Aku, Engkau, Kita, Adalah Keluarga

DIKISAHKAN, paskawafat Sufi Besar Abu Bakar al-Syibli (w. 334 H), konon beliau hadir dalam mimpi sahabatnya. Dalam mimpi itu, al-Syibli yang dijuluki majnun atau Si Gila, ditanya perihal kehidupannya setelah meninggal. Ia lantas menuturkan dialognya dengan Allah SWT.

“Wahai Abu Bakar al-Syibli, tahukah engkau, atas dasar apa Aku mengampuni dosa-dosamu?” tanya Allah SWT.

“Karena kesalehan amalku,” jawabnya.

“Bukan!”

“Karena ketulusan ibadahku.”

“Bukan!”

“Karena hajiku, puasaku dan shalatku.”

“Bukan!”

“Karena hijrahku bersama orang-orang saleh/suci dan karena pencarian ilmu yang aku jalani”.

“Bukan!”

al-Syibli pun gamang. Ia telah berusaha menjawab atas dasar apa Allah SWT mengampuninya, namun segala amalan terbaik yang telah dipersembahkannya, ternyata tidak menyebabkannya diampuni. Dalam penasarannya, ia menghiba untuk mendapatkan jawaban dari-Nya.   

“Tuhanku, lantas karena apa?” tanya al-Syibli tak mengerti.

“Ingatkah engkau, tatkala tengah berjalan di pedusunan Baghdad, engkau mendapati seekor kucing kecil yang lemah karena kedinginan. Ia meringkuk sangking dinginnya. Lantas engkau menaruhnya di kantong yang engkau bawa, karena kasih sayangmu dan untuk melindunginya.”

“Benar, wahai Tuhanku.”

“Karena belas kasihmu pada kucing kecil itulah, aku mengasihimu.”

Kisah yang menggetarkan iman ini tercantum dalam Kitab Syarah Nashaih al-‘Ibad (hal. 8), karya Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi (lebih populer dengan Syeikh Nawawi Banten). Kisah serupa terjadi pada Imam Muhammad al-Ghazali (w. 505 H) dengan lalatnya, yang juga diterangkan dalam kitab yang sama. Jalur transmisi kisah-kisah ini sangat spiritual, yang karenanya tidak bisa diukur secara akademik. Itu sebabnya, kebenaran kisah-kisah ini masih membuka ruang diskusi. Tak heran, jika sebagian menolak dan sebagian lain menerima, bahkan mengaguminya.

Saya sendiri tidak terlalu peduli benar tidaknya kisah itu. Saya lebih memilih tenggelam untuk men-tadabburi atau merenungi makna luhur yang terselip di baliknya, ketimbang sibuk mendiskusikan statusnya, untuk kemudian saya amalkan dalam keseharian. Toh, yang jelas, kisah itu dicatat oleh Syeikh Nawawi Banten – ulama Nusantara asal Tanara Banten yang representatif dan diakui keagungannya oleh kalangan muslim baik di dalam maupun luar negeri. Jika beliau saja menerimanya, kenapa saya yang hina dan dangkal keilmuannya ini menolaknya?

Selain itu, kisah kasih sayang al-Syibli pada kucing kecil di atas juga sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal dalam karyanya, Musnad Ahmad bin Hanbal. Beliau bersabda: “Orang-orang yang menyayangi akan disayangi Tuhan Yang Maha Penyayang. Sayangilah penduduk bumi, maka kalian akan disayangi penduduk langit.” Sabda ini menunjukkan, kasih sayang Allah SWT akan diberikan kepada siapapun yang menyanyangi, mengasihi dan melindungi makhluk-Nya; baik tetumbuhan, hewan maupun (terlebih) manusia.

Pertanyaannya, makna tersirat apa yang bisa kita petik dari kisah heroik al-Syibli dengan kucing kecil itu? Pertama, tidak seharusnya kita menyombongkan diri sebagai yang terbaik hanya karena ibadah-ibadah yang telah kita tunaikan. Dalam kisah di atas, ternyata ibadah-ibadah atau ritual-ritual yang dijalani al-Syibli tidak lantas bisa menghadirkan cinta Allah SWT. Sebaliknya, Yang Maha Kasih lebih melirik kepedulian dan ketulusan al-Syibli menolong kucing kecil yang terancam mati kedinginan. Itu sebabnya, Islam mengajarkan “berlombalah dalam kebaikan”, baik dalam ritual, sosial-kemasyarakatan maupun yang lain. Pasalnya, kita tidak pernah tahu, perilaku bagian mana yang membuat Allah SWT mengasihi dan mengampuni kita.

