Merebut Ayat untuk Hajat Sesaat

Melalui buku ini, penulis menyimpulkan telah terjadi penyalahgunaan ayat dalam al-Huda: Tafsir Qur’an Basa Jawi (1979) karya Kolonel Bakri Syahid. Ayat-ayat al-Qur’an yang karakteristiknya longgar lantas ditarik untuk mendukung rejim penguasa yang didukungnya, tanpa melihat konteks turun atau konteks pembicaraan asal ayat. Oleh penafsir militer ini, ayat-ayat tertentu digunakan untuk meng-iya-kan kebijakan Orde Baru. Misalnya, penafsirannya menguatkan ide Negara Demokrasi Pancasila, Badan Intelijen Negara (BIN)/Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN), UUD 1945, Pelita 1 s.d. V, TNI, negara relijius yang bukan negara agama dan bukan negara sekuler, pembangunan dan ketahanan nasional, juga ibadah politik, ibadah ideologi dan ibadah militer.

Buku ini juga mengoreksi pendapat Andrew Rippin yang menyatakan, aktivitas penafsiran intelektual muslim dari dulu hingga kini masih dalam bingkai agar teks al-Qur’an mudah dipahami. Rippin tidak hirau, dalam realitasnnya ada model pembacaan ayat yang bersifat politis. Buku ini juga diniatkan untuk menunjukkan corak lain tafsir al-Qur’an. Kajian ‘Abd al-H}ayy al-Farmawi, M. Quraish Shihab atau Nashruddin Baidan, belum menyinggung secara baik al-lawn al-siyasi. Buku ini membuktikan, corak politis ini benar-benar ada. Ini bisa menjadi warna baru penafsiran. Buku ini juga melengkapi penelitian Imam Muhsin yang berjudul Tafsir al-Qur’an dan Budaya Jawa: Studi Nilai-Nilai Budaya Jawa dalam Tafsir al-Huda Karya Bakri Syahid (2008).

Secara spesifik, buku ini menjadikan al-Huda: Tafsir Qur’an Basa Jawi karya Kolonel Bakri Syahid sebagai sumber penelitian. Pendekatan yang digunakan adalah dirasah ma fi al-qur’an (analisis internal teks) dan dirasah ma hawl al-qur’an (analisis eksternal teks).[]