Seputih Awan

Oleh Dian*)

Hari ini aku hanya mengurung diri di kamar menidurkan badanku walau memang saat ini aku tak mengantuk. Aku hanya ingin menguatkan jiwa dan ragaku untuk hari esok yang ingin segera aku lewati. Ya Tuhan, aku hanya ingin Papah dan Mamah bahagia di sana! Do’aku disetiap malam sebelum tidurku, lalu setelah itu aku terlelep dalam mimpiku.

“Dreekkk...” suara pintu kamar terbuka, terdengar jelas di telingaku.

“Happy birthday Kayla ... Happy birthday Kayla ... Happy birthday ... Happy birthday... Happy birthday Kayla,” suara yang yang selalu kurindukan, lagu ucapan selamat ulang tahun dari Papah dan Mamah.

Aku hanya terdiam, melihat mereka ada di hadapanku saat ini. Ingin rasanya kupeluk, dan tak akan kubiarkan mereka pergi.

“Ayo Kayla sayang, kamu mohon doa dulu ya ... Agar di umur yang ke-17 ini kamu menjadi lebih dewasa, dan juga menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” seru Mamah dengan lembut sambil mengelus rambutku.

Itu adalah hal yang dilakukan Mamah 1 tahun lalu ketika aku berulang tahun yang ke-17. Hal yang begitu kuat tersimpan di memoriku, tapi itu hanyalah sebatas mimpi.

Tiba-tiba aku terbangun. Ya Tuhan, ternyata itu hanyalah sebatas mimpi. Aku merasa Papah dan Mamah benar-benar hadir untuk merayakan ulang tahunku yang ke-18, setelah kecelakaan 1 tahun lalu yang merengut nyawa Papah, Mamah dan sepasang mataku. Aku janji akan menjadi dewasa dan menjadi yang terbaik. Janjiku kepada Papah dan Mamah akan aku tepati agar mereka bahagia melihatku.

“Happy birthday Kayla ...” ujar seseorang yang tepat berdiri tak jauh dari tempat tidurku. Walaupun aku tidak bisa melihat, tapi aku merasakan semuanya. Aroma lilin dan kue tart yang kurasa sangat lezat dengan aroma khas coklat. Aku baru tersadar ketika mendengar suara itu.

“Sarah ...” ujarku menebak seseorang yang ada di hadapanku. Aku tak tahu apa yang Sarah berikan padaku di hari ultahku ini. Aku berharap suatu saat nanti aku bisa melihat kembali senyum ikhlas yang selalu terbit dari wajahnya. Tiba-tiba terdengar suara orang yang sangat kubenci.

“Happy birthday Non Kayla, ayo mohon doanya sama Gusti Yang Maha Agung,” ucap Bi Surti dengan suara lirih, sambil mengusap rambutku dengan lembut, kasih sayang tulusnya yang selalu meredam emosiku, tapi tidak untuk kali ini. Di sisi lain aku sangat membenci kehadirannya yang membawa sial keluargaku dan merenggut mataku ini.

“Aku nggak suka kamu ada di kamarku. Keluar sekarang! Satu tahun yang lalu kamu yang sudah membuat ini semua terjadi. Coba kalau dulu kamu nggak tolongin aku dan membiarkan aku terbakar di dalam mobil itu, mungkin aku nggak akan sesengsara ini! Dan satu lagi, do’aku pada Tuhan di umurku yang ke-18, aku ingin bisa melihat dunia seperti dulu. Apa kamu bisa mengabulkan keinginanku? Tentu tidak, bukan? Aku ingin menjadi seperti orang normal lainnya. Tak perlu dibantu oleh siapapun untuk melakukan hal yang aku suka dan tanpa harus merepotkan orang lain. Sekarang aku nggak perlu lagi bantuan kamu! Kalau kamu mau harta yang aku punya, silahkan ambil karena itu nggak penting buat aku.” Aku tak bisa menahan emosiku. Setiap kali kudengar suaranya, hati ini terasa sakit. Telingaku mendengar jelas sekali isak tangis perempuan paruh baya itu.

“Bibi tidak ingin itu semua. Niat Bibi tulus menjaga Non Kayla. Bibi janji akan pergi dari kehidupan Non Kayla dan nggak akan ganggu lagi. Bibi yakin bahwa do’a Non Kayla akan terwujud sebagai kado istimewa. Maafkan saya Non, selama ini saya banyak salah sama Non. Saya pamit pergi,” jawab Bi Surti lirih, dengan suara isak tangis yang jelas terdengar di telingaku.

