Mengubah Nasib dengan Berpikir Positif

MANUSIA tidak bisa mengubah takdir. Sebab takdir (yang secara sederhana bisa dimaknai sebagai ketetapan Allah yang telah terjadi) memang tidak bisa diubah. Tetapi, setiap manusia “dianugerahi” oleh Tuhan pikiran dan perasaan yang bisa mengantarkan manusia bisa mengubah nasib atau jalan hidupnya di kelak kemudian hari. Bahkan Allah --dalam kita suci al-Quran-- dengan tegas telah memperingatkan, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan (nasib) suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. 13: 11).

Jadi, nasib setiap orang sebenarnya berada di tangan mereka sendiri. Ironisnya, tak sedikit orang yang menganggap bahwa nasib mereka sudah digariskan suratan nasib dan tidak bisa diubah. Padahal di balik rentetan kehidupan yang dijalani oleh manusia, dia memiliki kesempatan dan peluang besar untuk menentukan masa depannya sendiri; mau jadi apa dia kelak atau ingin meraih apa. Lalu, bagaimanakan cara mengubah nasib agar hidup seseorang bisa berubah menjadi lebih baik?

Untuk mengubah nasib, menurut Ibrahim Elfiky –sebagaimana dijelaskan dalam buku Memperbaiki Nasib: Terapi Mengendalikan Diri Agar Hidup Terus Lebih Baik ini—hal pertama yang harus diubah adalah pola pikir. Tak sedikit orang yang dirongrong oleh pikiran negatif, dan ironisnya hal itu diulang-ulang sehingga menjadi “keyakinan” yang kokoh dan kuat. Praktis, pada akhirnya pola pikir itu akan menghalangi kesuksan yang seharusnya ia raih. Padahal, pola pikir yang negatif itu besar kemungkinan akan menjadi
kenyataan.

Selain berpikir positif, manusia juga harus berperasaan positif. Sebab ia sejatinya nahkoda bagi pikiran dan perasaannya. Maka, syarat seseorang yang ingin sukses adalah harus menanamkan dalam hati, satu keyakinan  bahwa kelak dia akan sukses. Tetapi pola pikir dan perasaan positif itu tidak akan mengubah nasib Anda, jika tak disertai dengan action (tindakan). Karena tindakan itu adalah penentu. Kendati demikian, tindakan itu haruslah dilakukan terus menerus, karena akan membentuk kebiasaan dan karakter.

Sebab, sebagaimana ditegaskan penulis, “nasib” seseorang itu adalah cermin dari karakternya. Sementara itu, “karakter” adalah cermin dari kebiasaan serta tindakannya. Dan tindakannya itu berasal dari pikiran dan perasaan. Karena itulah, jika Anda ingin mengubah atau memperbaiki nasib Anda menjadi lebih baik, tidak ada jalan lain kecuali Anda harus mengubah pikiran dan kebiasaan Anda. Dan setelah itu, dijami nasib Anda pasti akan berubah.

Jadi, semua berawal dari pikiran dan kebiasaan. Karena, pandangan positif Anda terhadap segala sesuatu merupakan jalan lempang menuju masa depan yang gemilang. Memang pandangan itu bukan satu tujuan, melainkan cara Anda menajalani kehidupan Anda di dunia ini (hal. 89). Tak mustahil, jika cara pandang Anda terhadap kenyataan bahkan juga dunia berwarna kelabu, maka nasib Anda pun dapat dipastikan berwarna kelabu. Tetapi, jika cara pandang Anda berwarna cerah, nasib Anda pun akan berwarna cerah. Karena itulah, buang jauh-jauh pikiran dan perasaan negatif Anda jika Anda ingin meraih kesuksesan yang gemilang.

Lewat buku ini, penulis –yang telah mengantongi 23 gelar diploma dari berbagai lembaga papan atas di bidang pengembangan Sumber Daya Manusia, Manajement dan Marketing--  tak saja mendobrak pikiran negatif Anda, tapi menyalakan sekaligus obor optimistis untuk selalu berpikir dan berperasaan positif. Dan dia selalu “mengingatkan” bahwa pikiran dan perasaan positif yang digenggam hari ini, bisa jadi, suatu hari nanti akan terkoyak badai kehidupan. Hal itu adalah hal biasa: sangat manusiawi. Tetapi, satu hal yang tidak boleh terjadi adalah menyerah pada keadaan.

Buku ini secara garis besar memberikan pretensi baik mengajak pembaca untuk memperbaiki nasib –dari yang belum beruntung menjadi beruntung, dari yang bernasib biasa menjadi luar biasa, bahkan dari yang bernasib luar biasa menjadi lebih luar biasa. Dan buku ini, tidak disangkal, akan mengantarkan Anda bisa meraih nasib yang seperti Anda inginkan.

Kelebihan dari buku ini, penjelasan Ibrahim Elfiky dalam menuturkan  rentetan cara mengubah nasib bisa dikata gamblang, runtut, bahkan mudah dipahami. Terlebih, dalam setiap bab, Ibrahim selalu menyelipkan cerita-cerita yang “mencerahkan” dan itu akan selalu tertancam dalam pikiran dan hati. Makanya, tidak ada ungkapan lain kecuali menyebut buku ini merupakan buku luar biasa yang akan mengantarkan Anda tidak saja memiliki pikiran positif, melainkan juga akan mengantarkan Anda bisa mengubah nasib Anda menjadi lebih baik. [Fitria Zulfa, staff pengajar SDIT Al-Khairaat, Condet, Jakarta Timur ]

(Dikutip dari http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/429414/, 20 September 2011)