Lebih Mirip Siapakah Kita?

Oleh Muhammad Yusuf*)

Saudaraku semua yang semoga selalu dirahmati Allah swt. Hidup adalah pilihan. Pilihan untuk menjadi baik atau buruk, dan pilihan di mana kita akan bertempat. di surga ataukah neraka. Allah swt. pun telah memberikan rambu-rambu untuk menuju tempat yang kita pilih. Barang siapa memilih surga silahkan menjadi mukmin yang baik dan barang siapa memilih neraka silahkan berbuat sesuka hati, bahkan ingkar kepada Rabbi. Marilah kita melihat diri kita sendiri dan ciri-ciri apa yang melekatkan, sehingga kita bisa ‘meramalkan’ akan ke mana kita pergi.

Ciri-ciri Mukmin

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ٢ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ٣ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقّٗاۚ لَّهُمۡ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ٤

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. al-Anfal: 2-4).

Ciri-ciri Kafir

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ٦ خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ وَعَلَىٰ سَمۡعِهِمۡۖ وَعَلَىٰٓ أَبۡصَٰرِهِمۡ غِشَٰوَةٞۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٧

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS. Al Baqoroh 6-7).

Mudah tergerak hatinya, bertambah imannya, disiplin dalam menjalankan shalat, dan peduli dengan sesama. Itulah sifat mukmin sejati yang dijanjikan beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. Bandel, keras kepala, berlagak tuli dan tidak mau tahu. Itulah kesan yang kita dapatkan dari sikap orang-orang kafir Madinah yang akhirnya mengantarkan mereka menuju siksaan yang berat.
Satu pertanyaan besar yang akan muncul dari ayat-ayat di atas: Kita lebih mirip yang mana? Boleh saja kita mengaku beriman dan Islam. Hanya saja, mari kita bercermin kembali. Apakah sikap kita memang sesuai dengan tuntunan Sang Nabi Saw. yang memperkenalkan iman dan Islam, ataukah lebih mirip dengan orang-orang yang memusuhi beliau.  

Imam as-Suyuthi dalam Tafsir al-Jalalain-nya menafsirkan “mengunci-mati hati dan pendengaran mereka” dengan hati yang tertutup rapat dan tidak peka dengan kebaikan serta tidak bisa mengambil manfaat dari apa yang didengarnya. Sementara “penglihatan mereka ditutup” beliau maknai dengan tidak mampu melihat kebaikan.

Mari kita renungkan kembali seberapa tebal iman kita, seberapa khusyu’ shalat kita, sudahkah kita berzakat dan peduli dengan sesama, lengkapkah puasa Ramadhan kita, dan apakah haji kita memang karena panggilan Allah swt. atau karena ingin bergelar haji?

Di dalam kitab-kitab tauhid banyak disebutkan bahwa kualitas iman manusia bisa bertambah dan berkurang. Ketebalan iman seseorang berbanding lurus dengan ketaqwaannya. Sehingga, semakin tebal imannya semakin baik pula kuantitas dan kualitas ibadahnya.

Mari kita mengingat kembali Surat al-Ma’un :

أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ١  فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ ٢  وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ٣ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٤ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٥  ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ ٦  وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ ٧

Artinya : “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama. Itulah orang yang menghardik anak yatim. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. al-Maa’un: 1-7).

Sudahkah kita bersikap lemah lembut dan peduli dengan anak yatim sehingga kita pantas berdekatan dengan Nabi Muhammad Saw. di surga sebagaimana sabda beliau? Sudahkah kita membahagiakan orang-orang miskin di lingkungan sekitar kita? Sudahkah kita disiplin dalam menjalankan shalat, tidak disertai riya’, dan ringan hati dalam menolong?  

Sekali lagi, lebih mirip siapakah kita? Seandainya ternyata lebih banyak kemiripan dengan orang kafir, sampai kapan?[]

*) Guru Tahfidz Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten