Mamahami Sebuah Hakikat secara Sederhana

Rutinitas kehidupan modern yang menyeret manusia dari ruang yang satu ke ruang lainnya dengan begitu cepat serta timbunan-timbunan informasi yang diterima nyaris tanpa henti-hentinya membuat manusia modern berperan sedemikian rupa di dalam setiap ruang yang dilampauinya.

Ketika dia, manusia, memainkan peran-peran itu, mungkin dia berhasil mengadopsinya ke dalam setiap ruang. Tapi bukan tidak mungkin pula dia terjebak di dalamnya sehingga peran itu tidak dapat dia lepaskan begitu saja. Bahkan kemudian menjadi bagian dari dirinya yang sama sekali tidak dikenalinya. Dan pada titik balik itulah dia kemudian mencoba menyadari kembali keberadaan dirinya sebagai manusia.

Dia mencoba memahami keberadaan dirinya melalui soal-soal yang sederhana yang mungkin luput dari perhatiannya, tetapi kemudian untuk memahami persoalan yang sederhana itu pun dia merasa kesederhanaan itu adalah sebuah kerumitan karena dia merasa bahwa untuk memahami kesederhanaan itu, dia harus meletakkan dirinya sedemikian rupa, termasuk harga dirinya, jauh di bawah nilai yang mungkin pernah dicapainya.

Bahkan menurutnya, untuk memahami kesederhanaan itu, dia merasa telah membodohi dirinya sedemikian rupa. Dengan kata lain,dia merasa telah memasuki sebuah ruang yang “tak bernilai”. Bukan sebuah ruang yang “tak ternilai”.

Menghadapi tawar-menawar nilai itu, manusia kemudian mencoba memasuki ruangruang spiritualitas, bukan sebagai suatu kesadaran, melainkan sebuah “pelarian” yang membuatnya tidak jarang, tanpa disadarinya pula, semakin jauh dari realitas sosialnya di mana dirinya sebenarnya harus berada.

Ia pun lalu mencoba menerjemahkan dirinya menjadi seekor burung merpati yang dapat mengabarkan kedamaian bagi dirinya, tetapi ia telah meneguk anggur lebih dari secawan sehingga membuatnya tersungkur tak berdaya karena mabuk.

Melalui persoalan keseharian yang sederhana seperti itulah Haidar Barong mengumpulkan 30 buah tulisan ke dalam sebuah buku yang sederhana pula, Merpati dan Mangkuk Arak, setebal 204 halaman (Penerbit Teras Budaya, Juli 2011), mencoba mengangkat persoalan dengan contoh-contoh soal yang sederhana pula dengan bahasa yang populer sehingga mudah untuk dicerna oleh pembaca awam sekalipun.

Haidar Barong, melalui bukunya ini, tampaknya menyadari betul bagaimana ia menerapkan ilmu komunikasi yang pernah dicecapnya di Universitas Islam Az-Zahra, Fakultas Agama Islam, Jurusan Ilmu Komunikasi (dakwah), sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Dan meskipun digarap dengan bentuk penyajian yang populer, Haidar tidak mengabaikan referensi sebagai rujukannya sehingga memperkaya seluruh tulisannya di dalam buku tersebut,baik dari pemikir-pemikir Barat maupun Timur.

Untuk itu pula Haidar yang juga lulusan sarjana seni murni (lukis) Institut Kesenian Jakarta ini mengambil tema-tema yang sederhana pula. Dengan kata lain, ia mengambil tema-tema yang merupakan bagian dari keberadaan manusia itu sendiri sebagai sesosok makhluk Sang Khaliq. Terutama bagaimana manusia menyadari sepenuhnya keberadaan panca-indranya: mata, telinga, perut, dan lainnya.

Namun, yang lebih menarik dari buku ini, meskipun Haidar Barong bertitik tolak dari pandangan “Islamiah”, beberapa catatannya merujuk pada agama-agama lain sehingga tidak terbatas pada satu sisi pandang agama Islam semata. Dengan demikian pembaca beragama lain pun dapat membaca dan menikmatinya.

Adapun sisi lain yang juga tidak kalah penting dari penyajian buku ini, semua tulisan tidak disusun secara metodologi tertentu atau menurut tema tertentu sehingga pembaca bebas pula untuk memilih mana yang mungkin lebih dulu disukai-nya. Artisnya, semua tulisan yang berada di dalam buku ini adalah sebuah teks terbuka yang dapat dimasuki dari sisi mana saja. Salah satu tulisan Haidar Barong adalah “Jus Wortel Febi” (hal 145).

Di dalam tulisan ini, Haidar dengan gaya narasi yang ringan menceritakan peran seorang istri di dalam sebuah rumah tangga, diumpamakan sebagai selembar baju dan dirinya juga selembar baju yang jika dalam keadaan kotor harus dilepas dan dicuci bersih.

Buku Merpati dan Semangkuk Arak sebagai sebuah kumpulan esai ini setidak-tidaknya mengajak pembaca untuk lebih rasional memahami setiap soal. ? Remmy Novaris DM, penulis,tinggal di Jakarta

(http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/432285/, 2 Oktober 2011)