Pondok Pesantren Qothrotul Falah
Jl. Sampay-Cileles Km. 5 Ds. Sumurbandung
Kec. Cikulur Kab. Lebak Prop. Banten 43256

E-mail : info@qothrotulfalah.com
Phone : 0813 1777 3857 0812 8262 4775           
0819 1096 1388
Kamis Juli 31, 2014
Degradasi Moral Remaja*)
Selasa, 28 May 2013 16:33

Oleh Uyun Rika Uyuni**)

MASA REMAJA adalah masa transisi sekaligus masa kegemilangan. Dikatakan masa transisi karena masa ini adalah masa perpindahan dari usia kanak-kanak menuju usia remaja, usia yang menuntut kedewasaan. Di samping itu, pada masa remaja manusia bisa melakukan banyak hal yang produktif dalam hidupnya. Kekuatan fisik yang mendukung, juga semangat muda yang menggelora, menjadikan remaja sebagai tonggak peradaban manusia.

Beradab atau tidaknya suatu bangsa, dapat dilihat dari perilaku remajanya, terlebih pada aspek moral dan akhlaknya atau budi pekerti luhur. Bangsa yang memiliki pemuda yang santun, pekerja keras dan bertanggung jawab serta mempunyai loyalitas tinggi, maka dapat dipastikan bangsa itu ke depannya akan menjadi bangsa yang bermartabat. Sebaliknya, jika penerus bangsa atau lebih tepatnya para remajanya memiliki akhlak yang menyimpang, tidak menutup kemungkinan bangsa akan semakin mudah melahirkan degradasi moral yang tidak sesuai norma-norma pada diri remaja sendiri.1)

Dalam artikelnya, “Degradasi Moral Remaja, Salah Siapa?”, Triono – Staff Pengajar FISIP UMPTB Menggla – menjelaskan, degradasi moral harus menjadi keprihatinan mendalam bagi suatu bangsa, karena tulang punggung bangsa akan rapuh termakan hancurnya moral ini. Padahal moral adalah cerminan hidup bagi penegak bangsa. Pemuda adalah harapan bangsa. Di pundaknyalah masa depan bangsa dipertaruhkan. Jika pemudanya hancur, maka hancurlah bangsa. Sering kita terlena dengan hal-hal kecil yang dapat menyebabkan bangsa ini hancur. Keluar masuknya bangsa asing pada suatu bangsa menjadikan budaya asli bangsa ini tergantikan dan terabaikan, sehingga budaya baru itu membuat anak tidak mau lagi mengenal budaya lamanya, yang seharusnya menjadikan budaya sebagai pedoman hidupnya.

Di zaman yang serba modern ini, remaja semakin lupa dengan apa yang seharusnya mereka kerjakan sebagai generasi penerus; kewajiban belajar, patuh pada orang tua dan juga agama. Para remaja sekarang lebih mementingkan hura-hura daripada menjalankan kewajiban. Mereka tidak lagi mempertimbangkan apa yang akan terjadi ke depan setelah apa yang mereka lakukan. Padahal, selain merugikan diri mereka sendiri, juga dapat merugikan bangsa dan tempat dimana mereka tinggal. Hal inilah yang paling ditakutkan; moral bangsa terabaikan. Banyak orang tua kurang memperhatikan kehidupan buah hatinya. Mereka cenderung memenuhi kebutuhan fisik semata, dengan mengabaika kebutuhan ruhani mereka.

Para orang tua sering sibuk dengan profesi mereka masing-masing. Sementara anak dipercayakan pada orang yang kurang berwenang terhadap diriya. Itulah yang menyebabkan anak hidup dengan jalan mereka sendiri, tanpa arah dari orang tua. Mereka tidak menyadari yang mereka lakukan adalah awal dari hancurnya moral mereka. Yang mereka tahu hanyalah mencari kesenangan untuk menghibur hatinya, dengan tidak mementingkan halal dan tidaknya. Sedangkan orang tua mereka tidak mengetahui sama sekali. Jika kebanyakan orang tua seperti ini, maka nasib bangsa ini menjadi taruhanya. Dengan demikian peran serta orang tua dan lingkungan sangat penting dalam pengawasan pertumbuhan moral anak sebagai generasi penerus.2)

