Aku Tak Perlu Iri

Baru-baru ini, anak perempuan itu terkenal di seluruh angkatan kelas lima. Dulu, dia adalah anak yang baik, pendiam, dan senang menolong. Tapi sekarang, malah terkenal jahil, angkuh, dan sangat sombong.

Nama anak ini adalah Layanila Dia’ (namanya cukup aneh, ya ...) atau biasa dipanggil Layan. Coba teman-teman perhatikan. Tambahkan huruf H di belakang Layanila. Juga ganti huruf A’(a’in) dari kata Dia’ dengan huruf A. Jadi anak ini menganggap, Dia harus ‘dilayani’. Ya ... hanya karena itu. Tapi, bukan arti nama saja yang menjadi masalah ...
***
Pagi itu, Layan menceritakan pengalaman liburan panjang semester ganjil kemarin. Semua teman-teman sekelas mengerubunginya, kecuali Andy dan Lian. Kedua sahabat itu nampak sedang memperhatikan Layan dari pojok kelas.

“Liburan kemarin aku pergi ke Malaysia. Aku menginap di hotel mewah, pergi ke pantai, dan bahkan bertemu Shea Nailisa Zea, artis Malaysia itu dan aku berfoto dengan dia!” cerita Layan angkuh, sambil sesekali menoleh panjang pada Andy dan Lian. Ia ingin memperlihatkan juga ceritanya pada mereka berdua.

“Kemarin asyik tidak liburan denganku?” tanya Andy pada Lian tanpa memperdulikan cerita basa-basi Layan.

“Iya. Terima kasih sudah mau mengajak Lian liburan ke Amerika untuk menginap dan menontonnya. Asyik sekali, Andy,” jawab Lian pelan sambil tersenyum manis.

Lian memang anak yang sederhana. Dia tidak sombong dan angkuh seperti si Layan yang sombong (menurut teman-teman di kelas Lian. Tapi kenyataannya juga begitu, kan?). Dia juga murid terpintar di kelasnya.

Liburan kenaikan kelas dua minggu kemarin, Lian memang diajak Andy ke Amerika selama 1 minggu untuk menginap di hotel mewah sekaligus jalan-jalan di Washington DC naik limosin mewah dan nonton konser Marsely Farediessa, artis cantik Amerika yang sedang tenar dengan album pertamanya. Bahkan, hotel, kursi empuk konser, semuanya VVIP! Itu hadiah dari papa Andy, karena dia mendapat rangking 3 (yang pertama Lian. Yang kedua si Layan) di kelasnya kemarin. Ayah Andy adalah seorang pekerja keras yang sering dinas ke luar Indonesia dengan gaji yang sangat besar.

Teman-teman yang tadi mengerubungi Layan, berganti mengerubungi Lian dan Andy. Mereka kelihatan tertarik dengan cerita Lian dan Andy.  

“Lihat saja nanti, Lian! Uh ... aku benci kamu!” jerit Layan kesal dalam hati sambil duduk di kursinya di bagian tengah kelas.
***
Pelajaran olah raga dimulai. Layan sudah mempunyai ide jahat untuk menjahili Lian. Hari ini ada tes berlari. Jadi, tes ini akan dilakukan saling bergantian. Lian akan berlari melawan Andy, Layan, Farah, Flo, Manny, dan Zafie.

“Ready ... and ... GO!” Pak Guru memberi aba-aba.

Lian berlari dengan cepat, melewati para lawan-lawannya yang tertinggal jauh di belakang. Untung saja dia berlari sedikit ke kiri, karena ada jebakan paku tajam yang dibuat Layan. Layan hampir sama jaraknya dengan Lian. Dia mencoba mendorong kaki Lian, ups ... tapi, Lian melompat dan ...

“Pemenangnya seri! Layanila Dia’ dan Liyanilah Beliant Zua harus tanding ulang!” kata Pak Guru mengumumkan.

“Uh ... sial! Tidak kena! Tetapi, lihat saja! Pasti berhasil, Lian!” Layan mendengus sebal.
***
Lian berlari menuju teras tanaman di dekat lapangan yang sering di duduki murid-murid sekolah melepas lelah setelah berolahraga. Sebenarnya, tempat itu bisa dikatakan ‘taman kecil’ yang mengandung banyak manfaat. Taman itu ditumbuhi pohon-pohon yang rindang, jadi tempatnya segar dan membuat orang-orang yang duduk di sana menjadi nyaman dan damai. Taman itu menjadi tempat favorit di sekolah.

