Budayakan Literasi Santri Melalui Karya Tulis

Selama dua hari, Senin-Selasa, 4-5/02/2019, Santri Kelas VI Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebah Banten menjalani Sidang Karya Tulis Ilmiah (KTI), sebagai salah satu syarat kelulusan dari pesantren.

“Senin itu sidang tertutup untuk seluruh Santri Kelas VI dan Selasa itu sidang terbuka untuk lima yang terpilih. Sidang teruka ini dilakukan di hadapan para guru dan seluruh santri,” ujar Ketua Panitia, Ustadz Agus Faiz Awaluddin.

Pada Sidang Terbuka, kegiatan berlangsung dengan khidmat. Acara yang dihadiri oleh seluruh dewan asatidz/asatidzah dan juga seluruh santri ini memberikan kesan positif terhadap peserta sidang maupun seluruh santri yang menyaksikan sidang terbuka tersebut.

“Kegiatan rutin tahunan ini sekaligus menjadi pembelajaran dan persiapan bagi semuanya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” ujar Ustadz Agus.

Pada Sidang Terbuka yang dilaksankan di Majlis Putera ini, lima penguji yang berkompeten dihadirkan sekaligus: Dr. H. Nurul H. Ma’arif, M.A, KH. Aang Abdurrahman, M.Pd, Ustadzah Dede sa’adah Syatibi, S.Th.I, Ustadz Muhammad Yusuf al-Hafidz, dan Ustadz Agus Faiz Awaludin, S.Pd.

Adapun lima santri terpilih dalam Sidang Terbuka ini adalah: 1) Siti Nursholihat asal Karawang menulis KTI berjudul “Karakteristik Muslimah Ideal dalam Pandangan Islam”; 2) Fera Fitria Zulva asal Pandeglang menulis “Urgensi Pernikahan dalam Perspektif Islam”; 3) Syifa Fathiyatul Fajriyah asal Lebak menulis “Dampak Penggunaan Zat Aditif Makanan terhadap Kesehatan”; 4) Yayang Qodiriyani Ashshofa asal Leak menulis “Solusi Cerdas Rendahnya Minat Baca Remaja”; 5) Dita Hadiyawati asal Lebak menulis “Manfaat Tahajjud Bagi Kesehatan Tubuh.”

Dalam sambutannya, Kepala SMA Qothrotul Falah menyampaikan kegembiraannya atas terlaksananya sidang terbuka ini. “Semoga ini menjadi inspirasi bagi kita semuanya. Apalagi bagi kita yang kelak berkeinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Ujian sidang Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini merupakan kegiatan tahunan Pondok Pesantren Qothrotul Falah sebagai syarat tugas akhir santri sebelum lulus dari pesantren. Proses pembuatan KTI tahun ini dimulai sejak Oktober 2018, baik itu melalui proses pengajuan judul, bimbingan dan sidang.

 “Alhamdulillah rangkaian acara berjalan dengan lancar, sekalipun masih banyak yang mesti diperbaiki. Mudah-mudahan ke depan bisa lebih baik lagi dan meriah lagi. Karena KTI ini selain menjadi karya santri, tapi juga menjadi kenang-kenangan dan pengalaman berharga bagi mereka ketika memasuki duani perkuliahan. Apalagi dengan dewan penguji sidang yang sudah menyerupai sidang S1,” ujar Ustadz Agus Faiz.

Bagi Yayang, ujian ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan. “Ini pengalaman yang luar bisa bagi saya. Selain senang, tegang dan gerogi, alhamdulillah semuanya bisa terlewati dengan lancar. Selain harus menguasai materi, saya juga perlu menguasai meja sidang yang dihadiri oleh seluruh santri dan dewan asatidz/asatidzah. Sekarang saya jadi tahu apa itu sidang KTI, baik tertutup dan terbuka. Semoga ketika saya kuliah nanti, hal ini bisa menjadi pelajaran untuk lebih baik lagi ketika sidang skripsi,” jelasnya.

“Ini pengalaman terbesar selama saya jadi santri. Harus belajar ngomong di hadapan orang banyak. Saya jadi lebih berani secara mental. Dengan kegiatan ini, saya insya Allah akan lebih baik ke depannya,” ujar Fera.

Sedangkan Syifa menyatakan, sidang ini menjadi pembelajaran bagi dirinya. “Walaupun lelah dan capek, tapi Alhamdulillah semua bisa terbayar, sehingga saya bisa masuk lima besar yang disidangkan secara terbuka,” katanya.

Rencananya, KTI ini akan dibukukan dan akan dilaunching pada saat wisuda April mendatang. Ini akan menjadi kenang-kenangan yang penting dan membanggakan.[URU]