Ketinggalan Upacara

Pada suatu hari, Dian, mamahnya dan juga ayahnya pergi ke pasar malam. Dia ingin membeli tas buat besok, karena dia ingin upacara.

“Mah, Dian boleh beli tas nggak?” tanya Dian.

“Emang kenapa sayang?”

“Soalnya besok kan upacara. Jadi harus bersih kata bu guru juga.”

“Ooh, ok sayangku.”

“Ih Mamah bisa aja deh. Dian jadi malu Mah.”

Dan Dian pun membeli tas yang bergambar Barbie yang sangat bagus sekali. Harganya mahal sekali, Rp. 1oo.ooo. Akhirnya mereka datang di rumah.

“Mah, jam berapa sekarang?” tanya Dian.

“Jam 12.00 malam sayang.”

“Hah? Jam 12.00 malam? Dian ngantuk banget mah.”

“Ya udah tidur sayang.”

“Engga ah, Mah. Bentar lagi, mau beres-beres buku dulu buat besok.”

“Ya udah,” kata Mamahnya.

Rupanya Dian masih semangat, karena dia ingin upacara buat besok. Tak lama kemudian, Dian pun tertidur. Dian pulas tidurnya.

Kongkorongok…… Kongkorongookkkk….

“Sudah pagi deh,” kata Dian.

“Mah…mah, mamah di mana sih?” tanya Dian lagi mencari Mamahnya.

Dian pun bertanya pada Bibi.

“Bi… Bibi,” kata Dian.

“Iya Non,” sahut Bibi.

“Mamah di mana?”

“Oh, Mamah itu lagi ke Jogja Non.”

“Hah? Ke Jogja, Bi?”

“Iya Non. Oh iya, Non ngga sekolah?”

“Emang sekarang hari apa, Bi?”

“Senin Non.”

“Emang hari Senin?”

“Iya Non. Kan Non abis dari pasar malam.”

“Oh iya, Bi. Tolong masakin makanan dong!”

“Iya Non, ok.”

“Aku pengen mandi dulu ya Bi. Soalnya buru-buru”.

Akhirnya Dian selesai mandinya. Dian pun memakan omlet dan nasi goreng. Lalu Dian berangkat ke sekolah naik motor dianterin satpam di rumahnya. Dian pun sampai di sekolah SDN 03 Patuli Indah Melati.

“Untung aja belum upacara,” kata Dian.

“Santi belum upacara, kan?” tanya Dian.

“Hah belum? Udah keles.”

“Hah, aku telat dongsin.”

“Iya, cuma kamu doang yang ketinggalan.”

“Ya udah deh ngga apa-apa.”

Huuuuuuu… Dian pun ditertawakan oleh teman-temannya. Dian terlambat karena belanja tas barunya di pasar malam terlalu kemalaman.

“Udah Dian, jangan didengerin. Yuk kita keluar aja,” kata Santi.

Net.. net.. net.. Bel pulang sekolah berbunyi.

“Dian piket…” kata temennya.

“Iya sih iya,” jawab Dian.

Dian pun piket, terus pulang dengan Santi. Dian pun sampai di rumah.

“Dadah… Santi.”

“Dah juga Dian.”

Santi pun datang di rumahnya.

Cikulur, 6 Maret 2015

*Siswi MDTA Qothrotul Falah dan Siswi Kelas III SDN 01 Sumurbandung Cikulur Lebak Banten, usia 8 tahun.