Lian melirik kanan-kiri ... Nah, itu Andy! Lian bergegas menghampiri Andy yang sedang beristirahat setelah tes lari tadi.

“Lian, aku berkata sebenarnya! Tadi, hampir saja kaki kamu dijenggal si Sombong, itu! Lalu, aku melihat paku tajam di garis lapangan yang kamu lewati! Paku dan lapangan kita, kan, berwarna hijau! Jadi kalau tidak teliti, paku itu bisa terinjak! Itu pasti Layan! Dia itu curang!” protes Andy kesal atas perlakuan Layan pada Lian.

“Sudah ... tidak, apa-apa, kok! Yang penting, aku tidak terkena jebakannya,” jawab Lian tenang sambil meminum air putih di botol minumnya. Kata Pak Guru, sebaiknya setelah berolahraga meminum air putih, jadi tubuh bisa lebih sehat.

“Eits ... Pak Guru sudah masuk ke lapangan, tuh! Aku tes, lagi, ya!” lanjut Lian sambil berdiri, menutup tutup botol minumnya, lalu pamit pada Andy untuk kembali ke lapangan.

“Oke, Lian! Good, Luck, ya! Kalahkan anak caper itu!” Andy menyemangati Lian dengan semangat.

Lian hanya mengangguk dan segera berlari ke tengah lapangan.

Lian dan Layan sudah siap. Lian menempati garis kuning, sedangkan Layan menempati garis hijau.

“One ... two ... three!” Pak Guru memberi aba-aba pada Lian dan Layan.

Mendengar aba-aba itu, Lian berlari kencang, lebih cepat dari Layan. Layan mulai khawatir, kalau rencana yang dibuatnya gagal. Layan langsung menyusul Lian yang hampir di garis finish. Layan sudah hampir sejajar dengan Lian ... dan ia langsung menjegal kaki Lian!

Bruuuk! Lian terjatuh di lapangan tajam. Lian tampak tak berdaya. Sikutnya berdarah dan kakinya tergores lapangan. Anak-anak langsung mengangkat tubuh Lian yang kelihatan lemas itu ke UKS (Unit Kesehatan Sekolah).

“Bagimana keadaan Lian, Kak Hasna?” tanya Andy panik (Andy perhatian sekali pada Lian, ya!) sambil masuk ke ruang perawatan. Yang melayani UKS memang kakak-kakak kelas SMU yang mengikuti kegiatan sekolah Dokter Kecil tingkat perawatan langsung.

“Cukup parah, ya ... apalagi di lapangan tajam. Darah di kakinya juga belum berhenti. Jadi, belum bisa jalan ya, Lian! Tangan Lian juga jangan sering digerakkan, ya,” jawab Kak Hasna sambil memperban lutut Lian dengan perban putih.

“Kamu tidak apa-apa, kan, Lian?” tanya Andy cemas.

Lian hanya tersenyum lemah. Untung saja, Pak Guru sudah menghubungi Bunda Lian. Jadi, Lian sudah bisa langsung dibawa pulang untuk beristirahat.
***
Keesokan harinya, Lian sudah boleh masuk sekolah lagi walaupun dengan kursi roda. Tetapi, Layan sudah siap dengan rencana ketiga untuk Lian.

Pada saat istirahat, kelas sedang sepi, hanya Layan seorang. Yang lain kebanyakan sedang menonton permainan catur antara Kak Cellie dari kelas 6 dan Findy, murid dari kelas 5. Wah ... pasti mengasyikkan!

Setelah melirik-lirik, Layan menaruh kotak pensil baru Andy ke tas Lian (agar si Lian dituduh mencuri kotak pensil si anak paling kaya dan keren di sekolah Gesira School itu!). Tapi, sayangnya Lian dan Andy muncul dari pintu kelas sehabis pergi ke kantin dan melihat itu.

“Kok, kamu membuka tas Lian, Layan?” tanya Andy sambil menyenderkan kepalanya di daun pintu kelas sambil mengemut permen karetnya (wah ... gayanya cool sekali!). Dia mempunyai rencana membalas Layan yang cengeng itu.

