Santri Harus Hormati Orang Tua

Kegiatan Masa Bimbingan Santri (MABIS) Pondok Pesantren Qothrotul Falah Tahun 2015-2016 diakhiri dengan muhasabah (introspeksi diri), yang diselenggarakan pada Sabtu (1 Agustus 2015) malam, di Lapangan Futsal Ki Ibing.

Hadir sebagai pemateri Gynanjar Maulana, dari Madani Training Center (MTC) Jakarta. Kehadirannya ditemani oleh dua tim supporting-nya.

Dalam kegiatan ini, seluruh santri baik yang baru maupun yang lama, termasuk para dewan guru turut hadir di arena kegiatan. Kepala SMA Qothrotul Falah, Kiai Aang Abdurohman, S.E. yang turut hadir memberikan sambutan pembuka.

Dalam sambutan singkatnya, Putera Pertama Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah ini mengharapkan seluruh santri untuk belajar dengan sungguh-sungguh, karena mereka telah dipilih Allah menjadi orang-orang yang insya Allah baik.

“Siapa dikehendati Allah kebaikan, maka dia akan diberi pemahaman di bidang agama. Insya Allah anak-anakku yang ada di lapangan ini, yang mengikuti muhasabah ini adalah yang dikehendaki baik oleh Allah,” jelasnya. “Sabar dan tekunlah dalam belajar,” sambungnya.

Pemateri, Gynanjar Maulana, menyampaikan pentingnya menjalani hidup yang terencana, tidak menunda-nunda kebaikan maupun menghindari hal-hal buruk.

“Banyak anak muda yang gemar mengkonsumni rokok atau narkoba, maka syaraf otak mereka akan rusak dan masa depannya juga rusak,” jelasnya sembari menunjukkan gambar-gambar kerusakan yang dimaksudkannya.

Gyn – sapaan akrabnya – juga mengingatkan pada seluruh santri, supaya berusaha menjadi kebanggaan orang tuanya dengan menjadi anak-anak yang berbakti. “Selagi masih ada orang tua, kita semua harus menjadi kebanggaan mereka,” katanya.

“Jangan menyakiti mereka. Jika pulang, cium tangan mereka yang kasar itu, yang digunakan untuk mencari rejeki buat kita semua,” jelasnya.

Dalam sambutan penutupnya, Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) Nurul H. Maarif mengingatkan supaya para santri tidak menyia-nyiakan keringat orang tuanya yang setiap hari bercucuran.

“Orang tua kita begitu lelah bekerja siang malam. Keringat mereka bercucuran ke tanah hanya untuk mendapatkan rejeki yang halal. Karena itu, sebagai anak-anaknya, kita tidak semestinya membiarkan keringat yang bercucuran itu jatuh sia-sia. Mari kita bangkit, belajar yang serius dan tumbuhkan akhlak yang mulia sebagai kebanggaan mereka,” ujarnya.[nhm]