“Ya, silahkan pergi dan jangan pernah kembali lagi ke rumah ini. Bagus deh! Nggak penting juga kamu ada di kehidupanku. Tenang saja, untuk gaji kamu akan tetap aku bayar semestinya, bahkan lebih, sesuai apa yang kamu inginkan selama ini; hartaku kan?” ujarku dengan emosi yang tak bisa lagi kutahan.

Sungguh setiap kata kasar yang tadi terlontar hanyalah semata-mata untuk meluapkan amarah saja. Hatiku menjerit menangis tak pernah akan rela jika Bi Surti pergi karena aku sangat menyanyanginya. Dia yang selalu tulus setia menjagaku selama keadaanku yang harus bergantung pada orang lain. Bi Surtilah orang tersebut. Tak bisa kupungkiri selalu saja kuingat kembali kenangan pahit yang menghancurkan seluruh impianku.

“Kayla ... kamu apa-apaan kasar sama Bi Surti,” tegas Sarah.

“Semua tindakanku ini benar. Dia pantas mendapatkan itu semua,” ujarku tanpa memperdulikan kepergian Bi Surti.

1 tahun yang lalu ...

Seperti biasa keadaan rumah sepi. Papah dan Mamah selalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing tanpa memperdulikan aku yang selalu hanya dengan Bi Surti di rumah. Mereka pulang sesekali saja. Itupun jika ada yang mendesak. Beberapa hari lagi menjelang liburan sekolah bertepatan dengan hari ulang tahunku ...Wowww SWEETSEVENTEEN. Aku nggak sabar nunggu hari berkesan itu dan dapet hadiah liburan sama Papah dan Mamah. Akhirnya tiba juga waktu yang kutunggu, 22 Desember 2014.

“Happy Birthday ya ...kesayangannya Mamah,” seru Mamah sambil memberikan bingkisan kado yang lumayan besar.

“Selamat Ulang Tahun ... anak Papah,” ucap Papah tak mau kalah degan memberikan tiket trip to Bandung untuk empat orang.

“Makasih Papah, Mamah, I MISS YOU ...” ujarku sambil memeluk keduanya.

“Papah tau ajah, ini yang Kayla tunggu; liburan bareng sama Papah, Mamah dan Bi Surti,” kataku dengan antusias dan langsung berlari ke dapur memeluk Bi Surti

“Bi, kita jadi liburan ke Bandung yeahhh ...” teriakku.

Bi Surti hanya bisa tertawa melihat tingkah dari majikan mudanya ini yang sudah dianggap anak baginya.

“Udah Kay, sana tidur nanti malam kita berangkat ... Bi Surti jangan lupa belanja barang-barang yang bakal dibawa ke Bandung,” seru Mamah padaku dan Bibi

Malam hari pun tiba ...

Aku sudah bersiap-siap membawa semua yang kubutuhkan dalam perjalanan, maupun dalam liburanku nanti. Aku nggak sabar ingin melihat hamparan kebun teh yang luas, pemandangan yang exotic dari villa, menghirup udara pagi yang sangat sejuk di sana. Itulah yang aku inginkan di hari ulang tahunku yang ke-17 ini.

“Kayla ayo turun! Ntar Pak Tarjo yang mengambil barang-barangmu ke atas,” teriak Mamah dari bawah

“Ya Mah, sebentar lagi Kayla turun kok ...” seruku dan tak lama aku berlari turun dari tangga sambil beryanyi riang.

Kamipun berangkat dan mungkin sampai Bandung pada pagi hari. Dalam perjalanan kami terlelap tidur dan perjalanan kami pun diiringi deras hujan. Tanpa kusadari mobil kami terguling. Saat aku terbangun, semua terasa gelap. Mata ini sakit dan aku mendengar jeritan orang-orang dari kejauhan. Secara tiba-tiba sosok tangan lembut menarikku entah ke mana. Tak jauh dari tempatku saat ini, terdengar ...

“Duarrr ...” suara ledakan. Aku tak sadar jika Papah dan Mamah masih di dalam mobil dan naas mobil itu meledak. Tak ada yang bisa diharapkan lagi untuk keselamatan orang tuaku. Dunia terasa gelap. Tak ada cahaya dari sisi manapun.

“Tuan ...Nyonya ... Maafkan saya tak bisa menolong Tuan. Saya akan menepati janji untuk menjaga Non Kayla selamanya, bahkan menjaga lebih dari diri saya sendiri,” seru Bi Surti dengan isak tangisnya.

