memperingati Maulid Nabi, dari mana kita tahu tentang kehidupan beliau?” tanyanya.

Dikatakannya, kelak di Padang Mahsyar manusia akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya. “Yang cinta pada artis akan dikumpulkan dengan para artis. Yang cinta dengan pemain bola, akan dikumpulkan bersama pemain bola. Yang cinta dengan para kiai, ulama atau orang saleh, akan dikumpulkan bersama mereka. Juga yang cinta Nabi Muhammad, akan dikumpulkan bersama beliau insya Allah,” katanya.  

Kiai Bay Mahdi juga menyampaikan pentingnya berakhlak mulia. Menurutnya, ada empat kategori akhlak yang penting dimiliki oleh setiap muslim. Pertama, akhlak kepada Allah Swt. Dalam segala hal, hendaklah kita berakhlak pada Allah Swt: dalam ibadah, muamalah dan sebagainya. Termasuk berakhlak pada Allah Swt dengan menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya.

Kedua, akhlak kepada Rasulullah Saw. Rasul adalah uswah hasanah (teladan kebaikan) yang segala ucapan, tindakan dan ketetapannya harus menjadi acuan dalam bertindak bagi umatnya. Harus banyak bershalawat dan mengikutinya, karena hal ini menjadi bukti akhlak kita padanya.

Ketiga, akhlak pada orang tua. Baik al-Quran maupun Hadis, banyak sekali memberikan arahan tentang tata cara bergaul dengan orang tua. Mereka adalah keramat bagi anak-anaknya. Perkataan anak tidak boleh menyakiti mereka. Perbuatannya tidak boleh melukainya. Membuat mereka murka, sama halnya membuat Allah Swt murka.

Keempat, akhlak kepada guru. Bagaimanapun, guru adalah orang yang paling berjasa pada kita, dalam hal keilmuan maupun pendewasaan. Kendati hanya mengajarkan kita satu huruf, akhlak kepada guru tetap harus dikedepankan.  

“Tidak ada professor kalau tidak ada guru sekolah dasar,” ujarnya.

Semoga kegiatan Maulid Nabi ini menghadirkan kecintaan yang sesungguhnya di kalangan para santri, sehingga mereka benar-benar menjadi pengikutnya yang diliputi mahabbah dalam dirinya.[nhm]