Dialog Imajiner, Menyoal Dakwah Kontroversial Gus Miek

*Siswa Kelas XII IPA SMA Qothrotul Falah, asal Koncang Cikulur Lebak

Yessi   : Assalamu’alaikum wr. wb.
Gus Miek : Wa'alaikumussalam wr. wb.
Yessi : Gus, kenapa engkau melamun di bawah pohon rindang ini?
Gus Miek : Aku lagi mikirin kehidupan jaman sekarang.
Yessi : Kebetulan sekali, Gus. Untuk menemani waktu luangmu, aku ingin berbincang-bincang denganmu. Hitung-hitung untuk menambah pengetahuanku.
Gus Miek : Ya, silahkan saja.
Yessi : Gus, aku merasa aneh melihat cara da'wahmu selama ini. Kenapa engkau berda'wah dengan cara yang tidak lazim? Seperti berjudi, meminum-minuman keras, atau sering ke diskotik.
Gus Miek : Aku melakukannya semata-mata untuk menyadarkan mereka. Semua itu aku sesuaikan dengan jamannya.
Yessi : Bagaimana bisa menyadarkan dan bahkan mengajak mereka ke jalan yang benar, sedangkan orang yang mengajaknya ikut larut di dalamnya? 
Gus Miek : Aku memang melakukan hal itu. Aku berjudi, tapi tidak pernah memakan uang hasil judinya.
Yessi : Bagaimana orang bakalan percaya Engkau tidak memakan uang itu?
Gus Miek : Orang lain tidak pernah tahu niatku yang sebenarnya dan yang tahu hanya aku dan Allah SWT. Setiap kali aku menang dan aku kuras hartanya sampai habis, maka hasil judi itu aku buang ke sungai. Ketika mereka kehabisan modal, akhirnya mereka sadar dan kembali ke jalan Allah SWT.
Yessi : Apakah orang lain tahu uang hasil judi itu engkau buang?
Gus Miek : Mereka memang tidak tahu, karena aku sengaja membuangnya dengan melarungnya di sungai. Itu aku lakukan dengan sembunyi-sembunyi, karena jika orang lain tahu, pasti mereka akan berebut mengambilnya.
Yessi : Terus bagaimana dengan para wanita yang engkau ajak ke kamar hotel, engkau di bar atau diskotik?
Gus Miek : Itu hanya pandangan orang saja yang tidak mengerti saja. Aku tidak pernah sekalipun menyentuh anggota tubuhnya, tapi sebaliknya aku menasehati mereka dengan mengarahkannya ke jalan yang benar. Biasanya mereka menangis, karena teringat dosa-dosanya yang menumpuk. Akhirnya mereka sadar dan berusaha merubah hidupnya menjadi lebih baik lagi.
Yessi : Kenapa engkau begitu yakin dengan cara itu engkau bisa menyadarkan mereka? Bukankah engkau malah dicemooh banyak orang?
Gus Miek : Dengan niat, tekad, dan keyakinan, aku bisa, karena sebagus-bagus dan sejelek-jelek niatku hanya aku dan Allah lah yang tahu. Allah SWT pasti akan memberikan jalan padaku, walau jalan yang diberikan itu dipenuhi kerikil dan bebatuan besar, yang mungkin sekali aku akan tesandung dan mungkin akan terjatuh, tapi karena sebuah niat, tekad dan keyakian, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bangun dan terus bangkit. Akan aku tegakkan tubuh ini dan aku akan terus melangkah ke depan dengan melawan masalah-masalah yang menghadangku, hingga aku mencapai tujuan. Memang, seringkali aku mendapat cemoohan, namun aku tidak pernah menghiraukannya. Aku mendengarnya, tapi aku keluarkan lewat telinga sebelahnya. Jika aku tanggapi, semua itu hanya akan membuat tekad ini merosot
Yessi : Kenapa memilih jalan seperti itu? Kenapa tidak da'wah seperti orang pada umumnya di mimbar atau depan umum? Bukankah jalan yang engkau tempuh resikonya lebih berat?
Gus Miek : Aku sesuaikan denga jaman yang sudah merosot ini dan orang yang sudah cinta dunia. Jarang jika dak'wah di mimbar dilaksanakan. Tapi aku ingin langsung terjun ke tempatnya. Aku ingin secara langsung bukan hanya di mulut. Dengan cara itu, satu persatu akan sadar.
Yessi : Terus apa yang harus aku lakukan sebagai kaum hawa agar tidak terjerumus pada hal-hal duniawi?
Gus Miek : Sebagai kaum hawa, sebaiknya engkau lebih banyak mendekatkan diri pada Allah dan harus bisa jaga diri, dan jagalah auratmu.
Yessi : Gus, mohon maaf, aku harus pulang dulu, karena kuatir ibu menungguku di rumah.
Gus Miek : Baik, hati-hatilah di jalan.
Yessi : Terima kasih atas nasehatnya, Gus. 
Gus Miek : Sama- sama, semoga Allah memberikan petunjuk, kemudahan serta perlidungan-Nya padamu serta keluargamu. 
Yessi : Amin! Wassalamu’alaikum, wr. wb.
Gus Miek : Wa'alaikumussalam, wr. wb.