Apa Degradasi Moral?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, degradasi secara harfiah dimaknai sebagai kemunduran, kemerosotan atau penurunan.3) Sedangkan moral dimaknai sebagai (ajaran) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya.4) Di dalam Tafsir al-Qur’an Tematik Seri 3: Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik dijelaskan, moral secara kebahasaan berasal dari ungkapan bahasa latin mores yang merupakan bentuk jamak dari kata mos yang berarti kebiasaan atau adat kebiasaan.5)

Dengan demikian, degradasi moral remaja adalah penurunan kepekaan budi pekerti atau kelakuan yang memiliki norma-norma luhur pada diri remaja. Akhlak, etika, moral dan susila merupakan prinsip atau aturan hidup manusia untuk menakar martabat dan harkat kemanusiaannya. Semakin tinggi moral dan akhlak yang dimiliki oleh seseorang, semakin tinggi pula harkat dan martabatnya. Sebaliknya, semakin rendah kualitas moral seseorang, maka semakin rendah pula kualitas kemanusiaannya.6)

Basyar Isya, dalam karyanya Bening Hati mengatakan; “Kunci bagi orang-orang yang ingin sukses, yang benar-benar ingin merasakan indah dan mulianya hidup, adalah orang yang sangat memelihara keindahan akhlaknya dan kesucian hatinya”.7) Penjelasan ini menunjukkan bahwa akhlak atau moral menempati posisi yang penting kaitannya dengan kesuksesan karir atau masa depan seseorang. Mengapa? Ini tak lain karena akhlak atau moral merupakan bahan pokok dalam diri seseorang. Seseorang yang memiliki hati yang sehat, tak ubahnya memiliki tubuh yang sehat. Ia akan berfungsi optimal. Ia akan mampu memilih dan memilah setiap rencana atau sesuatu tindakan, sehingga setiap yang akan diperbuatnya benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu berdasarkan hati nurani yang bersih.8) Itulah pentingnya menata hati, sebagai bahan pokok kemuliaan akhlak. Ahli hikmah berkata; “Kebaikan serta kecantikan rupa tanpa disertai akhlakul karimah bagaikan bunga yang berada di atas lumpur.”9) Sayangnya, kebanyakan – meskipun tidak semuanya begitu – dari kita telah lalai merawat dan menjaga hati sebagai sumber moral ini.

Faktor-faktor Degradasi Akhlak Remaja

Ada beberapa faktor utama penyebab menurunnya akhlak remaja. Dalam artikelnya yang berjudul “Organisasi: Upaya Meredam Degradasi Moral Remaja”, Shirhi Athmainnah menjelaskan faktor-faktor itu, yaitu:

1). Budaya baca sangat rendah. Remaja Indonesia lebih senang dan terlihat bergengsi ketika menggenggam HP/Tablet Pc dan sejenisnya dari pada memegang buku tebal dan usang.
2). Forum diskusi yang kian dihindari. Remaja Indonesia lebih senang bergosip mengenai selebritis kegemarannya, dibanding berdiskusi tentang perjuangan para pahlawan, sirah nabawiyah, ilmuwan dan sebagainya.
3). Peran keluarga yang kurang dominan. Keluarga tidak bisa lepas dari tanggung jawab terhadap degrdasi akhlak yang terjadi pada remaja. Sehebat apapun remaja, pastilah ia berasal dari keluarga. Pola didik dan pola asuh dari orang tua pastilah sangat berefek pada mereka.
4). Jauhnya remaja dari agama. Agama bukan lagi jadi pegangan, tapi hanya mata pelajaran satu minggu sekali saja. Tidak akan merugi sama sekali jika meninggalkan shalat. Namun akan rugi jika satu hari tidak memegang HP.
5). Mengidolakan orang yang salah dan bermasalah. Sebut saja selebritis, yang jelas-jelas punya kepribadian buruk, tetap saja disanjung dan dipuja tiada henti. Rasulullah Saw seakan tergeser ribuan kilometer. Teladan yang harusnya dicontoh oleh remaja muslim, seakan tergeletak pada kisah-kisah nabi dalam buku-buku Islam semata.10)

