Puisi Santri Rindu Nabi

Eksistensi Perjuanganmu

Wahai kekasihku…

Dapatkah aku melanjutkan langkah kakimu
Menelusuri jejak suri tauladanmu

Kau jadi panutan, kau jadi tualadan
Kau hadir di tengah gelapnya dunia
Kau bagaikan pelita di alam jagat raya
Kau hadir di tengah peradaban jahiliah
Yang tidak beradab…

Kekasihku…
Perjuanganmu begitu berat…
Apa yang  kau lalui, kau lakukan dengan ikhlas
Tulus dan bijaksana

Sungguh mulia hatimu, ya…Rasul…
Kau tiada lelah memperjuangkan agama Allah yang hakiki

Kau tiada gentar langkahkan kakimu
Melawan segala rintangan yang menghadang
Kau tiada lelah berdakwah memberikan petunjuk
Bagi umatmu…..

Oh…Kekasihku
Ku tak bisa membayangkan betapa berat perjuanganmu…
Betapa sakit perasaanmu
Namun….Lihatlah umatmu yang tak bisa lagi
Mengikuti langkah perjuangan suri tauladanmu

Apakah kami pantas mengaku sebagai umatmu?
Apakah kami pantas bisa bersanding denganmu di surga kelak?
Apa pantas ya…Rasul?
Apakah pantas….

Jikalah engkau masih ada di tengah-tengah perubahan zaman ini
Engkau pasti menuntun kami
Jikalah engkau melihat kelakuan kami
Kau pasti akan bersedih dan kecewa
Dengan segala kemaksiatan dan kezaliman yang telah kami perbuat
Maafkan kami ya Rasul….
Maafkan kami…!!

Engkau sungguh pemimpin yang tiada tandingan
Engkau sungguh pemimpin yang sangat luar biasa
Yang diutus untuk alam jagat raya…

Allahummma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad

(Puisi Siti Nurul Humairoh, siswi Kelas X-B SMA-QF)

Muhammadku

Ketika dunia ini telah redup
Kau datang dengan membawa cahaya
Yang menerangi seluruh alam semesta ini
Dunia ini tersenyum, menanti akan kehadiranmu wahai junjunganku
Menanti akan semua akhlakmu yang mulia

Engkau tak mengenal lelah, letih hanya demi
Membela agama Rabbmu wahai junjunganku
Engkau dicaci, engkau dimaki oleh orang-orang
Yang tak bertanggungjawab wahai junjunganku
Orang-orang yang tak mengerti akan keesaan Tuhan ilahi Rabbi
Tapi apa balasanmu wahai junjunganku
Kepada orang-orang yang telah menzalimimu
Tidakkah engkau menaruh setitik amarah terhadapnya

Kesabaran, keikhlasan itulah yang selalu engkau tanamkan
Engkau berikan segala pencerahan dalam kehidupan jahiliah ini
Mengubah semua arah melintang pada kehidupan ini
Menjadi arah petunjuk yang lurus, berbinar
Yaitu jalan yang telah Tuhan ridhoi

Kini engkau telah tiada, meninggalkan cahaya imanmu
Untuk selalu dikenang dan dijalankan oleh seluruh umatmu
Hingga hari akhir nanti tiba
Wahai Nabiku, Rasulku dan junjunganku
Selamatkanlah kami, umatmu yang hina ini, dengan syafaatmu
Wahai Muhammadku

(Puisi Nining Sariningsih/Kelas X B SMA QF dan Huliatin Nufus/Kelas XI IPA SMA QF)

Ya Allah, Ya Nabi, Ya Rasul

Ya Nabi, ya Rasulallah…
Mengapa kau tinggalkan kami…?
Mengapa ya Nabi…?
Kami rindu kepadamu ya Nabi…?
Kami sangatlah rindu kepadamu

Kami ingin sekali melihat wajahmu
Kami ingin sekali mencium tanganmu
Karena hanya engkaulah pemimpin kami
Yang sangat bijaksana dan tak pernah pilih kasih

Dan hanya engkaulah pemimpin kami, maha
Jujur tak pernah bohong dan yang anti korupsi
Ya Nabi…lihatlah pemimpin zaman sekarang
Sebagian dari mereka selalu berkorupsi

Selalu berbohong pada rakyatnya, bahkan
Harta anak yatimpun mereka makan
Lihatlah ya Nabi…lihatlah! Mereka
Sungguh keterlaluan…

Ya Allah, sadarkanlah mereka ya Allah….
Jangan ambil nyawa mereka di saat mereka
Masih berbuat maksiat, zina, dll
Biarkanlah mereka bertobat dahulu ya Allah…

Dan kirimkanlah pemimpin kami seperti
Nabi Muhammad dan rasul-Mu
Karena kami hanya ingin pemimpin
Yang jujur dan tak pernah pilih kasih

Tapi…masih adakah di dunia ini
Pemimpin yang jujur ya Allah! Apakah
Masih ada? Berilah petunjuk bagi kami
Ya Allah, agar kami tidak buta

Atas semua kenikmatan-Mu ya Allah
Kami hanya bisa berdoa dan berusaha
Untuk memiliki pemimpin yang jujur
Dan yang terpenting anti dalam korupsi

Karena sekarang ini manusia hanya
Memikirkan uang, uang dan uang
Dan itulah sifat manusia
Zaman sekarang ini ya Allah…

Ya Allah…
Maafkanlah kami semua ini karena sudah
Melalaikan perintah-Mu dan selalu mengabaikan
Ajaran-Mu, maafkanlah kami
Ya Allah, sampaikanlah rindu kami kepada
Nabi-Mu dan Rasul-Mu karena hanya
Merekalah yang kau ridhoi dalam memimpin kami

(Puisi Siti Khodijah/Kelas IX MTs QF)


Muhammad Sang Peneduh Jiwa

Terdengar tangisan bahagia
Angin yang berhembus selembut sutera
Terasa hangat pelukan sang ibunda
Menyambut lahirnya seorang bayi istimewa
Bagai butir mutiara peneduh jiwa

Sang Muhammad bin Abdullah
Dengan kekurangannya, yang tidak bisa membaca
Dan menulis
Menuntunnya dalam takdir Allah SWT
Ketika dalam kesunyiannya di Gua Hira’
Mendapatkan wahyu pertama

Dakwah yang sulit diterima masyarakat
Godaan-godaan dan siksaan yang tak bisa dihindarkan
Ketika perang tanpa henti membela Islam
Yang harus diteladani umatnya hingga sekarang
Dalam memperingati maulid Nabi Muhammad SAW

Ya Allah…
Kuingin bertemu dengan sang
Peneduh jiwa itu
Walaupun hanya dalam bunga mimpi
Kekasihku ya Muhammad

(Puisi Rifdah Zahara/Kelas VII MTs QF)

Aku Mencintaimu, ya Rasul

Ya Rabb…
Izinkan aku untuk mencintai kekasihmu, Muhammad
Bantu aku untuk terus mengingatnya
Dan bershalawat kepadanya

Ya Muhammad…
Andaikan sekarang ini aku masih bisa melihatmu
Mendengarkan nasihat-nasihatmu
Apakah engkau akan menerimaku sebagai umatmu?
Begitu malu diri ini, bila mengharap rahmatmu
Karena aku tahu, diri ini masih belum layak

Tapi…
Apapun pendapatmu…
Tetap satu yang menjadi panutanku, terhadapmu
Yaitu dengan cara mengingatmu
Meneladanimu, dan bershalawat kepadamu…
Karena aku mencintaimu ya Rasul..

(Puisi Uyun Rika Uyuni/Kelas X-B SMA QF)