Aku sudah tersadar. Dunia ini masih terasa hampa. Aku harus terima kenyataan bahwa aku buta akibat kecelakaan naas itu. Papah, Mamah dan akupun tak akan bisa melihatnya seperti dulu. Aku buta. Saat orang tuaku pun meninggal, aku tak bisa melihat mereka untuk yang terakhir kalinya. Aku hanya duduk tersipu memegangi batu nisan mereka dengan rasa bersalah yang amat mendalam. Aku tak akan bisa melihat senyumnya untuk selamanya. Tak ada ucapan selamat ulang tahun lagi dari mereka.

“Non Kayla, ayo kita pulang. Langit sudah mendung. Tak perlu ditangisi. Itu semua sudah garis takdir Yang Maha Kuasa,” ajak Bi Surti padaku.

Aku menolak mentah-mentah ajakan Bi Surti. Aku mendorongnya hingga terjatuh. Saat hujan turun pun, aku masih ada di sana tak ingin pergi dan aku tau Bi Surti selalu setia di sampingku apapun yang terjadi. Sejak saat itu, semuanya berubah. Keadaan rumah tak lagi ada tawa canda. Semua sunyi seperti ditelan gelapnya malam.

***

Hari ini aku bahagia. Semua impianku terwujud kembali. Aku bisa melihat. Tak sabar rasanya. Doaku pada umur yang ke-18 terkabul.

“Buka matanya pelan-pelan ya ...” ujar Dokter padaku.

Hatiku berdebar sekali ketika selama 1 tahun aku mencari pendonor mata yang cocok tak pernah ada. Tapi kali ini orang tersebut yang aku pun tak tau siapa, memberikan ini semua padaku tanpa pamrih sedikitpun. Aku janji akan menjaga mata ini apapun yang terjadi sesuai pesanmu padaku. Kalau aku tau siapa orang yang mendonorkan mata ini, aku pasti akan berikan apapun untuknya termasuk jiwa dan ragaku. Karena, dia telah mengembalikan semua padaku. Aku akan melihat makam Papah, Mamah dan keindahan dunia ini. Perlahan kubuka mataku yang saat ini masih terlihat warna-warni dunia walaupun hanya samar, karena butuh proses untuk bisa benar-benar jelas melihat kembali.

“Sarah, ini kamu ... Aku kangen bisa lihat senyum kamu. Tapi kenapa kamu nangis? Aku sudah bisa melihat Sarah. Kita bisa main lagi seperti dulu,” ujarku gembira. Aku benar-benar bisa melihat kembali. Aku bersyukur pada-Mu, ya Tuhan.

“Aku sangat bahagia kok Kayla. Aku hanya terharu,” jawab Sarah untuk menutupi segalanya dariku.

“Tapi, kamu bahagia, kamu berbeda sama ...” ujarku dan tiba-tiba Sarah memotongnya.

“Itu perasaan kamu aja, karena mungkin kamu udah lama nggak lihat aku lagi,” jawab Sarah kembali berbohong padaku.

Aku menjalani hari-hariku dengan hampa tanpa sosok orang tua dalam kehidupanku. Aku habiskan waktuku untuk sekolah. Selebihnya aku bersama Sarah berkunjung ke panti sosial. Hingga 5 tahun berlalu, aku lalui bersama keluarga baruku di Panti Sosial.        

Dalam perjalanan menuju panti, handphoneku bergetar. Lalu kuangkat telephone.

“Hallo, Sarah, kayaknya aku telat deh ke acaranya, karena di jalan hujan deras banget,” ucapku menjawab telephone Sarah.

“Iya, Kayla hati-hati ya. Jangan kebut-kebutan, ok?” pesan Sarah dari seberang sana.

Aku mengendarai mobil dengan ngebut. Tanpa kusadari, ada orang yang lewat di depan mobilku. Aku membanting stir, tapi percuma. Orang itu sudah tertabrak. Mobilku pun menabrak pohon. Aku pun tak sadarkan diri.

“Kayla ...Bangun dong! Aku nggak pengen kamu pergi dari hidupku. Antar aku nggak punya sahabat lagi,” isak Sarah memegangi tanganku, yang terbaring lemah di Rumah Sakit.

Sampai dua hari aku masih terbaring lemah di atas kasur, tak sadarkan diri.

“Sarah ...” ucapku dengan suara lirih setelah dua hari aku terbaring koma.

“Kayla ... Akhirnya kamu sadar juga yaaa,” jawab Sarah dengan histeris.

“Bagaimana kondisi orang yang ku tabrak Sar?” tanyaku.

