Tak Ada Sukses tanpa Capek!

Usai menjalani liburan Smester Ganjil Tahun Pelajaran 2018-2019 selama 12 hari, Sabtu, 5 Januari 2019, santri-santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten kembali hadir di pesantren untuk menjalani Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Smester Genap.

Sebagai penanda awal KBM, para santri mendengarkan tausiah Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah, KH Ahmad Syatibi Hambali, Ahad, 6 Januari 2019 malam, di Majelis Putera Qothrotul Falah.

Dalam tausiahnya, yang juga didengarkan para guru, Pengasuh berpesan pada para santri untuk terus bersyukur pada Allah Swt yang telah mentakdirkan mereka menuntut ilmu di pesantren.

“Jadi santri itu anugerah dan takdir Allah, karena itu kita patut bersyukur. Semoga ini menjadi tanda atau isyarat, bahwa Allah akan menjadikan kalian sebagai orang-orang yang baik. Rasulullah bersabda: Siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka ia akan diberi pemahaman dalam bidang agama,” ujarnya mengutip Hadis Rasulullah Saw.

Pengasuh yang akrab disapa Kiai Ibing ini lalu berkata, banyak kaum muslim yang KTP-nya Islam atau muslim, tapi sama sekali tidak paham agama. Bahkan ironisnya, banyak diantara mereka yang sama sekali tidak bisa baca al-Qur’an.

“al-Quran itu tidak boleh dilupakan. Kalian boleh hebat setinggi apapun, tapi agama tidak boleh dilupakan. Boleh jadi fisikawan dunia atau pengusaha internasional, tapi agama dan al-Quran tidak boleh ditinggalkan,” pesannya.

Disampaikan oleh Pengasuh, tidak ada orang yang sukses, yang tidak diawali oleh rasa capek. “Mau punya uang harus capek. Mau punya ilmu harus capek. Tidak ada ilmu yang didapat dengan leha-leha,” ujarnya lagi.

Karena itu, Pengasuh menasihatkan pada para santri untuk membiasakan bangun malam bertahajjud atau berdoa. “Mintalah pada Allah. Punya kemauan apa saja harus capek dan minta pada Allah,” katanya.

“Kenapa kita harus punya ilmu?” tanya Pengasuh.

“Hidup kita ke depan akan dibimbing oleh ilmu. Dengan ilmu kita tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana yang bagus dan mana yang buruk, juga mana yang dibolehkan dan mana yang dilarang,” jawabnya.

Untuk itu, Pengasuh mengingatkan supaya seluruh santri kembali giat dan semangat belajar, sehingga mereka mendapat anugerah ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat mereka.

Di akhir tausiahnya, Pengasuh meminta para santri merenungi musibah Tsunami yang terjadi di Anyer, Carita, Tanjung Lesung, dan Lampung, akibat longsoran Gunung Anak Krakatau.

“Saudara kita di sana mendapatkan musibah yang besar. Ini harus menjadi bahan renungan untuk kita. Kenapa Allah memberikan bala' sehebat itu? Apakah kita ada jaminan selamat? al-Hamdulillah kita di pondok selalu ingat Allah, karena segala sesuatu itu Allah yang atur. Belajarlah yang sungguh-sungguh dan jangan lupakan Allah, sebab yang memberikan apapun pada kita termasuk ilmu adalah Allah,” katanya mengakhiri tausiah.[nhm]