Resep Mujarab : Memohon Pertolongan dengan Sabar dan Shalat

Oleh Muhammad Yusuf*)

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰاشِعِينَ ٤٥  ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُواْ رَبِّهِمۡ وَأَنَّهُمۡ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ٤٦

Artinya: “Mintalah pertolongan kepada Allah SWT. dengan menjalani sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu´. (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (Qs. al Baqarah: 45-46).

Ayat di atas merupakan resep mujarab dari Allah SWT. agar hidup kita terasa ringan dan tenang, tidak kalut dan semrawut dalam menghadapi permasalahan, karena kita yakin bahwa Allah tidak akan mengecewakan orang yang meminta kepada-Nya.

Sabar

Sabar adalah sebuah kata yang begitu singkat dan mudah diucapkan, namun begitu berat dilaksanakan. Sabar adalah ketahanan seseorang dalam menghadapi gejolak hawa nafsu. Dengan sifat sabar inilah Allah SWT. membedakan strata manusia dari binatang. Kedua-duanya dibekali nafsu, dan sabar inilah yang menjadi sekat diantara keduanya.

Betapa banyak ayat sanjungan bagi orang yang bersabar. Allah SWT. berfirman:
 
وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ

Artinya: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.” (Qs. as-Sajdah: 24).

وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ ٱلۡحُسۡنَىٰ عَلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ بِمَا صَبَرُواْۖ

Artinya: “Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka.” (Qs. al-A’raf: 137).

وَلَنَجۡزِيَنَّ ٱلَّذِينَ صَبَرُوٓاْ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. an-Nahl: 96).

Saking pentingnya, al-Qur’an tak henti-hentinya menuturkan hingga lebih dari tujuh puluh kali.

al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin membagi sifat sabar menjadi dua kategori, yakni sabar dalam menghadapi musibah dan sabar dalam menjalani ketaatan. Sabar dalam ketaatan ini mempunyai nilai yang lebih unggul dibanding sebelumnya.

Kemudian, saat kita telah mengetahui begitu pentingnya kesabaran dan begitu agungnya nilai kesabaran di hadapan Allah SWT. Usaha apa yang hendaknya kita lakukan untuk memupuk kesabaran? Ada beberapa hal yang harus kita lakukan, yaitu :
1.    Mengekang hal-hal yang memicu hawa nafsu.
2.    Mujahadah atau olah jiwa dengan banyak mengingat keterangan akan pentingnya kesabaran, dan menyadari bahwa kesulitan yang kita hadapi hanyalah sementara.
3.    Meyakini bahwa Allah telah menyiapkan imbalan yang terbaik atas ketaatan yang kita lakukan.

Shalat Khusyu’

Bagaimana kualitas shalat kita hari ini? Sepertinya inilah pertanyaan yang setiap hari harus selalu kita munculkan dan kita jawab sendiri. Allah SWT. berfirman :

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ

Artinya: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar”.  (Qs. al-Ankabut: 45).

Bagaimana jika shalat kita seolah-olah tidak berefek terhadap perilaku kita sehari-hari? Shalat jalan, maksiat pun lancar? Padahal Nabi Muhammad SAW. telah memperingatkan :

«مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا»

Artinya: “Barangsiapa shalatnya tidak mampu menahannya dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia hanya semakin jauh dari Allah SWT.”

Itu berarti ada yang harus dibenahi dan tidak ada solusi ataupun pilihan lain kecuali memperbaiki kualitas dan kekhusyu’an shalat kita, karena shalat yang tidak khusyu’ tidak mampu menahan perbuatan keji dan mungkar. Apa yang harus dipenuhi agar shalat kita berkualitas? Syekh Jamaluddin al-Qasimy dalam kitab Mau”izhah-nya menuturkan beberapa hal, yaitu :
1.    Hudlurul Qolbi (menghadirkan hati) yaitu dengan berkonsentrasi, tidak berfikir macam-macam.
2.    Tafahhum (memahami apa yang dibaca) yaitu sadar dengan apa yang sedang dibaca, tidak sekedar dibibir saja.
3.    Ta’dhim (mengagungkan Allah) yaitu menyadari bahwa kita sedang menghadap Dzat Yang Maha Agung.
4.    Haibah (merasakan kewibawaan Allah) yaitu munculnya rasa takut sungkan karena sedang berhadapan dengan Sang Maha Agung.
5.    Raja’ (disertai pengharapan) yaitu berhadap agar ibadahnya diterima.
6.    Haya’ (adanya rasa malu di hadapan Allah) yaitu malu atas keteledoran kita, karena Allah SWT. selalu mengawasi gerak-gerik kita.  

Marilah kita kembali mencurahkan isi hati, keluh kesah, dan kesulitan yang menghimpit bukan kepada media sosial yang malah membuka aib kita sendiri, tetapi kepada Dzat Yang Maha Mengetahui isi hati, dzat yang tak pernah bosan diratapi, dan selalu memberikan solusi, Allah Tuhan semesta jagad raya ini.[]

*)Guru Tahfidz Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten