Pelantikan OPPQ 2021-2022: “Hati-hati Ada Kelompok yang Ingin Menjauhkan Kita dari Ulama”

Pengurus Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ) Masa Khidmat 2021-2022 resmi dilantik, Kamis, 18 Februari 2021, malam, oleh Ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Qothrotul Falah, KH. Abdurohman Syatibi, M.Pd. dan SK Kepengurusan dibacakan oleh Ustadz Agus Faiz Awaluddin, S.Pd.

Bertempat di Majlis Putera, pelantikan ini berlangsung meriah, diisi oleh penampilan kesenian marawis, shalawat, sambutan-sambutan dan tausiah Pengasuh Pesantren, KH. Ahmad Syatibi Hambali dan dihadiri oleh para guru dan seluruh santri.

Pada suksesi OPPQ 2021-2022, Rijal dan Ria Alviah berhasil terpilih menggantikan M. Misbahudin (Warunggunung Lebak) dan Siti Nur Asiah (Cikulur Lebak). Rijal (Cikulur Lebak) mengalahkan pesaingnya, Ahmad Fauzan (Jakarta) dan Miftahudin (Citeras Lebak). Sedangkan Ria Alviah (Cilegon) mengalahkan Hana Munajiah (Cikulur) dan Asysyita Salsabila (Jakarta). Sedangkan Ustadz Subandi, S.Pd. dan Ustadzah Nining S. Wavy, S.Sos. didaulat sebagai Pembina OPPQ.

Keterpilihan mereka melalui perjalanan panjang yang meliputi penjaringan bakal calon ketua, kampanye-kampanye, debat terbuka, dan finalnya pencoblosan pada Jum’at, 12 Februari 2021. Dan puncaknya, mereka dikukuhkan secara resmi sebagai pengurus pada Kamis, 18 Februari 2021 malam.

Sebelum menjadi pengurus, personil OPPQ lainnya juga melalui proses dan uji yang panjang, baik uji akhlak, ibadah maupun hafalan-hafalan (doa-doa, hadharat, dan surat-surat pilihan).

“Ini ditujukan untuk mempersiapkan pengurus yang baru sebagai pemimpin yang benar-benar bisa menjadi teladan terbaik bagi adik-adik kelasnya. Insya Allah kami sudah melakukan yang terbaik sebagai persiapan mereka menjadi pengurus,” jelas Ustadz Andri Fauzi, S.Sos, Ketua Pemilihan OPPQ 2021-2022.

“Insya Allah sehari setelah dilantik mereka juga menjalani Latihan Menejemen Organisasi (LMO), sebagai penguatan kapasitas mereka sebagai pengurus,” imbuhnya.

Dalam pelantikan ini, selain mengucapkan selamat pada pengurus baru, Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah KH. Ahmad Syatibi Hambali juga memberikan pesan-pesan penting pada pengurus terpilih.

“Mudah-mudahan OPPQ yang baru ini lebih terarah. Pengurus yang baru harus belajar dari yang sebelumnya, supaya menjadi lebih bagus lagi. Yang bagus dipertahankan dan yang belum bagus diperbaiki,” katanya.

Belajar pada pengurus yang sebelumnya itu penting dilakukan, sehingga kekurangan yang ada pada pengurus sebelumnya bisa ditambal. “Insya Allah akan lebih baik lagi ke depan,” nasihatnya.

Pada pengurus yang demisioner, Pengasuh memberikan nasihat, supaya mereka tidak bertindak di luar aturan pondok. “Pengurus yang baru kadang tidak enak. Pengurus lama tidak boleh seenaknya. Semua aturan pondok harus tetap dijalankan pengurus lama. Jamaah, belajar, dll, semua harus tetap dijalankan kendati sudah tidak jadi pengurus. Harus eksis dan harus membantu adik-adiknya yang sekarang menjadi pengurus,” harapnya.

Pengasuh juga berharap, Pengurus yang baru menyusun program secara maksimal. “Program lama yang kurang baik direvisi atau diamandemen. Aturan itu untuk semua, bukan hanya untuk yang diatur, tapi juga untuk yang mengatur,” katanya berharap.

“Sehingga ke depan, pondok ini santrinya bisa lebih bagus lagi. Dan itu di pundak pengurus ini. Baik kuantitas maupun kualitas, harapan saya pengurus yang baru bisa membawa ke arah sana,” imbuhnya.

Pengurus, kata Pengasuh, tidak cukup hanya menjadi pengurus, tapi harus ada upaya serius membesarkan pondok ini. “Semua harus mempunyai tanggungjawab pada pondok ini supaya ke depan lebih maju lagi,” harapnya.

Untuk para santri pada umumnya, Pengasuh menyatakan bahwa santri itu orang yang beruntuk bisa tinggal di pondok, karena bisa mendekatkan pada ulama dan pada Allah. “Saat ini ada kelompok yang ingin menjauhkan kita dari ulama. Imam al-Ghazali misalnya, dikatakan biang keladi penyebar bid’ah. Na’udzu billah min dzalik. Ini orang yang berjargon kembali pada Alquran dan Sunnah. Seakan-akan Imam al-Ghazali tidak memegang Alquran dan Hadis. Ini hati-hati oleh kita semua,” nasihatnya sembari menyebut beberapa tokoh yang menghinakan Imam al-Ghazali.

“Sasarannya bukan pondok seperti kita, tapi perguruan tinggi. Mudah-mudahan kalian tidak bisa terbawa oleh arus seperti ini, karena kalian punya dosa. Bagaimanapun ulama itu pewaris para Nabi. Sebesar al-Ghazali, karyanya sangat banyak dan hebat, kita membacanya saya belum tentu mampu, kok dibilang ahli bid’ah,” ujarnya.  

Semoga saja pengurus yang baru bisa mengemban amanah dengan sebaik-baiknya, sehingga roda kepemimpinan mereka setahun ke depan memberikan banyak kemanfaatan bagi diri mereka dan pesantren.[nhm]