Riwayat Pesantren

SEJARAH SINGKAT

PONDOK PESANTREN QOTHROTUL FALAH

 

Profil Pendiri dan Sejarah Berdiri

Untuk memenuhi pendidikan keagamaan yang mampu mencetak kader-kader ulama yang berdedikasi tingggi terhadap agama dan negara, berakhlak mulia dan memiliki jiwa kepemimpinan amanah, sesuai harapan masyarakat Desa Sumurbandung, Kec. Cikulur, Kab. Lebak, Prop. Banten, maka KH. Hanbali, seorang tokoh agama yang sangat kharismatik di daerah itu, berupaya mewujudkannya dengan membentuk majlis mudzakarah kecil-kecilan.

Dalam majlis mudzakarah itu, KH. Hanbali mengajarkan kitab-kitab sumber keagamaan dalam berbagai bidang, baik bidang fikih (Kifayah al-Akhyar, I’anah al-Thalibin, Kasyifah al-Saja, Safinah al-Najah, Fath al-Wahhab, Fath al-Mu’in, Riyadh al-Badi’ah, dll), bidang tauhid (Fath al-Majid, Kifayah al-‘Awwam, dll), dan bidang tasawuf (Ihya’ Ulum al-Din, Bidayah al-Hidayah, Minhaj al-‘Abidin, Kifayah al-Adzqiya’, Nashaih al-‘Ibad, Sullam al-Taufiq, dll).

Kala mengelola majlis mudzakarah itu, KH. Hanbali masih berstatus lajang dan baru berumur 26 tahun. Umur yang relatif muda untuk seorang tokoh yang memiliki “kelebihan” di bidang agama. KH. Hanbali yang pernah mendekam di penjara Nippon sekitar 2 tahun, karena “pemberontakan”nya itu, semakin digandrungi oleh masyarakat sekitar. Karenanya, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, kegiatan majlis mudzakarah­nya kian ramai dikunjungi orang-orang yang dahaga pengetahuan agama.

Pada tahap selanjutnya, KH. Hanbali yang beristrikan Hj. Uyung itu, berfikiran untuk mendirikan lembaga pendidikan agama yang independen. Dan pada 1961, KH. Hanbali yang semula hanya bermaksud mengamalkan ilmu agamanya kepada sanak keluarga dan kerabatnya, lantas mendirikan Pondok Pesantren Qothrotul Falah (Tetesan Kemenangan), disingkat Qi Falah. Pondok pesantren itupun mulai menapaki sejarahnya.

Pada 1972, KH. Hanbali menunaikan rukun Islam ke-5 untuk kedua kalinya, beserta putera semata wayangnya, KH. Achmad Syatibi Hanbali. Kesempatan menjadi tamu Allah Swt di Tanah Suci dimanfaatkan KH. Hanbali untuk memperdalam ilmu agama. KH. Hanbalipun mukim di sana untuk beberapa tahun, sementara putera beserta isterinya kembali ke kampung halaman. Atas kehendak Allah Swt, KH. Hanbali meninggal di Tanah Kelahiran Nabi Muhammad itu dan dikebumikan di sana.

Sepeninggal KH. Hanbali, Pondok Pesantren Qothrotul Falah dikelola oleh putra satu-satunya, KH. Achmad Syatibi Hanbali, yang waktu itu usianya masih relatif sangat muda, untuk ukuran pengasuh pondok pesantren. Karena kegigihan dan keuletan Kiai Muda berusia 27 itu, Pondok Pesantren Qothrotul Falah mulai berkembang dan dikenal masyarakat, bukan hanya oleh masyarakat Cikulur, tapi juga oleh masyarakat di luar Kab. Lebak, bahkan di luar Propinsi Banten.

Pada 1991, atas harapan dan desakan masyarakat pada lembaga pendidikan yang berkualitas, KH. Achmad Syatibi Hanbali beserta sesepuh masyarakat yang diwakili Drs. H. Achmad Djazuli (alm), mendaftarkan Pondok Pesantren Qothrotul Falah ke Kantor Notaris Nuzwar SH, dengan No. 08, 31 Juli 1991, untuk dibuatkan akte pendirian ponpes secara resmi. Ponpes ini membawahi pendidikan formal (MTs dan SMA) dan pendidikan nonformal (salafiyah: kajian kitab kuning).

Pondok Pesantren Qothrotul Falah, dari tahun ke tahun, terus menuai perkembangan pesat. Ini terlihat dari jumlah santri yang ingin nyantri salaf ataupun menimba ilmu umum (MTs dan SMA) yang terus bertambah. Seiring kuantitas santri yang kian bertambah itu, sarana pendidikanpun kian banyak. Gedung-gedung asrama santri putra-putri dan pendidikan pun berdiri kokoh di sekitar Ponpes.

