AMERIKA SERIKAT DAN KEADILAN (Dialog Imajiner)

Dialog imajiner ini mengisahkan perjumpaan Presiden Amerika Serikat, Barack Husein Obama dengan Munawaroh, santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah, di alam maya. Dalam perjumpaannya, terjadilah perbincangan dan bahkan perdebatan seru tentang Amerika Serikat (AS) dan Keadilan.

Muna: Hei Tuan Obama, kenapa sih Amerika Serikat menjadi Negara Adidaya?

Obama: Muna, diakui atau tidak, AS itu memang Negara Adidaya, the power-nya dunia. Negara-negara dunia mengacu pada AS dari sisi politik,  ekonomi, dan juga kebebasan.

Muna: Lantas, mengapa AS yang menjadi the power-nya dunia sering kali berlaku tidak adil pada negara-negara lain?

Obama: Siapa bilang AS tidak  adil?

Muna: Buktinya banyak negara Islam ditindas AS tindas. Apa itu yang namanya keadilan?

Obama: Keadilan itu relatif. Mungkin ada negara Islam yang AS kecam, karena mereka menyeleweng dari kami.

Muna: Menyeleweng bagaimana?

Obama: Mereka jadikan negaranya sebagai sarang para teroris yang ingin menghancurkan kami, AS

Muna: Itu hanyalah pikiran buruk negara-negara Barat. Kaliat mengidentikkan negara Islam dengan sejuta teroris dan kejahatan. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Kalian hancurkan negara-negara Islam melalui lembaga keamanan kalian yang katanya kuat itu.

Obama: Tidak semua Negara Islam AS kecam kok, melainkan hanya negara Islam tertentu yang menyimpang saja.

Muna: Tapi dalam kenyataannya, AS sangat membedakan dalam segi apapun antara negara Islam dengan negara liberal.

Obam: Kami, AS, tidak pernah membeda-bedakan negara manapun. Semuanya kami pandang sama.

Muna: Bukankah Irak, Iran, Pakistan dan beberapa negara Islam lainnya AS hancurkan?

Obama: Ya, ini karena ada perbedaan pandangan yang biasa saja. Kami tidak menghancurkan kok, cuma ingin membantu mereka memperbaiki dirinya.

Muna: Bukankah sesungguhnya itu hanyalah kepentingan pribadi kalian yang ingin menguasai apa-apa yang dimiliki negara Islam dan ingin menghancurkan agama Islam secara perlahan-lahan?

Obama: Wah, tentu tidak. Kalau seperti itu, mungkin Anda-nya saja yang sentimen kepada kami.

Muna: Saya tidak sedikitpun sentimen atau apalah terhadap AS.  Yang jelas, saya banyak tidak setuju dengan konsep negara AS.

Obama: Ya, namanya pro-kontra atau perbedaan pemikiran, itu sudah tidak aneh lagi, karena itulah pandangan kami tentang kebebasan.

Muna: Saya akui itu. Tapi tidakkah Anda sebagai pemimpin baru AS, yang berjalan di atas perbedaan dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya ingin merombak peraturan dan cara fikir negara Anda ke arah yang lebih positif?

Obama: Itu sudah menjadi target dan visi misi saya dalam memimpin AS, karena itu semua sudah menjadi pondasi negara kami.

Muna: Dengan karakteristik yang angkuh?

Obama: Bukan angkuh, melainkan tegas berwibawa. Itulah AS.

Muna: Tuan, ada yang mengganjal dalam fikiran saya.

Obama: Apa?

Muna: Tentang ucapkan Anda, yaitu keadilan itu relative. Mana ada relative disangkutpautkan dengan keadilan. Keadilan ya keadilan, yang sifatnya mutlak.

Obama: Oh itu… Relative di sini maksudnya sesuai respon kita masing-masing. Adil bagi kita belum tentu adil untuk orang lain. Begitu juga sebaliknya.

Muna: Namun adil dalam agamaku, itu adalah adil yang seadil-adilnya. Tiadak ada keadilan relative.

Obama: Saya tau hal itu. Namun setiap kepala pastilah berfikiran berbeda-beda.

Muna: Tanpa ada ketegasan untuk itu?

Obama: Ada, bahwasannya adil ya adil.

Muna: Berarti adil tidak bisa disifati dengan relative kan?

Obama: Tidak begitu juga. Kita berfikir harus melihat orang lain dong, untuk orang lain dan untuk kepentingan bersama.      

Muna: Iya, dan jangan pernah kita hanya memikirkan diri sendiri.

Obama: Anda anak yang cerdas. Semoga Anda menjadi anak yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat banyak.

Muna: Amin! Terima kasih, dan semoga Tuan juga bisa menjadi pemimpin terbaik penegak keadilan sesungguhnya.

Obama: Baik, lain waktu kita berbincang-bincang lagi.

Muna: Baik, Tuan Presiden.[]

*Santri Kelas XII IPA-SMA-QF, asal Cikulur Lebak