Wisuda Spesial Pandemi: “Banyak yang Sukses karena Keterbatasan”

Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten menggelar Wisuda XXI, Sabtu, 4 Juli 2020, di Lapangan Futsal Pesantren. Wisuda kali ini dihelat sangat sederhana, dengan persiapan yang singkat.

“Wisuda kali ini sangat spesial, karena diselenggarakan di musim Pandemi Corona,” ujar Kepala SMA Qothrotul Falah, KH. Abdurohman Syatibi, M.Pd.

Wisudawan/wati, tamu undangan khusus wali siswa yang diwisuda, guru-guru dan santri semua dihimbau mengenakan masker dan menjaga jarak, untuk mempersempit penyebaran Covid 19. Walhasil, wisuda yang berlangsung singkat dan padat ini al-hamdulillah tetap berjalan dengan baik dan lancar.

Dalam sambutannya, Camat Cikulur Dr. H. Iyan Fitriyana, M.Pd., menyatakan apresiasinya pada Pondok Pesantren Qothrotul Falah.

“Pemerintahan serba terbatas. Dan Pondok Pesantren Qothrotul Falah dengan kemandiriannya hadir membantu pemerintah mencerdaskan anak bangsa. Semoga pondok ini mampu membangun peradaban baik di desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, nusantara maupun dunia,” ujarnya.

Selain memberikan ucapat selamat secara khusus, Camat muda ini memberikan wejangan pada para wisudawan/wati untuk terus melanjutkan belajar sepanjang zaman. Apapun kelak aktivitasnya, kuliah tidak boleh ditinggalkan.

“Mengabdi dan kuliah. Mondok dan kuliah. Bekerja dan kuliah. Organisasi dan kuliah. Jika terbatas secara ekonomi, harus bersyukur. Banyak yang sukses karena keterbatasan,” katanya.

Dalam tausiahnya, Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah, KH. Ahmad Syatibi Hambali menceritakan bahwa wisuda ini nyaris tidak diadakan. “Namun atas izin Allah bisa dilaksanakan dengan maksimal. Mohon maaf mungkin tidak puas, karena situasi Covid  19. Tapi mohon dipuaskan dan dicukupkan saja ya,” katanya berharap.

Kiai Ibing – sapaan akrabnya – juga memberikan wejangan supaya wisudawan/wati terus belajar tanpa henti. “Ke depan, tantangan akan semakin berat. Karena itu, orientasinya jangan kerja dulu, tapi nyari ilmu dulu. Carilah ilmu sebanyak-banyaknya, supaya bisa menjawab tantangan dunia yang semakin keras,” harapnya.

Selain itu, Kiai Ibing juga berharap supaya umat Islam ini dibagi-bagi dalam beberapa keahlian. “Jangan semua jadi Kiai, biar nggak berebut berkat,” katanya tertawa. “Karena itu jangan merasa cukup sampai di sini,” imbuhnya.

Pada wisuda spesial ini, banyak kegiatan rutin yang dipangkas, seperti penampilan seni, sambutan tiga bahasa, launching buku dan sebagainya. “Bahkan kita sebenarnya sudah menyiapkan pentas seni angklung, namun akhirnya dibatalkan,” ujar Bunda Saadah.

Semoga saja, semua menjadi pelajaran dan kebaikan. Amin! [nhm]