“Eh, ti ... dak ... tidak, kok!” jawab Layan terbata-bata. Ia sempat terkejut karena mereka berdua datang dan masuk kelas.

“Lalu, mengapa kamu masih memegang kotak pensilku?” tanya Andy lagi sambil tersenyum misteri.

“Eng ... aku cuma pinjam, kok!” kata Layan sambil menaruh kotak pensil Andy di meja. Tetapi ...

“Aaa! PERMEN KARET!” jerit Layan ketika melihat gumpalan permen karet mainan Andy yang menempel di tangannya. Lian dan Andy tertawa puas. Rencana Layan pun gagal!
***
Rencana keempat Layan dimulai di kamar mandi. Dia menaruh ember berisi air yang dicampur 2 batu es (satu batu es satu kg. Wow!) dan 2 botol tinta biru penuh di atas pintu kamar mandi.

Setelah menyusun semuanya, dia keluar dari kamar mandi. Pintunya terbuka sedikit. Layan menunggu di luar kamar mandi, mencoba melihat kalau yang akan masuk adalah Lian. Tentu saja Lian lewat kamar mandi itu karena ia ingin ke kelasnya di lorong itu juga.

“Hai, Layan. Eits ... HandPhone BlueBerrymu kemana?” tanya Lian menyadari Layan tidak menggantung HandPhonenya di leher. Lian mundur sedikit demi sedikit.

“Oh, ya, ada di dalam!” kata Layan teringat HandPhonenya sambil membuka pintu kamar mandi. Dan tentu saja ...

BYUUUR!

“AAAAA!” jerit Layan. Sudah airnya dingin, terkena tinta biru lagi! Untung Lian mundur sedikit, kalau tidak, Lian pasti tersiram! kata Lian dalam hati sambil mengamati lantai di depan kamar mandi yang becek dengan air es berwarna biru tinta.
***
“My Student’s, beberapa hari lagi, kita akan merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia. Sekolah akan mengadakan perlombaan gabungan kelas 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 SD. Kalian bisa mendaftar lomba menggambar pada Ibu karena ibu mengajar kesenian dan semua lombanya gratis. Untuk perlombaan yang lain, kalian bisa mendaftar pada Pak Hasnie, beliau adalah panitia lombanya. Karena hari ini hari jum’at, kalian bisa mempersiapkannya 2 hari lagi,” kata Bu Guru memberitahukan.

“Yang harus kalian bawa untuk lomba menggambar adalah krayon, peralatan melukis dan meja menggambar saja. Kalau mau ikut, silahkan daftar kesini,” sambung Bu Guru. Layan, Andy, Lian dan beberapa teman lainnya langsung mendaftar karena tertarik dengan lombanya.

Kringggg! Kringggg!

“Oups, sudah bel, tuh! Ibu sudahi dulu pelajaran hari ini! Nah, kalian boleh istirahat anak-anakku!” kata Bu Guru sambil mengemasi kertas pendaftaran lomba di dalam map bergambar kelinci putih milik beliau.

Murid-muridpun bersorak dan berhamburan keluar kelas. Andy dan Lian duduk bersama-sama sambil memakan bekal masing-masing.

“Ng ... Lian, aku mau berterus terang, nih! Aku, kan, ikut lomba menggambar, tapi aku tidak tahu warna-warna campuran yang akan aku warnai. Aku hanya bisa menggambar komik dan warna dasar! Bagaimana kalau kamu ajari aku mewarnai di rumahku?” pinta Andy bersemangat sambil memotong daging asap bekalnya. Lian yang sedang menelan ayam gorengnya hampir tersedak.

“Lian?! Kamu tidak apa-apa, kan? Mau aku antar ke UKS?” tanya Andy khawatir.

“Ke rumah Andy? Lian, kan, miskin! Lian sudah banyak merepotkan Andy! Lian tidak pantas berjalan di atas lantai keramik cantik rumah Andy. Lian tidak pantas, Andy,” jawab Lian pelan dengan wajah polosnya dan menolak permintaan Andy. Andy hanya tertawa kecil.

