Air Mata Nabi

Shalat isya’ telah aku tunaikan. Sebaik yang aku bisa. Semoga, ia bisa menjadi tanda baktiku pada-Nya. Beberapa ayat al-Qur’an juga telah aku lantunkan. Dengan perenungan sebisanya. Namun, kenikmatan shalat dan kelezatan rangkaian firman-Nya itu tak kuasa menghapus, atau setidaknya menutupi, kegelisahan hatiku. Pikiranku pun meracau. Banyak hal aku risaukan, yang mengimbas mataku sulit dipejam.

Pluk… Pluk… Pluk… Di tengah hati dan pikiranku yang tak karuan, tiba-tiba aku merasakan tepukan halus di pundakku. Tepukan yang lembut dan penuh kasih sayang. Sungguh tak pernah kurasakan tepukan mulia ini sebelumnya. Kutolehkan wajahku yang hina, untuk mencari jawab siapakah kiranya yang menepuk pundakku. Subhanallah! Sosok yang tak pernah aku kenali sama sekali. Entahlah, dari mana dia datang. Tak terdengar langkah kaki menghampiri. Pun tak terdengar geritan pintu kamar yang terbuka. Kehadirannya seakan hendak menghibur kegelisahanku. Itu saja yang kuyakini.

Tanpa bisa berkata-kata, lidah kelu, aku tatap sekujur tubuhnya. Bajunya begitu putih bersih. Rambutnya yang hitam ikal, dibungkus surban yang juga putih. Wajahnya tampan. Melebihi ketampanan Nabi Yusuf, yang menjadi idola wanita. Matanya besar dan tatapannya tajam. Senyumnya menyejukkan hati. Raut mukanya penuh kasih persahabatan dan pengayoman. Aroma tubuhnya memendar wangi bak kasturi. Belum pernah aku membayangkan, apalagi melihat lelaki setampan ini dalam nyata.

“Siapa?” batinku. “Malaikat? Ah, bukan! Lalu? Dialah junjunganku Muhammad Rasulullah SAW?” aku terus membatin. Ciri-ciri fisik yang aku lihat, persis seperti yang diilustrasikan Zainul Abidin al-‘Alawi al-Husaini dalam al-Ajwibah al-Ghaliyah fi ‘Aqidah al-Firqah al-Najiyah. Juga seperti yang diinformasikan Muhyiddin al-Khayyath dalam al-Tarikh al-Islami. Pun, sesuai informasi valid dalam karya-karya biografi Muhammad, semisal karya Husein Haikal atau Munawar Kholil.

“Benarkah dia uswatun hasanah yang diceritakan al-Qur’an itu?” batinku sembari terus merasakan kemerindingan yang dalam. “Diakah manusia teragung dan ciptaan terbaik-Nya itu, yang karenanya, alam raya ini diciptakan?” Dadaku bergetar dan lisanku kelu, tanpa bisa berkata apa-apa. Akupun semakin yakin, dialah manusia termulia sepanjang sejarah, yang oleh Michael Hart dinobatkan sebagai tokoh nomor satu dunia. Ciri-ciri yang aku lihat, sesuai belaka dengan informasi yang aku baca. “Mungkinkah sang teladan agung itu menemuiku, hamba yang penuh gelimang dosa ini?” batinku ragu.

“Aku merasakan kegelisahanmu, sahabatku,” sapanya penuh pengayoman.

Aku kaget bukan kepalang. Tanpa kutanya sepatahpun, dia telah menyapaku dan menusuk ulu hatiku dengan tepat. Bahkan dia menyapaku dengan “sahabat”. Sapaan yang begitu akrab, hangat dan intim. Sapaan itu terasa sejuk dan menenteramkan hatiku.    

“Benar Tuanku. Kegelisahan tengah menyelimuti hatiku. Kegundahanpun menggelayuti pikiranku. Tapi, siapakah Tuanku, yang tepat menyelami hatiku?” timpalku gemetaran.

“Aku hanyalah hamba-Nya yang lemah, yang tak berdaya tanpa kekuasaan-Nya,” jawabnya penuh hikmah.

“Siapakah gerangan Tuan? Tak pernah aku menatap wajah Tuan yang tampan ini. Pun tak pernah aku membaui aroma tubuh Tuan yang wangi bak kasturi. Sosok seperti Tuan hanya aku kenali melalui cerita, yang termaktub di kitab-kitab kuning yang aku pelajari di pesantren.”

“Benar sahabatku. Akulah utusan-Nya, yang engkau baca informasinya dalam kitab-kitab kuning itu. Akulah yang ditakdirkan oleh-Nya menjadi teladan bagimu dan bagi umat manusia di dunia,” katanya rendah diri.

“Engkaulah Baginda Muhammad Rasulullah? Manusia teragung yang menjadi sayyidul awwalin wal akhirin?”

Shadaqta. Iya, akulah Muhammad bin Abdullah. Allah SWT mengutusku untuk menemanimu dalam kesedihan, sekaligus menghiburmu.”

