Dialog Menangkal Ujaran Kebencian dan Hoax

Sehari menjelang ujian lisan, santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten mengikuti kegiatan dialog menangkal ujaran kebencian dan hoax, pada Ahad, 02 Desember 2018. Acara yang dilangsungkan mulai pukul 09.00 WIB ini dihadiri oleh seluruh santri dan dewan guru. Kegiatan dialog diselenggarakan atas kerjasama Pondok Pesantren Qothrotul Falah dengan Fahmina Institue Cirebon.

Adapun tujuan dari diadakannya kegiatan dialog untuk santri ini adalah: Pertama, menguatkan pemahaman dan kesadaran santri akan bahaya siar kebencian (hate speech) dan hoax (berita palsu). Kedua, mendorong santri untuk menghindari segala hal yang termasuk dalam ujaran kebencian dan hoax. Ketiga, mendorong santri untuk dapat mengkampanyekan bahaya siar kebencian dan hoax di wilayah masing-masing. Keempat, mendorong santri untuk cerdas dalam menerima dan menyikapi setiap informasi terutama di media sosial.

Pihak pesantren berharap, dialog bertema “Memproteksi Santri dari Bahaya Ujaran Kebencian dan Hoax” ini dapat memberikan pencerahan kepada para santri terkait bentuk serta dampak-dampak ujaran kebencian dan hoax. Dalam sambutannya mewakili pengasuh, Kiai Aang Abdurrohman Syatibi memberikan nasihatnya kepada para santri.

“Saya mohon kepada seluruh santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah untuk menghindari ujaran kebencian dan hoax. Carilah konten-konten video, konten youtube, yang cermahnya menyejukkan. Jangan sekali-kali mencari ceramah yang menebarkan kebencian dan hoax,” ujar Putera Pertama Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah ini.  

Kegiatan yang dilaksanakan di Majelis Putera ini berjalan penuh antusias. Para santri menyimak setiap informasi dan materi yang disampaikan nara sumber. Cahyati selaku moderator acara  memimpin jalannya dialog tersebut. Dua narasumber yakni Nurul H. Ma’arif (Trainer Komunitas Bela Indonesia/Penulis) dan Agus Faiz Awwaludin (Aktivis Juru Bicara Pancasila) menyampaikan informasi dan pelajaran-pelajaran penting terkait ujaran kebencian dan hoax.

Dalam penyampaian materinya tentang hoax, Kiai Nurul menekankan kepada para santri untuk membudayakan membaca dan mengkroscek setiap informasi yang diterima.

“Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang masyarakatnya membudayakan klarifikasi. Kalau ada apa-apa biasakan klarifikasi dulu. Jangan langsung ditelan mentah-mentah. Tanpa tabayyun, semua bisa berabe,” ujar penulis buku “Islam Mengasihi, Bukan Membenci” (Mizan: 2017) ini.

Ustadz Agus Faiz selaku nara sumber tema ujaran kebencian menyampaikan hal yang tak kalah penting pada para santri. “Kita biasanya kadang lupa, asal sharing aja, tidak dulu disaring. Maka, sebelum apa-apa, tolong disaring dulu sebelum disharing. Jangan sampai kita mengumbar ujaran kebencian itu di media sosial, karena efeknya tidak hanya kepada orang tersebut, tapi juga kepada orang lain. Bisa keluarganya yang tersinggung, suku mereka yang tersingggung, dan akan banyak yang tersinggung,” tegasnya.  

Kegiatan dialog yang berlangsung selama dua jam tersebut diwarnai dengan semangat para santri untuk bertanya dan berdialog kepada kedua nara sumber. Semoga dialog menangkal ujaran kebencian dan hoax ini dapat menambah wawasan dan membuka pola pikir santri untuk lebih cerdas dalam menyikapi kedua fenomena tersebut.[Ayat]