Ustadzah Cahyati Ikuti Pelatihan Muslimah for Change

Muslimah for Change Training adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Wahid Foundation bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Republik Indonesia. Tujuan kegiatan ini guna membangun jaringan 60 muslimah moderat alumni pesantren serta menyusun dokumen dalam mengkampanyekan Islam damai dan kesetaraan gender. Mereka datang dari berbagai macam latar belakang; aktivis komunitas, juga aktivis di pesantren atau muslimah pengelola pesantren.

Ustadzah Cahyati menjadi salah satu peserta terpilih yang berhasil lolos seleksi dari 700 peserta muslimah yang mendaftar untuk mengikuti kegiatan ini. Sarjana lulusan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten ini mewakili Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten dalam kegiatan selama tiga hari itu, Rabu-Jum’at, 17-19 Juli 2019, di Valley Hotel Bogor Jawa Barat.

Pembukaan kegiatan Muslimah for Change Training dihadiri langsung oleh Dr. Ahmad Zayadi, M.Pd. selaku Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren dan Yenny Wahid selaku Direktur Wahid Foundation.

 Dalam sambutannya Ahmad Zayadi menyampaikan tujuan dilaksanakannya kegiatan ini. “Tujuan kegiatan ini adalah untuk silaturahim, sharing experience yang kemudian membuat program ke depan”, ujarnya.

Alasan penting rekrutmen peserta dari alumni pesantren karena santri dan pesantren memiliki peran dan kekuatan yang luar biasa. “Saat ini perhatian masyarakat terhadap dunia pesantren sangat luar biasa”, imbuhnya. “Karena itu, sudah saatnya santri bisa memanfaatkan mobilitas sosial ini,” imbuhnya.

Hal tak jauh berbeda disampaikan oleh Yenny Wahid, puteri kedua Alm. KH. Abdurrahman Wahid. “Sudah sewajarnya jika santri Indonesia dianggap menjadi penerang dunia”, kata Direktur Wahid Foundation.

Menurutnya, change atau perubahan adalah ciri untuk kehidupan ke depan. Maka hanya orang yang mampu mengikuti dan melakukan perubahanlah yang dapat survive atau bertahan.

Diakhir sambutannya , Yenny menyemangati para peserta kegiatan untuk terus berupaya mewujudkan Islam ramah di Indonesia. “Santrilah atau generasi muda umumnya yang bisa menjelaskan. Santrilah yang bisa membuat konten dengan bermodalkan keilmuan dan akhlak yang diperoleh dari pesantren”, ujarnya tegas.

Di hari kedua, peserta disuguhkan berbagai materi yang disampaikan oleh para nara sumber terkait isu kesetaraan gender dan intoleransi. Ayu Kartika Dewi, selaku pemateri pertama, menceritakan pengalamannya sebagai perempuan yang aktif menginisiasi berbagai program.

Managing Direktor Indika Foundation dan Co-Founder Sabang Merauke ini uga menjelaskan apa saja tantangan perempuan untuk menjadi berdaya, perempuan pesantren agar berani menciptakan perubahan Islam Indonesia dan sebagainya.
 
Alamsyah M. Dja’far selaku Manager Program Wahid Foundation  memaparkan hasil survey Wahid Foundation tentang pandangan dan sikap kesetaraan gender, bagaimana relasi antara konservatisme gender dan intoleransi di kalangan perempuan.

Selanjutnya, Kalis Mardiasih seorang kolumnis aktif di www.detik.com serta Redaktur www.mojok.co membagi pengalamannya dalam melakukan kampanye kesetaraan gender dan toleransi melalui stand up comedy serta menjelaskan apa saja isu yang diperdebatkan terkait muslimah dan media akhir-akhir ini.

Di samping itu, perempuan yang kerap beradu komentar dengan Ustd. Felix Siauw (Pengusung Negara Khilafah dan Anti Demokrasi) ini juga menjelaskan bagaimana sebaiknya perempuan alumni pesantren merebut kembali ruang media tentang Islam dan isu keperempuanan.

Nur Rofi’ah selaku Inisiator Kongres Ulama Perempuan Indonesia memberikan materi Konsep Pemberdayaan Perempuan dalam Islam. Ia menjelaskan bagaimana konsep kesetaraan gender dalam Islam.

Materi terakhir Strategi Komunikasi dalam Pemanfaatan Sosial Media untuk Mengampanyekan Moderatisme disampaikan oleh Tidar Rahmadi dari Love Franky dan selaku Co-Founder Sabang Merauke. Tidar memberikan pengarahan tentang membangun strategi komunikasi yang efektif, apa saja komponennya serta bagaimana pemanfaatan sosial media untuk mengampanyekan moderatisme.

Mengikuti kegiatan ini, Ustadzah Cahyati merasa beruntung, apalagi telah melalui proses seleksi yang cukup ketat. “Al-hamdulillah, proses seleksi saya lalui dengan baik dan bisa terpilih menjadi salah satu peserta. Insya Allah ini akan menjadi modal sangat baik dan positif terkait pematangan saya sebagai muslimah yang hidup di negara Indonesia yang penuh keragaman,” ujarnya.[YAT]