Mendengar pengakuannya yang menusuk hati itu, air mataku spontan menetes tiada henti. Aku merasakan kebahagiaan sejati yang tak pernah terbayangkan. Suaraku tersedu menahan gelombang tangis. Aku bersujud dan aku rebahkan badanku di kakinya yang harum. Tak henti-hentinya guncangan hebat menggoyang sekujur badanku.

“Ya Rasuuuullllll….,” pekikku tersedu parau. “Engkaulah teladanku yang seringkali aku lupakan. Maafkan aku yang tidak menyadari kesejatian dirimu,” kataku bergetar menyesali ketidakkenalan diriku padanya. Dengan penuh kelembutan, putera Abdullah dan Siti Aminah itu mengelus kepalaku yang berisi pikiran-pikiran kotor.

Dengan tersedu, aku terus bergumam dalam hati. Berkah apakah gerangan yang aku dapatkan malam ini? Aku hanyalah seonggok makhluk lemah yang hina. Yang kebetulan saja ditiupkan ruh oleh-Nya. Namun, atas takdir-Nya, sosok yang paling mulia itu sudi menemuiku, manusia yang paling hina di dunia ini.

“Sahabatku. Engkau adalah umatku. Kewajibanku mengayomimu, dalam setiap urusanmu. Kendati secara fisik aku telah pergi 14 abad silam, namun jiwaku terus bersama umatku,” katanya sejuk.

“Terima kasih atas perhatian Tuan yang tulus dan penuh tanggungjawab.”

“Aku tahu atas izin-Nya, apa yang tengah engkau rasakan, yang menyebabkanku diutus menemuimu. Engkau sedih dan gelisah, karena melihat umatku banyak yang telah meninggalkan ajaranku, bukan?”

“Benar belaka perkataan Tuan. Hariku-hariku terus diselimuti kesedihan karenanya. Dalam setiap kesempatan, kami selalu mengaku-aku dengan bangga sebagai umat Tuan. Mengklaim menjadikan Tuan sebagai teladan sejati. Namun, sejujurnya, kami telah banyak mengabaikan ajaran Tuan yang luhur dan bahkan tidak mengenali Tuan lagi. Apa yang muncul dari mulut kami, sungguh bertolak belakang dengan perilaku kami. Maafkan kami wahai cucu Abdul Muthalib! Kami malu, namun itulah kesejatian kami.”

“Aku telah diberitahu oleh-Nya, tentang apa yang akan terjadi pada umatku. Aku juga bersedih, namun itulah kehendak-Nya. Kita tidak boleh terus meratapinya. Kita harus mengingatkan mereka selagi masih ada kesempatan. Sebelum nyawa tersangkut ditenggorokan.”

“Benar, wahai Tuan. Tuanku, diantara perilaku kami yang paling aku sedihkan, adalah kesepelean kami pada shalat. Banyak diantara kami, yang tidak lagi bergetar menunaikan shalat. Hatinya tak lagi terpaut pada kewajiban agung ini. Bahkan, tak sedikit diantara kami yang menempatkan shalat seperti mandi atau makan saja. Yang bisa dijalankan kalau perlu dan boleh ditinggalkan jika ingin. Alasannya pun beragam, namun tiada satupun yang benar sacara syar’i. Karena lelah, sibuk, malas, sepele, dan seterusnya. Namun untuk hal-hal duniawi, kami tidak pernah lelah mengejarnya. Apapun hambatannya, kami akan menerjangnya.”

“Ya.. ya.. Itu pula yang aku sedihkan. Aku ini teladan kalian, yang sudah tidak lagi diteladani,” katanya bergetar menampakkan kesedihan yang sungguh. “Kalian mengaku sebagai umatku dan berharap syafaatku kelak, namun ajaran shalatku kalian abaikan. Namun aku tidak merasa kalian khianati. Kalian hanya lalai dan aku akan tetap membantu kalian kelak, selama kalian masih mengaku Allah SWT sebagai sesembahan dan aku sebagai Rasul-Nya.”

“Mulia sekali sifatmu, Tuan. Tak ada dendam dan kebencian di hatimu. Benar sekali informasi yang aku dapatkan dari kitab-kitab karya para penerusmu yang agung. Tidakkah Tuan marah pada kami karena pengkhiatan ini?”

“Aku ini pelayan kalian. Tidak sepantasnya aku marah, karena akan membuat jarak antaraku dan kalian. Tugasku mengajak kalian kembali kepada-Nya, bukan memarahi kalian. Namun rasa sedih tetap saja tidak bisa aku tutupi. Aku selalu takut, andaikan kelak ada umatku yang tidak berhak menghirup wanginya surga, karena Allah SWT tidak mengizinkannya. Aku kuatir dan apa yang bisa aku katakan di hadapan-Nya nanti?”