Tak dapat dipungkiri memang, dalam dasawarsa terakhir ini, perkembangan media massa dan teknologi begitu cepat. Sekat-sekat batas negara menjadi hampir tidak ada, karena kemajuan teknologi. Hanya dengan mengakses internet ataupun menonton media televisi, setiap orang dengan mudah mendapatkan informasi dari belahan dunia hanya dengan hitungan detik. Namun, kemajuan teknologi tersebut ibarat pisau bermata dua. Bisa menguntungkan, juga merugikan. Misalnya, sebagai dampak pengadopsian budaya luar yang berlebihan dan tak terkendali oleh sebagian remaja. Persepsi budaya luar ditelan mentah-mentah tanpa mengenal lebih jauh nilai-nilai budaya luar itu secara arif dan bertanggung jawab. Tak dipungkiri pula, era globalisasi telah membuat kehidupan mengalami perubahan yang signifikan, bahkan terjadi degradasi moral remaja dan sosial budaya yang cenderung kepada pola-pola perilaku yang menyimpang. Akibat penyimpangan ini, banyak moral para pemuda yang hancur. Perilaku pemuda tidak mungkin dapat membangun bangsanya jika demikian halnya. Terlalu sibuknya pemerintah dengan berbagai macam masalah ekonomi, politik dan sosial. Misalnya kenaikan sembako, maraknya kasus korupsi, kecelakan lalu lintas, serta bencana alam, membuat pemerintah mengenyampingkan masalah mengenai degradasi moral anak bangsa, sehingga moral para remaja mengalami tingkat degradasi yang tinggi. Untuk itu, moral para pemuda sekarang sangatlah perlu dibenahi dan diperbaiki.11)

Terkait hal ini, seorang pendeta perempuan di Gereja Taman Aries Kebun Jeruk menyatakan, anak-anak sekarang lebih peduli pada dering HP daripada suara ibunya yang memanggil-manggil. Dering HP yang hanya sekali, mereka langsung mendengarnya dan membuat mereka langsung beranjak dari tempak duduknya untuk sesegera mungkin menghampiri HP itu. Namun suara ibunya yang memanggil-manggil berkali-kali seakan tak didengarnya dan ia dengan santainya tetap sibuk bermain PS atau menonton televisi. “HP hanya berbunyi sekali mereka langsug bangkit dari duduknya dan terkadang berlari. Sedangkan suara ibu atau bapaknya memanggil berkali-kali, mereka cuek saja. Inilah cerminan anak-anak sekarang,” jelasnya prihatin. Itulah cerita seorang pendeta yang beberapa kali silaturahim ke Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Astagfirullah!

Cerita itu membuktikan, teknologi yang semakin berkembang, sangat berpengaruh terhadap perilaku remaja sekarang. Walaupun peran orang tua sangat berpengaruh terhadap perilaku mereka, namun jika orang tua kurang memperhatikan tingkah polah anaknya, maka jangan salahkan keadaan jika anaknya kelak melakukan hal yang menyimpang. Lebih-lebih remaja yang lemah iman dan spiritualnya, yang berada dalam posisi kehidupan yang keras dalam masyarakatnya. Tak mustahil, lingkungan yang dikuasai budaya menyimpang itu membuat remaja yang tadinya kuasa menjaga akhlak, kini tidak menutup kemungkinan akan terbawa arus penyimpangan itu.

Tentu saja, masih banyak lagi faktor penyebab degradasi moral. Siapakah yang bertanggungjawab atas semua kondisi yang memprihatinkan ini? Yang bertanggungjawab atas semua ini adalah semua elemen bangsa. Mulai dari pejabat sampai rakyat jelata. Namun, ada yang sewajarnya sangat bertanggung atas situasi ini, yang di dalam dirinya mengalir darah juang yang deras, pemikiran yang cerdas dan hati yang ikhlas; yakni pemuda Islam. Islam sebagai agama rahmat yang diwakili oleh para pemudanya, dapat menjadi tonggak perjuangan untuk meluruskan akhlak umat. Nabi Muhammad Saw sebagai teladan telah berpesan bahwa ia diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak. Remaja Islam sebagai tongkat estafet ajaran Islam, seharusnyalah  bertugas mengaplikasikan warisan Nabi yang mulia ini.12)

