Harlah NU, Santri Lomba Ngeliwet

Di kalangan santri salafiah, Nahdhatul Ulama (NU) sudah menjadi urat nadi tradidi keagamaan mereka. NU-lah yang mengajarkan mengenal kitab kuning, tahlul, ziarah, istigotsah, hadharat, yasinan, dan sebagainya. Dan karenanya, tradisi keagamaan yang santri sarungan ini menjadi bagian dari kekhasan keberagamaan mereka.

Karena itu, santri-santri senantiasa memiliki perhatian tersendiri untuk merayakan kelahiran NU. Pada Hari Lahir (Harlah) NU tahun ini, yang bertepatan pada 16 Rajab 1440 H/23 Maret 2019 (menurut kalender Masehi NU berdiri 31 Januari 1926), mereka mengadakan momen khusus untuk merayakannya.

Peringatan Harlah NU kali ini di Pondok Pesantren Qothrotul Falah, pada Sabtu, 23 Maret 2019, dikemas sedikit berbeda dari sebelumnya. Acara yang diawali oleh lomba ngeliwet dan diikuti seluruh santri ini berjalan meriah. Para santri begitu antusias mengikuti acara ini.

Ustadz M. Eman Sulaeman, selaku Ketua Pelaksana acara ini, mengatakan bahwa acara ngeliwet ini penting diadakan, karena ngeliwet merupakan icon tradisi khas santri-santri terdahulu. “Para santri di zaman sekarang pun perlu melestarikannya,” ujarnya.

Tidak hanya lomba ngeliwet, kegiatan Harlah NU di pesantren ini juga diisi lomba kreasi shalawat pada malam harinya. Lagu Yalal Wathan menjadi lagu wajib dalam lomba. Juga diberikan penjelasan tentang sejarah keNUan pada para santri, selain diadakan gelar istigotsah bersama.

“Acara Harlah NU yang ke 96 ini bertujuan menumbuhkan rasa cinta santri terhadap Nahdhatul Ulama yang menjunjung tinggi perdamaian agama dan juga kesatuan bangsa. Berbagai kegiatan pun diselenggarakan agar santri menikmati Hari Lahir NU ini sebagai hari yang mampu dikenang oleh para santri,” jelas Ustadz Eman Sulaeman.

Acara ini dikemas agar para santri mencintai budaya juga tradisi yang ada dalam Islam dan Indonesia, sehingga mereka paham bahwa Islam adalah agama yang ramah dengan budaya dan mencintai Indonesia.

“Melalui NU, santri diajari pentingnya menghargai budaya atau kearifan lokal, karena agama itu tidak memberangus budaya lokal. Dan inilah warisan Wali Songo yang semestinya dijaga dan jangan dirusak. Inilah asset keislaman di negeri ini, Islam Nusantara, yang wajib dijaga oleh para santri,” ujar Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) Nurul H. Maarif.

Banyak harapan dari santri untuk NU agar terus mengembangkan sayap dakwahnya di Nusantara dengan menjunjung tinggi Islam Rahmatan lil’alamin, Islam yang ramah, santun dan damai, juga menghargai sesama. [URU]