“Bukankah shalat itu amalan yang terpenting dan tidak boleh ditinggalkan dengan alasan apapun? Dalam banyak riwayat sahih, Tuan mengajari kami, shalat harus ditunaikan dalam kondisi apapun. Berdiri, duduk, berbaring, atau bahkan sekedar isyarat, shalat tetap harus dituntaskan.”

“Benar! Itulah ketentuan-Nya. Shalat itu kewajiban tertinggi, di bawah shadahat. Mungkin kalian ingat kisah pertemuanku dengan Jibril yang mengajari Iman, Islam dan Ihsan?”

“Insya Allah, kisah itu tidak akan aku lupakan. Itulah pengajaran agung. Di sana diceritakan tentang shalat sebagai rukun Islam kedua. Itulah kunci kebaikan amaliah kami.”

“Ya. Kalau shalat kalian baik, baiklah seluruh amal kalian. Kalau shalat kalian buruk, buruklah seluruh amal kalian. Aku juga pernah mengatakan, shalat itu ibadah yang pertama kali dihisab di hadapan-Nya. Shalat itu amaliah pembeda antara orang mukmin dan orang kafir.”

“Tuan, sabdamu menunjukkan betapa pentingnya shalat buat kami. Namun mohon maaf, Tuan, kami seringkali melalaikannya. Sabda-sabda Tuan yang sepenuhnya benar itu hanya lewat di telinga kami dan menguap begitu saja.”

“Shalat itu sangat penting. Kalian juga tahu, shalat adalah satu-satunya ibadah yang aku terima langsung di hadapan-Nya. Aku melintasi langit yang tujuh, ditemani Jibril. Inilah keutamaan shalat. Aku, dibantu Musa a.s., sempat bernegosiasi pada-Nya untuk mengurangi jumlah waktu shalat, dari 50 menjadi 5. Ini negosiasi yang berat, hingga 9 kali aku mondar-mandir menemui-Nya. Untuk kepentingan kalian, aku melakukannya.”

“Terima kasih, Tuan. Atas perhatian Tuan dan Musa a.s., kami diberi keringanan menjalankan kewajiban ini. Keringanan inipun tak henti-hentinya kami lalaikan.”

“Itu yang aku sedihkan. Aku telah berusaha, atas izin-Nya, menegosiasikan shalat ini, sehingga kalian bisa ringan menunaikannya. Namun ternyata, kalian masih saja sering mengabaikannya. Kalian lebih memilih melakukan hal-hal duniawi selain shalat. Kadang kalian menganggap shalat sebagai amalan yang ketinggalan zaman. Ya Allah… Ampunilah umatku! Aku berharap, kalian memegangi kewajiban shalat ini laksana memegangi bara api. Kendati panas dan tidak enak dijalankan bagi yang tidak mengetahui keagungannya, kalian tetap harus sabar memeganginya. Jika bara api ini dicampakkan, kalian akan tersesat.”

“Tuanku, kami yang hina penuh dosa ini, terus saja lalai menjalani kewajiban ini. Kami membaca, kaki Tuan bengkak-bengkat karena kekhusyu’an menunaikan shalat, padahal dosa-dosa Tuan telah diampuni dan surga menjadi jaminannya. Apa alasan Tuan begitu khusyu’nya menunaikan kewajiban ini?”

“Aku menunaikan shalat untuk bersyukur pada-Nya. Afalam akun ‘abdan syakuran? Atas karunia-Nya yang tiada tara, yang tidak bisa aku hitung dan aku balas, maka yang bisa aku lakukan hanya shalat. Itulah yang seharusnya juga kalian lakukan. Karena itu, sesungguhnya aku sedih melihat umatku mengabaikan shalat. Seakan tidak lagi merasa perlu bersyukur kepada-Nya; Dzat yang telah memberinya kehidupan. Umatku… umatku… umatku… Shalatlah kalian! Jangan abaikan shalat!”

Parau suaranya. Bergetar nadanya. Menandakan kesedihan yang menggelayuti hatinya. Itulah pemimpin sejati, yang terus-menerus menyatu dengan umatnya. Tak mampu tidur nyenyak lantaran memikirkan nasib mereka. Pun tak kuasa merasai kebahagiaan sedikitpun, jika ada satu saja umatnya yang sengsara.

Masih dengan suaranya yang parau, sesekali terbata-bata, junjungan kaum muslimin itu tampak lemah. Kesedihan begitu nampak di wajahnya, memikirkan umatnya yang telah abai menjalankan ajarannya. Tak disangka, air mata nabi meleleh di pipinya. Air mata yang menjadi penanda tanggungjawab pemimpin atas nasib umatnya. Hingga menjelang subuh, manusia agung itu masih tampak menangis, dadanya bergetar hebat, yang membuatku turut tersedu memikirkan nasibku sendiri kelak di hadapan-Nya. “Tuan benar-benar hadir untuk menemaniku dalam kesedihan,” batinku.[]     

*Santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten

Ciputat, 3 November 2011
Pukul 23.01 WIB.