Dampak Degradasi Moral Remaja

Menurut hemat penulis, diantara dampak yang sangat potensial ditimbulkan oleh degradasi moral, adalah:
1)    Terjadinya penurunan relijius remaja. Salah satu contohnya adalah jarang sekali remaja berada di masjid untuk shalat berjamaah, karena mereka lebih mementingkan nongkrong di jalan dari pada di masjid. Jika hal ini terjadi, apalagi sampai mereka meninggalkan kewajiban shalat dan kewajiban lainnya, maka tentulah niatan untuk membentuk pribadi yang luhur dan berakhlak mulia akan sulit terejawantahkan.
2)    Pergaulan bebas. Pergaulan yang sedang dijalani oleh banyak remaja saat ini sudah melampaui batas kewajaran. Seperti merokok, seks bebas, narkotika dan sebagainnya. Inilah masalah yang harus diselesaikan secara arif bijaksana. Setiap permasalahan niscaya ada penyebab dan ada cara mengatasinya. Di usianya yang dini, banyak remaja yang telah terlibat pergaulan bebas. Ada beberapa peristiwa yang memilukan. Misalnya, tak sedikit remaja puteri yang rela menjual diri demi mendapat uang secara instan, hanya untuk membeli HP, baju dan untuk gaya hidup ala metropolis lainnya. Dalam pergaulannya, remaja mungkin bisa dipengaruhi entah itu oleh dirinya sendiri atau pun orang lain. Sebab itu, penyelesaiannya juga harus melibatkan dirinya dan pihak lain.
3)    Kriminalitas. Beragam bentuk kriminalitas yang dilakukan remaja bukan barang baru lagi di negeri ini. Mulai dari menjambret, memalak, merampok, membunuh, memperkosa, tawuran, hingga geng motor, dll. Kriminalitas remaja tersebut kini mengalami peningkatan secara kuantitas, jumlah maupun motifnya. Jika hal ini dibiarkan, maka akan kian merusakkan moral remaja, yang karenanya harus diatasi secara menyeluruh.

Menepis Degradasi Moral Remaja

Diantara kegiatan yang bisa menepis degrasai moral, adalah bergabung dengan organisasi-organisasi yang memiliki track record positif. Menurut Shirhi Athmainnah, banyak orang yang dibesarkan oleh organisasi atau karena organisasi yang didirikannya. Dalam tulisan ini, tentu saja titik tekan yang ditawarkan bukan mengajak remaja muslim berlomba-lomba mendirikan organisasi. Dengan melihat begitu banyaknya organisasi yang telah berdiri dan bergerak di Indonesia, seyogyanya telah cukup untuk mewadahi para remaja muslim untuk mengikuti satu atau beberapa organisasi yang ada. Aktif dan loyal dalam suatu organisasi tidak ada ruginya sama sekali. Selain menambah ilmu dan pengalaman, organisasi adalah instrumen paling efektif untuk mewadahkan kebaikan dan membentuk kepribadian.

Lebih jauh lagi, Shirhi memaparkan pengertian organisasi. Dituliskannya, menurut Stoner, organisasi adalah suatu pola hubungan melalui orang-orang di bawah pengarahan manajer untuk mengejar tujuan bersama. James D. Mooney mengemukakan, organisasi adalah bentuk satiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan menurut Chester I. Bernard, organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.13)

Jauhnya remaja Islam dari aktivitas organisasi, tidak mengejutkan jika kegiatan-kegiatan sia-sialah yang senantiasa terlukis dalam kegiatan sehari-hari mereka. Dengan berorganisasi, remaja akan belajar bertanggungjawab. Misalnya akan menyelenggarakan sebuah pentas seni, maka susunan acara dan segala keperluannya harus direncanakan sematang mungkin agar acara dapat berjalan sesuai yang diharapkan.

