Dialog Imajiner, Langkah Jitu Meraih Kesuksesan

Di suatu hari, ketika Moh. Bahri, santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak yang tengah belajar di Kairo Mesir, berbaring di bawah pohon kurma yang rindang, ia mendengar suara aneh muncul dari semak-semak di bawah bukit. "Aduh… adu… aduh… Wahai pemuda, tolonglah aku!!"

Mendengar suara itu, tunduklah Eli (sapaan akrabnya) dengan mengangkat kedua tangannya seraya berdo'a: "Ya Allah, jika Engkau kehendaki aku ada di samping-Mu, maka cabutlah nyawaku dalam keadaan khusnul khatimah. Dan jika Engkau  kehendaki aku untuk terus berjihad di jalan-Mu, maka lindungilah aku dari segala perkara yang menghampiriku. Amin ya Allah!"

Seusai berdo'a, ia terkejut melihat kenyataan, bahwa suara itu adalah rintihan meminta pertolongan dari seorang bapak. Seketika, ia pun menolongnya, dengan membawanya ke tempat yang lebih aman. Dalam perjalanan menuju penginapan di kota, mereka bercakap-cakap tentang apa yang terjadi pada bapak itu.

Bapak    : Wahai pemuda yang baik, siapakah dirimu?

Bahri    : Aku adalah hamba Allah SWT yang diturunkan ke bumi ini semata-mata untuk beribadah kepada-Nya.  Lalu, apa yang terjadi padamu Bapak? Kenapa bapak bisa menderita seperti ini?

Bapak    : Semua ini berawal dari kegagalanku meraih cita-cita. Wahai pemuda baik, apakah engkau mau dan sudi menanyakan langkah-langkah sukses kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah SAW?

Bahri     : Insya Allah aku sanggup melakukannya! Akan aku temui suami Fatimah Azzahra yang terkenal sebagai Pintu Ilmu itu.

Sehari kemudian, Bahri pun menemui Sayidina Ali bin Abi Thalib, ayahanda Hasan dan Husein itu.

Bahri    : Assalamu'alaikum we. wb, wahai sahabat Rasulullah SAW.

Ali     : Wa'alaikumussalam, wr. wb., anak muda.

Bahri    : Wahai Sayidina Ali, bolehkah aku meminta waktumu barang sebentar?

Ali    : Untuk apa?

Bahri     : Aku mendapat amanah seorang Bapak yang menderita, untuk menanyamu tentang langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menggapai cita-cita.

Ali    : Oh, itu maksudmu. Sebagaimana Rasulallah SAW dan para sahabatnya, jika hendak berperang, pastilah mereka merencanakan strategi dengan matang. Kamu mau berperang untuk mencapai cita-cita, maka kamu juga harus merencanakan langkah-langkahnya. Setelah itu barulah melangkah, bukannya diam saja tanpa tindakan. Ingat saudaraku, sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga kaum itu mengubah keadaannya sendiri.

Bahri      : Lantas apa lagi?

Ali        : Kalau kamu hanya bermimpi terus membayangkan langkah-langkah itu, maka tidak aka nada yang tercapai. Yang terpenting kamu telah berusaha. Soal hasil, hanya Allah SWT yang maha tahu.

Bahri    : Andaikan gagal, aku harus bagaimana? Adakah jalan lain yang harus aku lakukan?

Ali        : Kalau kamu gagal, mungkin Allah SWT punya rencana lain yang lebih baik buatmu. Rencana yang bisa jadi tidak pernah kita duga. Untuk itu, kamu harus punya alternatif langkah lain yang kalau salah satunya tidak berhasil, kamu bisa mencoba laingkah lain itu. Yang penting, jangan pernah bosan untuk memperbaiki langkahmu. Allah melarang kita putus asa, bukan? Allah sengaja membuat kita bersusah payah terlebih dahulu, supaya hamba-hamba-Nya mengerti, hidup di dunia ini tidak mudah, apalagi jika ingin bersama Allah SWT. Semakin mendekat kepada Allah, maka semakin sulit pula cobaan yang harus dilalui.

Bahri      : Jadi, begituah cara Allah menguji hamba-Nya, Tuan?  

Ali        : Ya. Bukankah saudara-saudaramu di Indonesia punya pepatah; Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian? Kesuksesan itu dimulai dari kesulitan. Thomas Alfa Edison saja harus melakukan uji coba ribuan kali hingga berhasil menemukan listrik. Itulah hasil kerja yang ikhlas, tidak hanya terpatok pada materi, tapi pada kepuasan diri.

Bahri    : Apalagi selain itu?

Ali        : Kamu harus benar-benar sadar melangkah. Ketika mewujudkan rencanamu dengan pasti, jangan sampai ada perasaan angkuh. Sempurnakanlah ikhtiarmu, lalu serahkanlah hasilnya pada Allah SWT. Inilah tawakkal yang diajarkan agama kita. Kamu boleh yakin, tapi pada hakikatnya, semua bergantung pada-Nya, karena Dia-lah zat yang maha menentukan dan tempatnya bergantung. Kalaupun kegagalan menyapamu, maka jadikanlah itu sebagai batu loncatan untuk lebih berprestasi lagi. Jangan sampai kita lupa pada-Nya ketika diberi kesenangan. Sebaliknya, ketika diberi kesedihan kita mengemis-ngemis pada-Nya memohon ampunan.

Bahri    : Itulah watak manusia, Tuan, yang tidak mudah diluruskan.

Ali    : Tidak indah juga, kalau hidupmu sukses terus. Kamu tidak akan bisa belajar. Jika kamu tersandung batu tajam ketika melangkah, matamu bisa lebih awas lagi dan lebih berhati-hati pada bebatuan yang bakal menjegalmu. Kamu juga akan mendapatkan pengalaman yang berharga dari semua itu.

Bahri    : Nasihatmu bijak sekali Tuan, dan membuatku memiliki semangat baru untuk berhati-hati melangkah.

Ali    : Saudaraku, susunlah strategi-strategimu secara tepat yach. Semoga kamu bisa menjadi tokoh yang ketidakadaannya selalu ditanya orang banyak. Untuk rekan-rekanmu, galilah potensi kalian! Potensi yang akan  menentukan kelayakanmu hidup di dunia fana ini. Tingkatkanlah  kezuhudanmu dan seimbangkanlah kedua-duanya. Insya Allah hidupmu mulia atau mati dalam syahid.

Bahri    : Terima kasih, Tuan.  Aku mohon undur diri. Wassalamu'alaikum wr. wb.

Ali    : Wa'alaikumussalam, wr. wb.

*Muh. Bahri, adalah siswa Kelas XII IPS SMA Qothrotul Falah, asal Koncang Cikulur Lebak Banten.