Dialog Imajiner, Ibrahim Menemukan Tuhannya

 

Toni : Assalamu'alaikum, wr. wb.
Ibrahim a.s. : Wa'alaikumussalam, wr. wb.
Toni : Wahai bapak para nabi yang mulia, bolehkah saya bertanya padamu ?
Ibrahim a.s. : Ya, silahkan, dengan senang hati. Apa yang akan kamu tanyakan padaku wahai hamba Allah?
Toni  : Wahai utusan Allah, suatu ketika engkau pernah disembunyikan di dalam gua. Apa problemnya?
Ibrahim a.s. : Aku sendiri tidak tahu persis, entah apa sebabnya. Yang aku ingat, ketika itu ada seorang raja yang sangat jahat hendak membunuh semua bayi laki-laki yang lahir ke dunia.
Toni : Astaghfirullah al-'Adzim. Kejam sekali makhluk yang hina itu. Siapakah raja yang tuan maksudkan itu?
Ibrahim a.s. : Raja Namrud.
Toni : Oh ya, aku juga pernah mendengar namanya dari buku sejarah dan dari guru-guruku di Ponpes Qothrotul Falah. Tuan, di dalam gua itu, apakah engkau tidak merasa penasaran terhadap siapa yang menciptakan dirimu dan alam jagat raya ini?
Ibrahim a.s. : Tentu saja. Rasa penasaran di hatiku sangat besar.
Toni : Rasa penasaran seperti apakah?
Ibrahim a.s. : Misalnya, aku dilarang keluar dari gua. Aku bertanya pada diriku ku sendiri; kenapa aku dilarang keluar? Ada rahasia apa sebenarnya di luar sana?
Toni : Wahai bapak seluruh agama, apakah engkau tidak berkeinginan keluar dari gua tersebut?
Ibrahim a.s. : Keinginanku sangat besar untuk keluar dari gua itu. Dan akhirnya aku keluar tanpa memikirkan resiko apa yang akan terjadi padaku dan yang harus aku hadapi.
Toni : Ketika engkau keluar, apa yang  engkau rasakan wahai utusan Allah ?
Ibrahim a.s. : Aku tercengang kagum melihat indahnya dunia ini. Gunung yang tinggi menjulang ke angkasa, langit yang kokoh mencekeram bumi, burung-burung yang beterbangan di udara, dan laut biru yang dalam membentang, dan sebagainya. Aku lantas bertanya-tanya; siapakah yang menciptakan semua keindahan ini? Dalam keyakinanku, mustahil semua ini ada dengan sendirinya. Keberadaanku di bumi ini saja karena keberadaan kedua orang tuaku.
Toni : Siapakah menurutmu saat itu yang menciptakan semuanya, wahai utusan Allah?
Ibrahim a.s. : Awalnya aku menduga bulan yang menciptakannya.
Toni : Kenapa engkau mengira bulan?
Ibrahim a.s. : Karena cahaya bulan menerangi seluruh alam ini. Menerangi kegelapan malam yang gulita. Aku sangka, dialah sumber kehidupan.
Toni : Apakah engkau yakin?
Ibrahim a.s. : Tidak, karena bulan hanya menyinari sementara waktu. Ketika fajar datang, bulan itu hilang dan cahayanya yang aku kagumi itupun musnah. Lantas digantikan cahaya lain.
Toni : Cahaya apakah itu, wahai ayah Ismail dan Ishak?
Ibrahim a.s. : Matahari. Cahayanya lebih besar dan jauh lebih terang. Aku lantas berfikir, mungkin mataharilah yang menciptakan kehidupan ini. Mungkin ia yang aku cari selama ini. Ia lebih besar bentuknya dan lebih terang cahayanya. Tetapi seketika itu, benda besar yang aku anggap hebat tiba-tiba hilang di sore hari, aku berfikir lagi; ah itu bukan Tuhan yang aku cari. Pencipta yang sesungguhnya tidak mungkin hilang.
Toni : Lantas apa yang terjadi?
Ibrahim a.s. : Dua benda yang awalnya aku anggap sumber kehidupan itu, yang ternyata kadang muncul dan lantas hilang itu, aku yakin bukan sumber kehidupan sejati. Dua benda itu juga niscaya ada yang menciptakan, yaitu yang juga menciptakan langit, gunung, laut, dan lainnya. Itulah Allah SWT.
Toni : Bagaimana engkau tahu, Allah lah pencipta semuanya?
Ibrahim a.s. : Aku merenungkan apa-apa yang telah aku tela'ah selama ini. Setiap benda atau makhluk, pasti ada yang menciptakan. Dalam keyakinanku, Tuhan tidak tidur, tidak hilang, tidak mati, kuasa dan agung atas segalanya. Akupun menyimpulkan, Tuhan itu bukan langit yang luas, bumi yang lapang, gunung yang tinggi, matahari yang bersinar di siang hari dan bulan yang menyinari gelapnya malam. Tuhan itu agung, tidak ada duanya dan aku yakin Tuhan itu dekat dan lebih dekat dari urat nadi kita. Dialah Allah yang wajib disembah seluruh makhluk di alam raya ini.
Toni : Tuan, perenunganmu sungguh membuatku merinding. Pantaslah engkau disebut sebagai Bapak Orang Bertauhid. Begitu besar pelajaran yang engkau berikan kepada kami.
Ibrahim a.s. : Itu sebabnya aku terus bersyukur, karena Allah menyelamatkan aku dari kekeliruan akidah. Aku berpesan padamu, jagalah keyakinanmu pada Allah. Inilah harta kita yang paling berharga.
Toni : Insya Allah, Tuan. Senang mendapat hikmah darimu. Bimbing kami terus, wahai utusan Allah.
Ibrahim a.s. : Insya Allah.
Toni : Sekali lagi terima kasih. Saya mohon pamit undur diri. Wassalamu'alaikum, wr. wb.
Ibrahim a.s. : Silahkan. Wa’alaikumussalam, wr. wb.[]