Berkaitan dengan sistem pengelolaan Pondok Pesantren Qohtrotul Falah, baik pengelolaan pendidikan formal maupun nonformal, figur sentral seorang kiai masih sangat dibutuhkan. Karena itu, KH. Achmad Syatibi Hanbali sebagai figur sentral Ponpes harus pandai-pandai menyaring aneka usulan dari berbagai kalangan. KH. Achmad Syatibi Hanbali tidak segan-segan dan sungkan-sungkan berdialog dengan masyarakat dan para santri tentang apa-apa yang menjadi kekurangan di Ponpesnya, agar kekurangan tersebut dapat diminimalkan.


Sistem Pengajaran dan Pembinaan

Sistem pengajaran di Pondok Pesantren Qothrotul Falah, pada awalnya, sangat kental nuansa dan pendekatan salafi. Misalnya, pengajian kitab kuning dilakukan dengan sistem sorogan (para santri membaca kitab di hadapan guru), bandungan (guru membaca kitab di hadapan para santri), dan musyawarah a la ponpes klasik.

Namun, seiring tuntutan zaman yang kian kompetitif, pihak pengelola mau tidak mau, harus merespon tuntutan itu. Bentuk respon itu misalnya, pihak pengelola memasukkan sistem pengajaran Bahasa Arab modern, Bahasa Inggris, mendirikan pendidikan formal (MTs dan SMA), dan berbagai kegiatan ekstra (meliputi hidup berorganisasi, kepramukaan, PMR, Paskibra, olah raga, drum band, marawis, komputer, kesenian, muhadharah dan qira’ah al-Qur’an). Semua itu diniatkan untuk memberikan bekal yang memadai pada para santri, untuk menghadapi era yang semakin global. Disamping menguasai keilmuan salaf, para santri juga dituntut menguasai keilmuan modern. Itulah idealitas yang seharusnya dimiliki generasi muslim saat ini.

Selain itu, pihak pengelola juga melakukan berbagai pembinaan, baik mental maupun ketrampilanan, dengan membentuk Organisasi Pondok Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ). Semua santri, baik santri salaf maupun semi salaf, diharuskan terlibat dalam organisasi kesantrian itu. Adapun bidang-bidang garapan yang ditangani OPPQ, meliputi:

 

Bidang Garapan

Jenis Kegiatan

1. Keamanan

Perijinan santri/piket malam/penghukuman

2. Ta’lim

Klasifikasi sorogan/kursus bahasa (Arab/Inggris)

3. Da’wah

Pengelompokan da’wah/muhadharah

4. Qira’at

Pengelompokan ngaji al-Qur’an

5. Kesenian

Qosidah/kaligrafi

6. Keolahragaan

Sepakbola/voly/basket/tenis meja

7. UKS

P3K

8. K-3

Piket kebersihan/pertamanan/pertanian

9. Peralatan

Listrik/jet pump/sarana lainnya

10. Dan lain lain

 

Terkait kurikulum pengajaran, pengelola Ponpes menerapkan sistem kurikulum terpadu; yaitu kurikulum dari Depdiknas/Depag dengan pengembangan Kurikulum Pondok Pesantren. Untuk mewujudkan dan mensukseskan program kurikulum terpadu itu, pengelola melibatkan berbagai tenaga pendidik yang amanah, profesional, berdedikasi tinggi dan berkompeten di bidangnya.

Demi menunjang efektifitas belajar para santri, pengelola juga melengkapi sarana pendidikan dengan mendirikan Gedung Belajar Permanen, Laboratorium IPA, Ruang Perpustakaan, Gedung Serbaguna, lapangan olah raga, sarana ibadah, work shop, pengadaan peralatan kesenian, dan sebagainya. Itulah keuntungan lain yang diperoleh para santri, bila belajar di Pondok Pesantren Qothrotul Falah yang terletak 20 km Barat Daya Kabuten Lebak itu. Para santri bisa konsen balajar, karena ditunjang sarana dan prasarana yang memadai.

Harapannya, semoga Pondok Pesantren Qothrotul Falah bisa turut serta membantu menciptakan insan-insan modern yang faqih fi al-din (menguasai ilmu agama) dan bermanfaat secara luas bagi masyarakat. Amin![]

(Tulisan Dede Sa’adah Syatibi, S.Th.I dan Ade Bujhaerimi, S.Pd.I/Keduanya Pengurus Pondok Pesantren Qothrotul Falah).




5 Tertib Qi Falah

1. Tertib Waktu

2. Tertib Administrasi

3. Tertib Belajar

4. Tertib Mengajar

5. Tertib Lingkungan


Trilogi Qi Falah

1. Berakhlak Mulia

2. Ukhuwah Islamiah

3. Disiplin Tinggi