Pengadilan Yang Sunyi

“Mengapa kamu tidak masa bodo saja? Tak usah lagi kamu persoalkan iman-iman yang menciut dan jemaah yang raib entah ke mana. Bukankah nanti di hadapan-Nya, setiap orang memikul suratan masing-masing?”

Bilal terpuruk di mihrab. Suara-suara itu terus bergema di pikirannya. Dia tetap saja tidak bisa masa bodo dengan apa yang terjadi di kampung tempat kelahirannya. Walaupun suara-suara dalam pikirannya terus menghasutnya untuk tidak mempedulikan apa yang telah melanda kampungnya.

Bila subuh mengembun, dan maghrib memerah di pelipis langit, atau ketika isya melambaikan tangannya pada malam, tepat ketika “ihdina al-shirata al-mustaqim shirata al-ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa la al-dhallin” ia kumandangkan, tidak satupun amin menyambutnya. Sementara dhuhur dan ashar terasa sunyi.

Seperti subuh-subuh biasanya. Bilal mengimami sunyi. Hanya satwa-satwa pagi dan suara batuk nenek Syamsiyah yang terdengar olehnya. Hanya Nek Syamsiyah yang setia jadi makmumnya. Setelah shalat subuh sembari melipat sajadah. Ia menggeser duduknya. Ia selonjorkan kakinya. Ia rebahkan tubuhnya ke dinding. Suasana seperti inilah yang membuat ia mengerti mengapa dulu Nabi Muhammad SAW beristighfar 100 kali dalam sehari. Ada banyak cobaan yang bertubi-tubi menimpanya. Istighfar bisa menepis segalanya. Cuma saja, Bilal tidak bisa menempuh cobaan seorang diri. Kesendirian adalah bencana yang paling menyiksa.    

Mengabdi di tanah kelahiran! Begitulah tekadnya setelah menamatkan studinya di sebuah pesantren. Keinginan untuk melanjutkan studinya di meja kuliah, ia batalkan. Selain keterbatasan biaya, ia juga mulai memikirkan bagaimana caranya agar kehidupan beragama di tanah kelahirannya tidak semakin merosot. Seperti yang diadukan Nek Syamsiyah, satu-satunya keluarganya yang tinggal di kampung itu; bahwa semakin hari, semangat ibadah di kampungnya semakin menurun. Keterpencilan telah dibunuh kemajuan yang terus menyusup ke seluruh penjuru. Nek Syamsiyah ingin ia di kampung saja. Kepadanya ia gantungkan harapan untuk membangkitkan semangat ibadah di kampung tersebut, yang telah terancam oleh modernisasi.

Ia mencoba menuruti kehendak hatinya. Ia jalani kesibukan menjadi seorang imam di sebuah mushalla. Tapi, siapa yang mau tau pada sakit yang ia rasakan setiap tegak lurus di mihrab. Di belakangnya cuma seorang Nek Syamsiyah yang setia. Selebihnya, telah ditelan kesibukan. Entahlah, apakah karena kebutuhan hidupkah yang semakin tinggi?

“Masih memikirkan ke mana jamaah pergi?” tanya Nek Syamsiyah, perempuah 70-an itu memandang prihatin padanya. Cahaya moralnya yang sebentar lagi redup itu tersimpan kesedihan. Tampak juga betapa ia ingin menyumbangi semangat untuk Bilal. Meyakinkan bahwa ia tengah melalui ujian.

“Anak-anak kampung itu telah pergi ke negeri orang mencari nafkah. Orang-orang yang kau temui di jalan, sawah dan kebun, sebenarnya adalah sisa-sisa,” cerita Nek Syamsiyah.

“Kampung ini dulu begitu damai. Selepas subuh misalnya. Orang-orang menyambut sejuknya siraman air wudhu’. Bercengkrama di awal hari. Orang-orang membincangkan rencana-rencana masa depan. Mushalla tak pernah sepi, meski listrik belum masuk di kampung ini. Setelah shalat isya, sepanjang jalan setapak, obor-obor bergerak merangkak. Itulah tanda jemaah isya sudah pulang ke rumah masing-masing,” kisah Nek Syamsiyah yang terdengar sampai ke telinga Bilal menyerukan dengan hiruk. Sesak. Sejarah indah itu kini hanya tinggal kenangan. Kampungnya kini memang tak perlu lagi diterangi obor. Tiang-tiang listrik yang berjejer berdiri tegak siap mengirim cahaya ke rumah-rumah. Dari energinya, orang-orang bisa khusyuk di depan televisi, memegang hand phone, di sisi radio, di dekat komputer, atau menyalakan aneka elektronik lain yang wah! Namun, kebersamaan ke mana? Menghilang? Sujud, ruku’, berjamaah, tak manis lagi. Kampungnya seolah tidak dihuni manusia.

Pagi masih muda.  Kembali ia pandangi sekeliling mihrab. Tasbih masih setia bergantung di paku. Sajadahpun tetap ditempeli debu-debu. Perkampungan perlahan terang. Nek Syamsiyahpun menghampiri Bilal yang terpuruk di mihrab, yang terlarut dalam kesedihan.

“Nek, inikah isyarat akhir zaman itu? Kenapa banyak orang yang mencari kebahagiaan dunia, hingga mereka lupa akan kebahagiaan akhirat itu kelak? Mereka mencari kebahagiaan yang bersifat fana,” meluncur keluh kesah dari lidah Bilal.

“Aku tidak sedang menyesal, Nek. Meskipun waktu-waktuku habis untuk mengimami sunyi. Itu belum seberapa dibanding ujian-ujian kemanusiaan yang ditanggung orang-orang sebelum kita. Di masa lalu ada Nabi Nuh yang dikhianati anak istrinya. Nabi Musa yang diperangi Fir’aun. Dan Nabi Ibrahim yang ditentang Bapaknya. Mereka bagiku untuk membangun semangat.”

“Sudahlah nak, kita lakukan saja apa yang kita bisa. Allah tidak mungkin memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya,” Nek Syamsiyah menengahi keluhan Bilal. Kemudian Nek Syamsiyahpun berlalu. Kesibukan juga tengah menunggunya. Ada sepetak kebun pisang yang harus disiangi dari semak-semak yang tumbuh subur di sana. Semalam, sebuah parang telah ia asah untuk menyiangi semak-semak itu.

Seperti biasa, menjelang makan siang, Nek Syamsiyah akan tergopoh-gopoh dengan mukena di tangannya. Ia tentu menuju mushalla, menjadi satu-satunya makmum Bilal. Tapi setelah berwudhu, Nek Syamsiyah mempercepat langkahnya menuju mihrab. Di sana terlihat tubuh Bilal tergantung pada gulungan sajadah, yang digulung atau digantung di loteng. Nek Syamsiyah langsung menolong Bilal dengan memotong gantungan sajadah itu dengan parangnya. Tubuh Bilal jatuh ke lantai, terdengar nafasnya yang tersengal-sengal. Nek Syamsiyah memegang nadinya. Masih ada denyut terasa.

“Nak, Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Sabar Nak, jangan kamu lakukan jalan pintas yang dibenci oleh Allah,” bisik Nek Syamsiyah.[]

*Siswi Kelas XI IPA SMA Qothrotul Falah, asal Tenjo Bogor Jawa Barat