Raih Bahagia Dunia-Akhirat dengan Kesungguhan

Pada 31 Juli 2019, Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Qothrotul Falah menginjak usia ke 28 tahun. Usia yang memberikan rekam jejak membanggakan untuk para santri dan juga alumni. Berkiprah memberikan upaya terbaik untuk masyarakat.

Milad ke 28 ini dimeriahkan oleh beberapa kegiatan pada malam hari, mulai dari tausiah pengasuh hingga pemotongan tumpeng dan penyalaan kembang api. Hadir juga para guru.
 
“Saya pribadi mengucapkan terima kasih pada panitia, yang punya inisiatif bikin acara milad. Mudah-mudahan niat baik ini menjadi cermin kecintaan pada pesantren ini. Dengan niat yang baik, maka terselenggara acara yang baik ini. Semoga Allah mencatat sebagai amal ibadah,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah di awal pembukaan nasihatnya.

“Nama Qothrotul Falah ini sederhana. Qothroh itu tetesan. Falah itu al sa’adah fi al darain. Kebahagiaan dunia akhirat. Qothrotul Falah ini tetesan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.  Semoga seluruh yang ada di bawah naungan Qothrotul Falah ini mendapat kebahagiaan dunia akhirat,” ujarnya.

Menurut Abi, sapaan akrabnya, nama Qothrotul Falah dibuat oleh ayahanda beliau, KH. Hambali. Setelah mondok di Karang Tanjung pada Kiai Emed, ke Rocek pada Kiai Malik, lalu ke Gentur pada Mama KH. Syatibi, beliau pulang dan membuat pondok yang dilengkapi diniah.

“Lalu beliau memberilah nama Qothrotul Falah. Saat itu pendidikannya hanya diniah. Tidak dilengkapi pendidikan formal. Seiring perkembangan zaman, saya pulang dari Cibereum, saya mulai istikamah di Kampung Sanding.  Alhamdulillah atas izin Allah, tahun 1991, 31 Juli,  keluar Akte Nuzwar SH. Ini atas dorongan kakak sepupu saya, Drs. Ahmad Jazuli,” jelasnya.

Tak seorangpun yang tidak berharap bahagia dunia akhirat. “Semoga kalian semua yang datang ke pondok ini bahagia dunia akhirat. Itu ditentukan oleh diri kita sendiri. Keberhasilan manusia adalah karunia Allah. Agar dapat karunia Allah kita harus berupaya. Caranya dengan nyari ilmu dan tinggal di pondok. Insya Allah,” katanya berharap.

Beliau juga memberikan penekanan pada santri supaya belajar dengan tekun dan serius. “Ilmu dicapai dengan ketekunan bukan dengan keturunan. Tidak sedikit anak jenderal atau pejabat, anaknya malas. Tidak sedikit anak ulama/kiai, anaknya tidak jadi apa apa. Bodoh! Kalau ingin meraih al falah, haruslah jidd atau sungguh-sungguh. Allah tidak akan merubah suatu kaum sampai mereka sendiri yang merubahnya,” sambungnya.

Semoga saja, segala harapan yang dituangkan dalam doa seluruh keluarga pondok di milad ini bisa terealissaikan atas izin-Nya. Acara sederhana ini lalu ditutup pemotongan tumpeng oleh Pengasuh.[URU]