Ada beberapa unsur organisasi yang sangat penting bagi remaja, sehingga mereka dimungkinkan akan terhindar dari degradasi moral. Misalnya, hubungan antar anggota yang menjadi dasar kerjasama antar anggota, aturan yang mengikat antar anggota, sumber energi yang mendukung gerak kelompok atau orgnisasi sehingga organisasi selalu dinamis, proses kegiatan organisasi yang dilakukan oleh semua orang untuk mencapai tujuan tertentu. Selain itu, organisasi juga menjadi wadah untuk menyalurkan bakat dan minat, belajar bertanggung jawab, mensosialisasikan kebaikan dan meredam kegiatan yang sia-sia.14)

Dengan demikian, masuk organisasi akan meredam degradasi moral yang mungkin timbul. Waktu yang digunakan akan bermanfaat. Dapat bergaul dengan teman senasib, diskusi-diskusi dapat dilaksanakan, sehingga mendorong minat baca dan berakhir dengan tumbuhnya kesadaran untuk menjadi pribadi yang berkarakter. Terjun ke dalam organisasi tidak lain juga untuk mendapatkan teman yang baik dan saling mendukung. Harapan ini sesuai Hadis Nabi Muhammad Saw: “Seseorang dapat dinilai dari kadar agama temanny. Karena itu, hendaknya salah satu diantara kalian meneliti terlebih dahulu yang akan kalian jadikan teman.”(H.R.Al-Hakim).15)

Mencegah Degradasi di Kalangan Umum

Selain berorganisasi, sebagaimana dinyatakan Shirhi Athmainnah, sesungguhnya banyak juga jalan atau cara untuk mencegah penurunan moral dan tentunya peran orang tua sangat penting dengan mengawasi, memberi pemahaman dan penanaman nilai-nilai agama. Melalui hal-hal ini, diharapkan generasi sekarang selamat penurunan moral.

Menurut hemat penulis, ada juga cara yang lain yang bisa mencegah degradasi moral remaja dan hal ini penting diperhatikan, misalnya:

1.    Kesadaran diri sendiri. Jika remaja diarahkan untuk memahami, sesungguhnya untuk apa dirinya diciptakan dan siapa sejatinya dirinya yang hina itu, maka diharapkan dia akan memanfaatkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan yang positif, sehingga ia tidak menyia-nyiakan waktunya dengan melakukan hal-hal yang dilarang agama. Kesadaran diri ini tentu saja  harus didorong oleh diri sendiri secara internal dan didorong oleh orang lain secara eksternal.

2.    Kekuatan iman. Orang yang bisa mencegah hawa nafsunya untuk melakukan  maksiat, niscaya ia akan terhindar dari degradasi moral. Dalam konteks zaman yang semakin error ini, keimanan menjadi barang berharga yang mahal harganya dan karenanya harus dipegangi teguh. Harus disadari pula, bergegang teguh pada keimanan pada zaman yang kian error ini, ibarat memegang bara api yang sangat panas. Tidak dipegang itu penting dan dipegang sangat panas dan tidak mengenakkan. Namun insya Allah, yang tidak mengenakkan itulah justru yang menyelamatkan dan membuat kenikmatan di akhirat nanti.

3.    Merasakan kehadiran Allah. Mereka yang bertanggungjawab atas perbuatannya tentu akan merasakan kehadiran Allah di mana saja. Setiap tindakan apapun yang dilakukan pasti akan merasa dikontrol oleh Allah. Dengan kontrol Allah ini, diharapkan perbuatan yang akan dilakukan menjadi terjaga. Yang bersangkutan tidak  berani melakukan penyimpangan dari nilai-nilai agama, karena Allah senantiasa memantau (muraqabah) dan akan memintainya pertanggungjawaban kelak. Pertanggungjawaban niscaya terlaksana dan mustahil dilewati oleh hamba-hamba-Nya yang melakukan penyimpangan semasa hidupnya. Perasaan merasa diawasi atau dipantau oleh Allah inilah yang dalam istilah Nabi Muhammad sisebut dengan ihsan, suatu keyakinan bahwa Allah senantiasa melihat gerak-gerik kita, sekecil apapun itu. Dengan perasaan ini, semestinya kita pada umumnya, harus merasa malu jika kita kedapatan sedang berada di tengah-tengah orang yang sedang berpesta kemaksiatan. Sebaliknya, seharusnya kita malu juga jika Allah memantau sekelompok orang yang sedang melakukan kebaikan, sementara kita tidak berada di dalamnya.