“Lian pantas, kok. Mama dan Papaku tak akan keberatan! Kan, keluarga kamu dekat dengan keluargaku. Di rumahku, aku kesepian, karena aku anak tunggal. Pukul sepuluh besok. Ya ... mau ya, Lian? Atau mau aku jemput?” bujuk Andy setengah memaksa.

Terpaksa Lian mengangguk, menuruti permintaan Andy walaupun cukup keberatan. “Iya, deh! Tapi, Lian tidak usah dijemput. Lian naik angkutan umum saja! Lagipula, rumah Andy, kan, dekat.”. Andy mengangguk setuju.

Layan yang mendengar itu segera membuat rencana menjahili Lian lagi.

“Eh, Andy, aku saja yang ke rumahmu! Lian, kan, tidak pantas! Kita, kan, kaya! Jadi, kita bisa akrab!” oceh Layan sambil tersenyum sinis pada Lian.

Andy menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak setuju. Oke ... Lian! Aku akan buat rencana lagi. Lihat saja nanti! ujar Layan dalam hati sambil mendengus sebal dan keluar dari kelas.

Tadi, Layan sedikit mendengar pembicaraan mereka, kalau Lian mau izin ke toilet. Ketika Lian masuk ke dalam kamar mandi, Layan langsung keluar dari persembunyiannya, yaitu, di belakang dinding kelas. Di depan kamar mandi, Layan menumpahkan air agar licin. Layan langsung berjalan pelan-pelan ke kelas. Saat itu, ketika Lian keluar dari kamar mandi ...

“AAAAAAA!” Lian pingsan seketika karena kepalanya terantuk lantai. Bu Guru dan anak-anak kelas Lian yang mendengar itu langsung menolong Lian dan menghubungi orang-tua Lian.
***
Lian membuka matanya perlahan. Dia bukan di sekolah, tetapi di rumah sakit. Ya, di rumah sakit! Dilihatnya ada Bunda, Ayah, Bu Guru, dan 3 orang temannya, Karin, Halina, dan Yulia (3 anak ini menjadi saksi saat Lian terjatuh).

“Kamu sudah sadar, Lian?” tanya Bunda dan Ayah bersamaan sambil memeluk Lian.

“Lian dimana?” tanya Lian pelan dengan suara lemas.

“Lian di rumah sakit. Lian jatuh dari kamar mandi dengan luka yang parah di kepala kemarin,” jawab Halina. Lian terkejut sekali. Ke ... kemarin?

“Iya, Lian. Kira-kira kamu pingsan 24 jam atau kira-kira 1 hari penuh. Dan kamu harus istirahat seminggu penuh, ya,” sambung Karin, diikuti anggukan Yulia.

“Ya sudah kami keluar. Istirahat dulu, ya. Teman Lian sudah Bu Guru datangkan untuk menghibur Lian,” kata Bu Guru sambil keluar dari kamar pasien diikuti Bunda, Ayah, dan 3 orang teman Lian.

Lian, mengapa keadaanmu begini? Apa Lian punya salah hingga begini? Maaf, ya, Andy. Lian tak bisa mengajari Andy karena Lian sedang sakit, dalam hati Lian bergumam menyesal.

“Hai Lian. Bagaimana keadaanmu? Aku datang untuk menghiburmu!” seorang anak laki-laki membuka pintu. Itu ... Andy!

“Lian baik, kok. Terima kasih mau menjenguk Lian,” jawab Lian pelan sambil berusaha untuk duduk walau kelihatannya sangat sulit.

Andy menaruh piza nugget dan jus wortel kesukaan Lian di atas meja. Lian pun mengajari Andy dengan menunjuk warna di papan tulis kecil yang dibawa Andy. Lian juga cukup terhibur dengan cerita lucu keseharian Andy di rumah.
***

Senin pagi, Lian masuk sekolah dengan kursi roda. Dia memaksakan diri untuk ikut lomba. Ya ... yang penting Lian sudah mulai ceria, deh!

Panitia memberikan selembar kertas kosong pada setiap anak yang ikut lomba. Lian menggunakan meja tinggi. Di sebelah Lian, ada Andy. Lian mulai menggambar pemandangan. Gambarnya bagus dan indah dengan warna yang cerah.

Tapi, hati nurani Layan terus berkata, “Berbaikan dengan Lian.” Hatinya luluh melihat keadaan Lian yang sakit. Tetapi, dia takut sekali jika mengaku, bahwa dia yang membuat Lian jatuh kemarin.

