Santri Menimba Motivasi dari Perancis

Sehari setelah kedatangan santri lama, usai liburan semester genap dan Idul Fitri, Sabtu/13 Juli 2019, Pondok Pesantren Qothrotul Falah menyambut kedatangan santri baru tahun ajaran 2019-2020. Tak jauh berbeda dari tahun sebelumnya, pihak pesantren kembali diamanahi ratusan santri baru yang akan bergabung menjadi keluarga besar pesantren. Santri baru beserta keluarga yang mengantarkannya berdatangan mulai pukul 08.00 hinggga menjelang maghrib.

Pada malam harinya, tepat ba’da Isya, kegiatan santri langsung diisi sharing dan motivasi yang dihadiri oleh seluruh dewan asatidz-asatidzah dan santri. Kegiatan yang dilaksanakan di lapangan upacara ini diisi oleh Ustadz Muhammad Zen, yang juga salah satu menantu Pimpinan Pondok Pesantren Qothrotul Falah dan Ibu Rosita Sihombing, dari Perancis, yang datang menemani puteranya, Ilhan, untuk belajar al-Qur’an.

Acara sharing dan motivasi diawali oleh Ustadz Zen, yang selama bulan puasa hingga lebaran Idul Fitri kemarin bersafari dakwah di Prancis. Ia merupakan Da’i Ambassador Dompet Dhuafa. Ustadz Zen memberikan banyak motivasi dan nasihat untuk para santri, khususnya para santri yang baru saja bergabung di pesantren.

“Semua orang yang menuntut ilmu pasti diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Karena rata-rata orang yang sukses ternyata karena belajar ilmu,” ujarnya. “Kalau ingin sukses, harus istiqamah yang artinya bisa konsisten dan bisa juga artinya komitmen,” imbuhnya.

Ayah dari dua anak yang sedang menyelesaikan disertasi S3-nya ini juga menuturkan bahwa istiqoaah juga bisa diartikan dengan: I = Ikhlas, santri umumnya harus belajar ikhlas. Baik santri baru maupun santri lama. Terdapat sebuah pesan yang menarik, yaitu lebih baik menangis sebentar ditinggalkan oleh orang tua dengan harapan belajar ilmu agama, dibanding suatu hari menyesal karena tidak pernah belajar di pesantren.

S = Sabar, kita harus sabar untuk belajar dan ibadah. Orang kalau mau sukses, itu harus sabar dan menderita dulu. T = Tawadhu, artinya rendah hati atau jangan pernah sombong. Mau siapapun yang mengajari kita, anggap kita belum tahu. Maka insya Allah ilmunya akan menjadi berkah. I = Iman, dalam kitab Bidayatul Mujtahid iman itu artinya membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan dipraktekkan dalam perbuatan. Maka belajar harus diniatkan ikhlas karena Allah, sehingga apapun yang kita miliki, barang yang kita pakai, jangan mengambil hak orang lain atau mencuri karena Allah Maha Mengetahui.

Qo = Qona’ah, yaitu menerima apa saja fasilitas yang ada di pesantren. Dari mulai makanannya yang sederhana sampai hal lainnya. Baik itu baik atau tidak, maka menerima. M = Menghormati, harus menghormati guru. Baik itu kiai atau bu nyai atau ustadz-ustadzah kita yang ilmunya lebih banyak. Kita harus memuliakan ahli ilmu dan menghormati para guru di pesantren. A = Ahli ilmu. Semoga kita semua menjadi ahli ilmu. Terakhir, H = Hati-hati dalam bersikap atau berbuat.

“Dengan mengamalkan istiqamah tersebut, insya Allah santri-santri akan sukses”, tutur Ustadz Zen dengan tegas.

Sebagai statment terakhir, suami dari anak ketiga Pimpinan Ponpes Qothrotul Falah yakni Hj. Dede Mardiah tersebut juga menuturkan bahwa santri adalah orang yang luar biasa. “Orang tua sudah menghantarkan dengan ikhlas ke pesantren dengan harapan kita menjadi orang yang shaleh dan sukses. maka sudah sepatutnya para santri untuk mendo’akan kedua orang tua di rumah”, tuturnya dengan hangat.