Hal-hal Yang Harus Diperhatikan

Dijelaskan dalam buku Bening Hati, Basyar ‘Isya menjelaskan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk meredam degradasi moral remaja, baik secara internal maupun eksternal. Diantaranya:

1.    Menghidupkan hati nurani. Kalau ada satu keburuntungan manusia dibandingkan dengan hewan, maka itu adalah manusia memiliki kesempatan untuk ma’rifat (kesanggupan mengenal Allah). Kesanggupan ini dikaruniakan Allah, karena manusia memiliki akal dan hati nurani. Inilah karunia Allah yang sangat besar terhadap manusia. Orang-orang yang hatinya benar-benar berfungsi akan berhasil mengenal dirinya dan pada akhirnya akan berhasil pula mengenali tuhannya, sehingga keutuhan akhlaknya akan tetap terjaga. Tidak ada kekayaan termahal dalam hidup ini kecuali keberhasilan mengenal diri dan tuhannnya.

Orang-orang yang sepanjang hidupnya tidak pernah mampu mengenal dirinya dengan baik, tidak akan tahu bagaimana harus menyikapi hidup ini. Yang ada hanyalah menyepelekan kehidupannya. Seakan-akan tidak akan pernah ada azab Allah. Akibatnya semua kalkulasi tidak bisa tidak hanya diukur oleh aksesoris keduniaan belaka. Ia tidak akan mempedulikan dari mana datangnya dan ke mana perginya, karena yang paling penting baginya adalah ada dan ketiadaannya.

Camkanlah! Hatimu hanya akan tentram jika engkau selalu ingat kepada Allah. Dzikr Allah syifa’ al-qulub (ingat Allah adalah obat hati). Untuk itu kita harus senantiasa berjuang sekuat-kuatnya agar hati ini jangan sampai terlalaikan dari mengingat Allah.16)

2. Menjaga lisan. Lidah bagaikan pisau yang tajam, yang karenanya setiap ucapan pasti berbahaya bagi diri sendri kecuali ucapan dalam kebaikan. Akibat lain dari memiliki akhlak dan hati yang kusam, sesat dan kotor tidak lain dari kalimat lisan yang tak bermutu. Tiap-tiap kata yang keluar dari lisan, kata Syekh Ibnu Atha’illah al-Sakandari, pastilah membawa corak bentuk hati dan perilaku orang tersebut. Betapa tidak? Hati diibaratkan teko. Teko hanya bisa mengeluarkan isinya. Bila ia berisi air kopi, maka yang keluar pun pastilah air kopi. Demikian pula jika isi airnya bening, maka yang keluarpun pastilah air bening. Terjadinya lisan seseorang menghamburkan kata-kata yang kasar, menyakitkan, jorok dan sia-sia, tidak lain bersumber dari hati yang kotor pula, sehingga nampak jelas menggambarkan akhlak orang tersebut. Untuk itu jagalah lisan mu!17)

3. Memilih pergaulan. Allah Swt telah tegas melarang hamba-hamba-Nya berteman dengan setan. Karena, “Siapa yang mengambil setan menjadi temannya, maka setan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.” (Q.s. An-Nisa [4]: 38). Seorang bisa tergelincir dalam bergaul, berteman dengan setan dalam arti yang sesungguhnya. Berteman dengan setan bisa juga dalam wujud lain, yakni bergaul dengan mereka yang tenggelam memperturutkan hawa nafsunya, gemar berbuat maksiat dan maksiat. Selama hidupnya hanya sibuk dengan urusan dunia semata. Mereka tidak tahu arti hidup yang sesungguhnya.

Dan tentu saja mereka termasuk orang-orang yang merugi di dunia maupun di akhirat. Mereka sangat jauh dari pertolongan Allah dan sangat dekat dengan murka Allah. Untuk itu berhati-hatilah dalam memilih teman, karena ketidakhati-hatian kita dalam memilih teman akan menimbulkan akibat yang tidak sepele. Bagaimana tidak? Seseorang itu lama-kelamaan akan mengikuti perilaku temannya. Karena itu, sesorang hendaknya memperhatikan siapakah yang harus dipergaulinya.