Sebenarnya, Layan berteman dengan siapa saja dulu. Tapi saat Andy masuk sebagai anak baru di kelas 5 itu, Layan jadi ingin bersahabat dengan Andy. Selain paling keren di kalangan teman-temannya itu, Andy juga jago dengan permainan basket, ngedance, dan paling kaya di sekolah. Bahkan, dia juara 1 pemilihan kontes luar negeri ngedance paling keren yang diadakan di Pusat Kanada Genslo! Tentunya sekarang dia menjadi artis cilik di Indonesia.

Wajah Andy orang Indonesia, tetapi keturunan darah biru Kanada. Andy punya banyak penggemar termasuk gadis-gadis di sekolah yang ingin bersahabat dengannya. Tetapi, sayang, Andy lebih memilih bersahabat dengan Lian. Namun, Andy tetap baik hati apabila ada yang ingin menjadi temannya. Maka dari itu, Layan mulai iri dan membenci Lian. Sekarang dia ingin berbaikan. Tak ada gunanya lagi bermusuhan. Tetapi, jika dia mengakui itu, dia pasti akan dihukum dan dimarahi habis-habisan. Dia jadi melamun selama perlombaan berlangsung. Kertas yang diberikan panitia tentu saja masih kosong, putih bersih tanpa ada noda sedikit pun.
***
Inilah yang ditunggu setiap anak yang mengikuti perlombaan menggambar. Pengumuman!

“Juara ketiga lomba menggambar tahun ini adalah ... Tyas Wendyla dari kelas 4!” seru juri.

Gadis bernama Tyas yang dipanggil itu maju ke atas panggung menerima penghargaan.

“Untuk juara kedua diraih Andy Pratama Zatria dari kelas 5!” kata juri mengumumkan kalau Andy mendapat juara kedua.

“Oh, Lian ... terima kasih, ya!” bisik Andy pada Lian sambil melangkah menuju atas panggung dengan wajah senang. Lian juga ikut-ikutan bergembira atas kemenangan Andy.

“Dan yang paling ditunggu! Juara pertama lomba menggambar tahun ini adalah ... Liyanilah Beliant Zua dari kelas 5!”

Lian senang sekali. Dia naik ke panggung menerima piala, hadiah, dan uang 300 ribu rupiah! Tyas, Andy, dan Lian lalu turun dari panggung dengan tepukan tangan yang meriah.

“Lian, kita berdua menang!” kata Andy gembira.

Lalu, Andy dan Lian membuka hadiahnya. Andy mendapat 2 lusin paket cat air dan 1 kuas. Kalau Lian mendapat cat air lengkap, paket kuas yang juga lengkap dan sebuah buku gambar yang tebal dan bermerek terkenal. Tiba-tiba, Layan menghampiri mereka.

“Lian, sebenarnya ...” Layan takut sekali.

“Aku yang membuatmu jatuh di tangga dan di lapangan karena aku iri melihatmu! Kamu pintar, disukai banyak teman! Aku ingin sekali sepertimu! Karena itu, kamu menjadi begini!” Layan mengatakan yang sebenarnya (yang pantas, sih, jujur). Andy kaget sekali mendengarnya. Tetapi, Lian tersenyum penuh arti.

“Kita ini sama. Hanya berbeda sifat dan kebiasaan. Kamu punya kelebihan yang tidak dimiliki aku. Aku punya kelebihan yang tidak dimiliki kamu. Aku juga sering iri karena setiap pelajaran musik, kamu selalu mendapat nilai 10 dan kamu menjadi anak kebanggaan Miss Luviana. Nah, kita bertiga sahabatan, ya?” ujar Lian sambil memeluk Layan.

“Benarkah? Aku boleh bersahabat dengan kalian?” tanya Layan dengan mata berbinar-binar.

“Tentu saja!” jawab Andy dan Lian bersemangat.

“Terima kasih Lian, Andy. Aku akan menjadi anak yang baik sekarang!” tekad Layan sambil tersenyum teramat manis.
***

*Rifdah Zahara adalah siswi Kelas VIII MTs Qothrotul Falah dan Pegiat Pondok Baca Qi Falah asal Ciputat Tangerang Banten.