Alihkan Kecanduan Hape, Qothrotul Falah Terima Santri Anak-anak

Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten terus mempersiapkan segala sesuatunya untuk penerimaan santri baru usia sekolah dasar (SD) Tahun Ajaran 2021-2022. Setelah mendidik 11 gurunya ke Ponpes Assalim beberapa waktu lalu, kini persiapan lain juga terus dimatangkan.

Santri usia sekolah dasar ini nantinya akan ditampung di bawah Pondok Pesantren Anak-anak Qothrotul Falah (PPAA-QF) yang mengusung tagline “Tumbuh Cerdas Berakhlak Qur’ani”. Lembaga ini dikelola langsung oleh Dr. H. Nurul H. Maarif, M.A. (Pimpinan), Hj. Dede Saadah Syatibi, M.Pd. (Kepala Sekolah Dasar), Ahmad Turmudzi, M.Pd. (Kepala Madrasah Diniah), Nur Jannah, S.Pd. (Bendahara), Syifa F. Fajriyah (Sekretaris), M. Isnaini, S.E.I. (Media) dan sebagainya.  

Sebelum memasuki Ajaran Baru 2021-2021 pada Juli mendatang, Pengelola saat ini sudah menerima 23 santri baru Kelas VI SD, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka mukim secara penuh di pesantren. Mereka datang dari beberapa wilayah sekitar pesantren, dihantarkan orang tuanya pada Ahad, 28 Maret 2021.

“Mereka sebagai bahan latihan kita selama tiga bulan ke depan sampai datangnya ajaran baru dengan kedatangan anak-anak yang baru. Kita akan jadikan bahan evaluasi terkait menejemen, kurikulum, kegiatan harian, pengajaran, dll,” jelas Nurul H. Maarif.

Melalui kegiatan “uji coba” ini, Nurul berharap, program pondok anak-anak ke depan akan kian matang dan lebih baik. “Ketika anak-anak baru datang, insya Allah kami sudah lebih siap,” ujarnya.

Untuk 23 santri yang saat ini sudah mukim di PPAA-QF, mereka sudah menjalankan kegiatan rutin sebagaimana santri umumnya. Misalnya, mulai bangun malam untuk tahajud, berjamaah shalat wajib, belajar shalat sunnah, hafalan-hafalan surat, hafalan doa-doa dan sebagainya.

“Mereka sudah kita buatkan kurikulum dan target tersendiri sesuai jangka waktu mereka di pondok ini, yakni tiga bulan. Untuk anak-anak yang baru nanti kita juga sudah menyiapkan kurikulum dan targetnya,” ujarnya.

Di PPAA-QF ini, kata Nurul, ada dua program pendidikan yang diselenggarakan; Sekolah Dasar dan Madrasah Diniah. “Sekolah dasar ini untuk pengetahuan umum yang dikepalai Bunda Saadah. Dan Madrasah Diniah ini untuk pengetahuan agama yang dikepalai oleh Ustadz Ahmad Turmudzi,” katanya.

Disampaikan Nurul, untuk SD, lembaganya mengikuti kurikulum Kemendikbud Republik Indonesia. Bahkan pihaknya sudah berkoordinasi intensif dengan Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Lebak.

Sedangkan untuk Madin, target yang hendak dicapai adalah: Tahun I Tahsin Alquran, Tahun II Hafal Juz Amma, Surat-surat Pilihan dan Doa-doa, Tahun III Nahwu-Shorof Metode Praktis, dan Tahun IV-VI santri diberi pilihan jurusan Tahfidz Alquran dan Kitab Kuning.

“Insya Allah kami sudah menyiapkan semuanya dan insya Allah semua kegiatan akan dihandle oleh guru-guru yang memiliki kelayakan dan kecakapan,” katanya.

Dijelaskan Bunda Dede Saadah, usai pihaknya menerima 23 santri sebagai uji coba, ternyata cukup banyak pihak-pihak yang merespon pesantren anak-anak ini. Tiap hari pihaknya di-WA, ditanya tentang pembukaan pesantren anak-anak ini. Ada yang nanya brosur, nanya biaya, nanya program, dan sebagainya.

“Beberapa bahkan mau memindahkan anaknya. Tentu kenyataan ini menjadi perhatian kami untuk lebih serius lagi menyiapkan segala sesuatunya. Insya Allah kami siap menyongsong ajaran baru ini dengan lebih baik,” ujar Kepala SD Qothrotul Falah ini.

Menurut Bunda, kenapa pesantren anak-anak ini penting dihadirkan, ini karena situasi pandemik saat ini menghadirkan kekhawatiran di kalangan orang tua tentang proses belajar anak-anaknya.

“Mereka ini kan kebanyakan belajarnya daring. Kadang tidak terkontrol dengan baik oleh orang tuanya. Karena sering pegang HP, kita akui saja, anak-anak saat ini jadinya gemar main game, aplikasi hiburan dan bahkan banyak yang akhirnya kecanduan. Dari 23 anak yang sudah masuk pesantren anak-anak ini, ada beberapa yang nyaris tiap malam begadang. Bahkan sampai jam lima pagi hanya untuk main game. Ibadah atau belajar sudah tidak jadi perhatian lagi,” jelasnya.

Atas situasi ini, kata Bunda, maka pihaknya ingin membantu orang tua yang kesulitan mengarahkan anaknya. “Simpelnya, kami ingin menjadi solusi bagi anak-anak yang kehidupannya sudah mulai tidak normal, apalagi yang sampai psikiloginya gak bagus gara-gara keranjingan HP. Mereka harus didampingi dan diselamatkan masa depannya,” ujarnya.

Semoga saja, kehadiran Pondok Anak-anak Qothrotul Falah ini benar-benar menjadi solusi atas situasi yang mengkhawatirkan ini. Karena itu, doa dan dukungan dari semua pihak sangat diharapkan.[nhm]