Contohlah Kesantunan Kanjeng Nabi!

Selama tiga hari, Kamis-Sabtu, 24-26 Januari 2019, Pengurus Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ) Periode 2018-2019 menyelenggarakan Gabyar OPPQ, sebagai program rutin di akhir masa jabatan.

Pada kegiatan ini, tiga agenda utama digelar: Muhadharah Kubro, Muhafadhah Kubro dan OPPQ Award. Yang pertama adalah lomba pidato atau ceramah oleh santri menggunakan bahasa Indonesia, Arab, Inggris dan Sunda. Yang kedua lomba hafalan kitab kuning, seperti Awamil, Jurumiyah, Imrithi, Aqidatul Awam, Baiquniah, Arbain Nawawi, dan sebagainya. Dan yang ketiga penghargaan pada Pengurus OPPQ dan Santri, berupa santri Terajin, Terdisiplin, dan sebagainya.

Kegiatan yang dimulai malam Jum’at ini dibuka oleh Putera Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah, KH. Aang Abdurohman, M.Pd. Tampak hadir dewan guru baik putera maupun puteri dan para santri. Kegiatan ini juga disiarkan live melalui FB.

Dalam sambutannya, Kiai Aang – sapaan akrabnya – menyoroti banyaknya dai-dai yang menyampaikan ceramah di berbagai media massa dengan menebarkan konten kebencian, hinaan atau bahkan cacian pada kelompok yang berseberangan.

“Banyak dai yang konten ceramahnya kurang pantas. Isi ceramahnya penuh penistaan dan kebencian. Padahal belum tentu kita paling benar dan paling suci,” katanya mengingatkan.

Kiai Aang menghimbau pada para dai untuk menyontoh lelaku Rasulullah Saw. Ketika dicaci atau dihina, beliau tidak pernah meresponnya dengan cacian atau hinaan balik. Beliau justru membalasnya dengan kesantunan.

“Beliau dilempari kotoran atau dihina, namun tidak ada kata-kata menghina, mencaci atau menghujat yang keluar dari mulutnya,” ujar Kepala SMA Qothrotul Falah ini.

Karena itu, melalui forum muhadharah ini, Kiai Aang berharap, para santri belajar untuk menyampaikan mauidhah hasanah dengan cara-cara yang santun dan konten yang pantas. Tidak perlu mengikuti dai-dai yang ceramahnya penuh cacian dan makian atau hujatan.

“Nanti kalau kalian sudah menjadi penceramah di luar pondok, berilah tausiah yang sejuk,” ujarnya mengingatkan.

Semoga saja, apa yang dipesankan Kiai Aang menjadi catatan penting bagi para santri, supaya kelak menghadirkan tausiah-tausiah dengan konten yang mendamaikan bukan memanaskan. Masa depan Islam itu di tangan santri. Karena itulah, baik buruknya wajah Islam juga tergantung pada mereka.

Semoga saja, kegiatan tiga hari ini menghadirkan nilai-nilai positif bagi para santri, sehingga kelak mereka menjadi generasi Islam yang membanggakan.[nhm]