“Kamu nggak usah pikirin itu dulu. Yang penting sekarang kesembuhan kamu, karena aku udah janji sama diri aku kalau terjadi apa-apa sama kamu, ini semua salahku,” ujar Sarah sambil mengucap janji untuk menjagaku.

Setelah menunggu beberapa hari pemulihan dari kecelakaan itu, aku pun sembuh walau memang masih menggunakan kursi roda dengan bantuan Sarah dan harus terapi setiap seminggu sekali. Akhirnya hari ini aku pulang dari Rumah Sakit dan bisa menghirup udara segar. Pagi ini aku diajak ke taman oleh Sarah.

“Sarah, aku mau tanya boleh?” tanyaku.

“Ya, mau tanya apa?” jawab Sarah.

“Tentang orang yang aku tabrak beberapa hari lalu. Bagaimana keadaannya?” tanyaku padanya. Setiap kali aku bertanya, Sarah selalu tak pernah mau menjawab dan mengalihkan pembicaraan.

“Kamu nggak akan marah, kalau kamu tau semuanya? Janji dulu ya!” ujar Sarah.

“Iya ...” jawabku sambil berjanji.

“Orang yang kamu tabrak itu Bi Surti. Saat kecelakaan, ia meninggal di tempat kejadian dan ia berpesan padaku untuk memberi ini padamu,” jawab Sarah sambil tertunduk menangis.

“Bi Surti menitipkan surat ini untukku. Apa isinya?” tanyaku sambil mengambil surat itu di tangan Sarah.

“Aku nggak pernah tau apa isi surat itu!” kata Sarah.

Aku membuka surat itu yang kukira sudah ditulis cukup lama. Kubuka perlahan, karena aku tak ingin sampai surat ini terobek. Kubuka...

Untuk : Kayla Alifa Kusuma
    
Non Kayla yang tersayang. Surat ini Bi Surti tulis atas dasar kasih sayang tulus. Sampai saat ini pun Bibi belum bisa menepati janji terhadap kedua orang tua Non Kayla. Tapi setidaknya Bibi bisa membuat Non kembali tersenyum dengan memberikan kedua mata Bibi untuk Non Kayla. Bibi harap Non menjaga baik-baik.
                            
Salam manis.
Surti
    
Aku benar-benar menyesal atas segala perbuatanku dulu terhadap Bi Surti. Tak tau bagaimana caranya aku menebus segala kesalahan itu dan kedua mata ini..

“Sarah.. Jawab aku! Kamu mengetahui tentang semua ini?” tanyaku dengan perasaan kecewa. Mata Sarah tertunduk. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya.

“Ya, aku tau semuanya!” jawabnya dengan isak tangisnya.

“Semenjak kejadian di hari Ulang Tahun kamu, Bi Surti tidak benar-benar pergi. Ia terus ada di sisi kamu, sampai Bi Surti menunggu kabar dari Rumah Sakit bahwa kondisinya stabil untuk operasi cangkok mata. Awalnya pihak medis pun tak berani. Tapi Bi Surti rela jika nyawanya pun jadi taruhan agar bisa melihat senyummu kembali. Pesan Bi Surti sebelum operasi, dia hanya ingin ini semua dirahasiakan dari siapapun dan Bi Surti ingin aku janji bahwa aku selalu akan menjaga kamu,” cerita Sarah padaku.

Maafin aku! Ya Tuhan, aku kembali membuat kesalahan. Kami berdua pun pergi ke kuburan Bi Surti untuk menebus segala kesalahanku selama ini terhadapnya. Setelah sampai, kutertegun melihat batu nisan yang terpampang nama orang yang begitu kusayang.

“Bi Surti, maafin segala kesalahanku selama ini dan semua janji Bi Surti kepada orang tua Kayla sudah ditepati. Hari ini aku tersenyum dan aku juga janji selalu tersenyum untuk Papah, Mamah, Bi Surti dan selalu menjaga baik-baik mata ini,” ucapku sambil kupanjatkan do’a untuk ketenangan Bi Surti di sana.

“Ayo pulang, Kayla. Aku yakin Bi Surti sudah tenang di sana,” ucap Sarah mengajakku pulang.

“Bi Surti, aku pulang ya. Nanti aku ke sini lagi. Aku janji akan selalu mengunjungi Bi Surti,” ucap perpisahan dan janjiku kepada Bi Surti.

Aku duduk merenungi setiap kejadian yang telah terjadi untuk menjadi sebuah pelajaran bagiku untuk menepati janji, karena janji itu suci, putih, seputih awan di langit.[]
    
*) Siswi Kelas X SMA Qothrotul Falah