Al-Ghazali dan Lalat (Dialog Imajiner)

Ima Halimah (IH): Assalamu'alaikum, Wr. Wb.

Imam al-Ghazali (IG): Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
IH : Ya Syeikh yang agung, kulihat engkau sedang asyiknya menuliskan karangan-karanganmu. Sampai-sampai buku-buku karyamu menumpuk bak gunung seperti ini. Syeikh, bolehkah aku bertanya padamu beberapa hal?

IG : Ya ya.. Tentu saja. Ada pertanyaan apa?

IH : Begini Syeikh. Sebenarnya sejak tadi aku memperhatikanmu yang sedang asyik-asyiknya menulis karangan-karanganmu.

IG : Lalu, mengapa?

Ima: Ketika aku memperhatikanmu sedang menulis, tiba-tiba engkau berhenti sejenak. Aku lihat, ada seekor lalat yang hinggap di bejana tintamu. Ya Syeikh yang aku, aku jadi penasaran. Makanya aku ingin menanya; mengapa lalat yang hinggap di tintamu itu engkau biarkan begitu saja?

IG : Aku biarkan karena dia sedang kehausan.

IH : Tapi, kan dia mengganggumu yang sedang konsentrasi menulis? Sampai membuat engkau berhenti sejenak?

IG : Menolong makhluk Allah SWT yang sedang kehausan, yang tidak bisa ditunda lagi, itu lebih penting dari apa yang sedang aku kerjakan saat ini.

IH : Menapa engkau berkata seperti itu, ya Syeikh?

IG : Karena Allah SWT akan menolong seorang hamba, selama hamba itu menolong sesamanya. Ini juga yang disabdakan oleh Rasulullah SAW.

IH : Tapi, bukankah lalat itu hewan yang tak mengerti apa-apa dan bukankah tolong-menolong itu hanya kepada hamba Allah SWT berupa manusia saja?

IG : Menolong hamba Allah SWT ataupun makhluk Allah SWT itu sama saja.

IH : Tapi mengapa lalat itu harus meminum tintamu, padahal ada sumur di samping rumahmu yang airnya banyak dan jernih?

IG : Mungkin saja lalat itu tidak mengetahuinya atau sesungguhnya Allah SWT sedang menguji seberapa peduli aku terhadap makhluk-makhluk-Nya di tengah aktivitasku itu.

IH : Ya Syeikh, memangnya apa rencana Allah SWT bagi orang-orang  yang membiarkan saudaranya atau makhluk Allah SWT lainnya kelaparan?

IG : Allah SWT mengancam tidak akan masuk surga orang yang dirinya kenyang, sementara saudaranya kelaparan. Ini telah dikatakan dalam Hadis  baginda Rasulullah SAW. Bisa jadi, ketika aku tidak menolong makluk-makhluk Allah itu, bila Allah menghendaki mungkin tinta ini akan tumpah atau penaku patah, karena aku tidak peduli dengan makhluk-makhluk-Nya. Allah SWT juga mengancamku tidak masuk surga tentunya. Selain itu, ketika aku tidak memberikan sesuatu yang sangat dibutuhkan makhluk-Nya, itu tandanya aku orang yang bakhil dan ini sifat yang dibenci-Nya.

IH : Menurutmu, kira-kira apa yang dirasakan lalat yang sudah engkau beri minum sampai kenyang itu?

IG : Dia akan bersyukur pada Allah SWT, karena ternyata masih ada hamba Allah SWT yang peduli terhadap makhluk yang sekecil dia dan sering dipandang hina. Semoga juga, dia akan berdoa pada-Nya untuk memintakan ampunan atas dosa-dosaku.

IH : Lantas, apa yang engkau rasakan setelah menolong lalat itu?

IG : Aku merasakan ketenteraman dan kebahagiaan dalam hidup ini, karena kita masih bisa saling berbagi dan saling mengasihi sesama hamba Allah SWT. Aku juga merasakan banyak ide yang masuk ke dalam pikiranku setelah aku menolong lalat itu. Itu bukti Allah SWT menjadi lebih peduli padaku.

IH : Terima kasih ya Syeikh atas penjelasanmu. Sungguh mulianya dirimu, sampai-sampai makhluk Allah SWT sekecil itu pun engkau perhatikan. Al-hamdulillah, banyak ilmu kearifan yang aku dapat hari ini darimu. Semoga pertemuan ini berkah dan semakin sering aku alami. Ya Syeikh, kalau begitu aku pamit dulu. Wassalamu'alaikum, Wr. Wb.

IG : Ya, semoga berkah. Teruslah belajar, anakku. Carilah kearifan dari manapun ia muncul. Wa'alaikumussalam, Wr. Wb.

*Santri Kelas XII IPA SMA-QF asal Cikulur Lebak