Selanjutnya kegiatan sharing dan motivasi diserahkan kepada Ibu Rosita Sihombing, satu diatara jamaah pengajian di Perancis yang ditemuinya. Wanita asal Lampung ini sudah tinggal di Perancis selama 16 tahun sejak menikah dengan suaminya, Mr. Petric, warga negara asli Perancis. Kedatangan Ibu Rosita beserta anaknya Ilhan disambut hangat oleh keluarga besar Ponpes Qothrotul Falah.

Ilhan saat ini tengah belajar al-Quran pada Ustadz Muhammad Yusuf al-Hafidz, Pembina tahfidh, sampai akhir bulan Juli ini.  Meskipun di Perancis tidak ada pelajaran agama secara formal, Ibu Rosita berharap anaknya paham ilmu agama. Sampai-sampai, jika anaknya ingin main game, Ibu Rosita mengharuskannya setoran 10 ayat.

Selanjutnya, Ibu Rosita juga menyampaikan pengalamannya selama bergelut di dunia kepenulisan dan pengalamannya menjadi seorang muslim di Perancis. Ia mengawali sharing dengan melontarkan pertanyaan kepada para santri baru. “Siapa yang tadi nangis saat ditinggalkan oleh kedua orang tuanya?” tanyanya.

“Ilhan sudah meninggalkan orang tuanya sejak umur 9,5 tahun untuk pergi Inggris, ke Alpen dan negara lainnya,” ujarnya berharap santri baru yang masih menangis tidak menangis lagi.

Ibu yang akrab disapa Mba Ita ini juga memberi motivasi santri untuk menjadi pribadi yang pemberani dan suka membaca dan menulis. “Kalau kalian pemalu dan penakut, mulailah untuk suka membaca dan menulis”, ujar mantan wartawan Surat Kabar Mingguan Dayu Ekspress dan Tabloid Rektorat Universitas Lampung ini.

“Jangan takut dibully! Karena ada banyak orang sukses yang berawal dari bulian,” kata Bu Ita yang memiliki prinsip dendam positive itu. Ketika ia dibully, maka hatinya bertekad untuk bergiat menjadi orang pemberani.

Menurutnya, memiliki minat baca dan menulis adalah modal besar untuk bisa sukses. “Dari menulislah saya akhirnya menjadi pemberani. Saya berani menghadapi siapa saja, namun dengan kesantunan tentunya”, ujarnya. “Kalau kalian penakut dan pemalu, maka mulailah untuk rajin membaca dan menulis dengan konsisten”, imbuhnya menggebu-gebu.

Bu Ita, yang telah menulis puluhan buku ini, menyampaikan bahwa semestinya kita yang hidup di pesantren dan di negara Indonesia umumnya harus sangat bersyukur. Bersyukur bisa dengan mudah menjalani kehidupan sebagai seorang muslim. “Kami yang di Perancis sampai harus berdarah-darah untuk bisa menjalankan itu. Sepertinya untuk memakai jilbab, ke masjid sekalipun, memiliki tantangan tersendiri,” ceritanya.

Ia juga melanjutkan ceritanya bahwa untuk mendidik agama anaknya, ada tantangan dan perjuangan sendiri. Sebab itu, teman dekat novelis populer Asma Nadia ini sampai rela jauh-jauh ke Ponpes Qothrotul Falah untuk memberikan pengalaman dan memperbaiki bacaan al-Qur’an anaknya. Karenanya, Bu Ita berpesan pada para santri untuk bersyukur dan bersungguh-sungguh belajar di pesantren. Ia juga berpesan agar para santri memanfaatkan perpustakaan yang sudah cukup lengkap.

Bu Ita berharap, semoga ke depan Pondok Pesantren Qohtrotul Falah membuka program pesantren singkat untuk anak-anak muslim yang berasal dari luar negeri yang haus akan ilmu agama. Karena banyak dari mereka yang suka memanfaatkan waktu liburan sekolahnya untuk bisa belajar dan mencari pengalaman baru.

“Saya termasuk salah satunya. Saya sejak lama browsing di internet, mencari tempat yang pas untuk anak saya mengisi waktu liburan sekolahnya dengan belajar agama,” ujarnya.

Semoga sharing dan motivasi dari Ustadz Muhammad Zen dan Ibu Rosita memberikan energi positif untuk para santri agar bersungguh-sungguh dalam belajar dan mennggapai kesuksesannya masing-masing di kemudian hari.[YAT]