Siapa yang lingkungan pergaulannya orang-orang yang tidak mengenal Allah, maka hampir dapat dipastikan pembicaraannya, gerak-geriknya dan hobinya, pasti tidak akan jauh dari berkisar untuk memuaskan hawa nafsu belaka.18) Untuk itu berhati-hatilah dalam bergaul ataupun mengambil keputusan. Jadilah remaja yang produktif dan bermanfaat, sebagai generasi penerus bangsa ini. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 27 Mei 2013

FOOT NOTES

*)Makalah disampaikan pada Halqah Remaja “Triple Ing Community” (Triping.Com), Jum’at, 31 Mei 2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**)Aktivis Triple Ing Cummunity, Pengurus Pondok Baca Qi Falah dan Siswi Kelas X-B SMA Qothrotul Falah asal Citeras Lebak Banten.
1)    Shirhi Athmainnah, “Organisasi: Upaya Meredam Degradasi Moral Remaja”, http://alishlahfamily.blogspot.com/2012/05/organisasi-upaya-meredam-degradasi.html, Kamis, 24 Mei 2012.
2)    Triono, “Degradasi Moral Remaja, Salah Siapa?”, Radar Lampung, Sabtu, 26 Desember 2009.  
3)    Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 245.
4)    Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 754.
5)    Kementerian Agama Republik Indonesia, Tafsir al-Qur’an Tematik Seri 3: Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik (Jakarta: Dirjen Bimas Islam, 2012), h. 9.
6)    Shirhi Athmainnah, “Organisasi: Upaya Meredam Degradasi Moral Remaja”, http://alishlahfamily.blogspot.com/2012/05/organisasi-upaya-meredam-degradasi.html, Kamis, 24 Mei 2012.
7)    Basyar Isya, Bening Hati (Bandung: MQS Pustaka Grafika, 2001).
8)    Basyar Isya, Bening Hati, h. 53.
9)    M.A. Fuad Hasyim, Butir-butir Hikmah Sufi Jilid III (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004), h. 114.
10)    Shirhi Athmainnah, “Organisasi: Upaya Meredam Degradasi Moral Remaja”, Kamis, 24 Mei 2012.
11)    Triono, “Degradasi Moral Remaja, Salah Siapa?”, Radar Lampung, Sabtu, 26 Desember 2009.  
12)    Triono, “Degradasi Moral Remaja, Salah Siapa?”, Radar Lampung, Sabtu, 26 Desember 2009.
13)    Shirhi Athmainnah, “Organisasi: Upaya Meredam Degradasi Moral Remaja”, Kamis, 24 Mei 2012.
14)    Shirhi Athmainnah, “Organisasi: Upaya Meredam Degradasi Moral Remaja”, Kamis, 24 Mei 2012.
15)    Shirhi Athmainnah, “Organisasi: Upaya Meredam Degradasi Moral Remaja”, Kamis, 24 Mei 2012.
16)    Basyar Isya, Bening Hati, h. 57
17)    Basyar Isya, Bening Hati, h. 81
18)    Basyar Isya, Bening Hati, h. 93

DAFTAR PUSTAKA
1.    Basyar Isya. Bening Hati. Bandung: MQS Pustaka Grafika, 2001.
2.    Kementerian Agama Republik Indonesia. Tafsir al-Qur’an Tematik Seri 3: Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik. Jakarta: Dirjen Bimas Islam, 2012.
3.    M.A. Fuad Hasyim. Butir-butir Hikmah Sufi Jilid III. Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004.
4.    Shirhi Athmainnah. “Organisasi: Upaya Meredam Degradasi Moral Remaja”, http://alishlahfamily.blogspot.com/2012/05/organisasi-upaya-meredam-degradasi.html, Kamis, 24 Mei 2012.
5.    Tim Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.
6.    Triono, “Degradasi Moral Remaja, Salah Siapa?”. Radar Lampung: Sabtu, 26 Desember 2009.  

Share
Dibaca : 2934 kali
 

Add comment

Security code
Refresh