Di Rumah Jangan Banyak Main!

Santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah tengah menjalani liburan panjang, selama 5-18 Januari 2020, setelah menjalani serangkaian ujian lisan dan tulisan yang melelahkan. Oleh lembaga, liburan mereka memang dimundurkan supaya lebih leluasa menjalani liburan.

“Yang lain sudah masuk, kalian baru libur. Mau ke kolam renang sudah sepi. Mau ke pantai sudah sepi. Mau nonton juga sudah sepi. Jadi kalian leluasa mau ngapain aja,” ujar Kepala SMA Qothrotul Falah, KH. Abdurohman, M.Pd., dalam arahannya sebelum perpulangan.

Sebelum perpulangan, Pengasuh Pesantren, KH. Achmad Syatibi Hambali juga memberikan arahan sebagai bekal mereka di rumah. “Santri pulang dijemput walinya ya. Tidak boleh ada santri pulang Nge-BM (menumpang kendaraan truk atau losbal – red),” ujarnya.

Kiai Ibing, sapaan akrabnya, juga meminta para santri untuk tetap menjalankan kegiatan yang biasa dijalani di pesantren. “Di rumah jangan banyak main! Jangan motoran! Dan  mohon datang ke pondok tepat waktu. Semua harus datang sebelum Ashar tanggal 18 Januari. Yang telat dihukum. Kalau nggak mau dihukum ya harus disiplin,” katanya.

Pengasuh juga menyampaikan keprihatinannya atas musibah banjir dan longsor yang terjadi di berbagai wilayah, terutama di Lebak bagian timur.

“Kawan kawan banyak kena musibah, termasuk yang di Lebak. Banyak pesantren yang kena imbasnya. Kita harus peduli. Kita sedang prihatin. Semua kehendak Allah. Mungkin teguran. Bukan hanya untuk orang sana, tapi juga untuk kita. Baik yang kena musibah maupun kita,” terangnya.

“Karena itu kita harus mendekatkan diri pada Allah. Banyak berdoa untuk keselamatan. Kalau Allah menghendaki, tidak ada yang bisa menolaknya. Semoga kita senantiasa dilindungi Allah dan terhindar dari mara bahaya. Mudah-mudahan kejadian yang menimpa saudara kita bisa jadi pelajaran kita dan memperkuat keimanan kita pada Allah,” sambungnya.

Pengasuh juga berharap santri membiasakan bangun malam untuk berdoa dan mendekatkan diri pada Allah. “Pertama yang semestinya diminta adalah Allah memberikan ilmu dan kedua doakan kedua orang tua untuk kebaikan dunia dan akhirat,” harapnya.

Tak lupa, beliau mengingatkan pada seluruh santri bahwa menuntut ilmu itu jalannya berliku. Tidak mudah. “Ingin derajat yang tinggi, berbagai kesulitan harus dilalui. Jauh orang tua. Kita harus menahan diri. Kadang kurang bekal atau sakit. Sabar itu kunci segala harapan. Dengan sabar, yang kita inginkan bisa didapat. Ilmu diraih dengan ketekunan bukan keturunan,” ujarnya.

Pada hari Ahad, 5 Januari 2020, wali santri ramai berdatangan menjemput putera-puterinya, baik yang dari wilayah sekitar maupun luar Banten. Dan di rumah, santri diberi tugas hafalan-hafalan untuk disetorkan saat mereka kembali ke pesantren.[nhm]