Kedua,  sebagai manusia, tidak semestinya kita hanya peduli dan perhatian pada manusia, apalagi hanya pada yang seagama. Pada makhluk Allah SWT selain manusia, kita juga harus peduli, apalagi kepada manusia. Kepedulian sosial memang selayaknya tidak boleh pandang latar belakang; baik agama, status sosial, suku, maupun yang lain. Islam sendiri memandang, kelebihan manusia bukan terletak pada sisi lahiriahnya, melainkan hati dan perilakunya. Nabi Muhammad SAW bersabda: Tuhan tidak melihat tampang dan fisik kalian, melainkan melihat hati dan perilaku kalian. Itu sebabnya, beliau mengajarkan, tidak ada kelebihan orang Arab dibanding orang ‘ajam (non-Arab), orang kulit putih dibanding orang kulit hitam, lelaki dibanding perempuan, tuan dibanding budak, dan begitu seterusnya. Kelebihan terjadi hanya karena ketakwaan dan kemanfaatannya bagi makhluk Allah SWT lainnya.  

Dalam Quran Surah al-Hujurat ayat 13, Allah SWT berfirman: “Hai manusia, Aku ciptakan kalian dari golongan laki-laki dan perempuan, dan Aku jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal. Sesungghnya yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertakwa.” Ayat ini dengan tegas menunjukkan, kemulian tidak hadir karena kelelakian atau keperempuanan, kesukuan atau kebangsaan, melainkan karena ketakwaan dan implikasi sosialnya. Syeikh Abdul Kadir Jailani menyatakan, “Kalian mengaku beriman, namun keimanan kalian tidak sah selama kalian memiliki makanan berlebih. Lalu, saat ada pengemis di depan pintu rumah kalian, kalian mengusirnya karena takut rugi.” (al-Fath al-Rabbani, hal. 140).

Ketiga, ibadah indivual (ritual keagamaan yang manfaatnya dirasakan diri sendiri) itu kalah luhur dibanding ibadah sosial (ritual keagamaan yang manfaatkan dirasakan makhluk lain, semisal yang dilakuan al-Syibli pada kucing kecil). Dalam Islam, dikenal adagium: al-muta’addi afdhal min al-qashir (ibadah yang manfaatnya dirasakan makhluk lain, itu lebih utama ketimbang ibadah yang manfaatnya dirasakan diri sendiri). Ibadah ritual setiap hari, namun tetangganya yang miskin, melarat atau sakit diacuhkan, maka ibadah itu tidak lagi memiliki nilai luhur.  

Pertanyaan besarnya; kenapa pada makhluk Allah SWT – apapun bentuknya, manusia, binatang yang dihormati maupun yang dihina atau tetumbuhan – kita harus mengasihi? Jawabannya, antara lain, ditemukan dalam sabda Nabi Muhammad SAW. Dikutip Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad dalam Kitab Risalah al-Mu’awanah, beliau bersabda; al-khalqu kulluhum ‘iyalullah wa ahabbuhum ila Allah anfa’uhum li’iyalihi (seluruh makhluk adalah keluarga Allah SWT; dan yang paling dicintai-Nya adalah yang paling bermanfaat untuk keluarganya).

Dengan demikian, aku, engkau, dan kita, adalah keluarga besar, yang sama-sama “lahir” dari rahim dan kerahiman Tuhan. “Orang tua” kita adalah Dia. Rumah kita adalah dunia. Dan tempat kembali kita setelah tuntas menjalani kehidupan ini adalah pangkuan-Nya. Jika demikian, sebagai keluarga besar, pantaskah kita bermusuhan, sementara kita memiliki orang tua yang sama dan rumah yang satu? Pantaskah dan tegakah kita membunuh saudara kandung kita sendiri, hanya karena alasan berbeda? Hanya orang picik, kerdil dan telah sirna kasih sayangnya saja yang tega melakukannya. Dan ini tidak layak disebut orang beragama yang sesungguhnya.

Jika aku, engkau, dan kita, adalah keluarga, sudah selayaknya kita saling bahu-membahu membangun keutuhan dan kerukunan keluarga besar kita, sehingga “orang tua” kita bangga. Jangan sampai “orang tua” kita murka dan menghukum kita, karena perteruan tak berujung antara kita dengan saudara-saudara kita. Pun, jika ada saudara kita yang lemah dan membutuhkan uluran tangan; aku, engkau, dan kita, karena keluarga, juga sudah semestinya saling bahu-membahu membantu. Tidak seharusnya, karena saudara kandung kita berbeda status sosial atau aktivitasnya, kita lantas memusuhinya dan seakan-seakan tiada lagi  ikatan kekeluargaan. Tidakkah kita malu dengan Abu Bakar al-Syibli yang begitu peduli pada kucing kecil yang terancam mati kedinginan, padahal ia hanyalah seekor hewan? Bukankah aku, engkau, dan kita, adalah keluarga? Wa Allah a’lam.[]