Kategori: Berita

Uji-coba Hafalan Mundur Santri Cilik

Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten tengah serius mempersiakan pembukaan pesantren anak-anak usia sekolah dasar untuk Tahun Ajaran 2021-2022, sebagai solusi situasi anak-anak saat ini yang digempur oleh budaya HP atau game. Santri cilik ini akan dikelola langsung oleh Nurul H. Maarif dan Dede Saadah Syatibi melalui lembaga Pondok Pesantren Anak-anak (PPAA) Qothrotul Falah.

Sembari menunggu kematangan segala persiapan, Pengelola PPAA Qothrotul Falah menguji-coba penerapan kegiatan pesantren anak-anak ini selama 25 hari pertama. Setidaknya terdapat 21 santri cilik yang dididik, baik kelas IV, V maupun VI.

Anak-anak usia sekolah dasar itu digembleng oleh guru-guru yang sudah detraining terlebih, terutama hafalan ayat-ayat Alquran. Untuk sementara, mereka masih sekolah formal di luar pesantren, namun untuk ajaran baru kelas 1 insya Allah santri-santri cilik itu akan mulai sekolah di dalam pesantren.

Dikatakan Pengelola PPAA Qothrotul Falah, Bunda Dede Saadah Syatibi, kegiatan uji coba 25 hari ini akan dilanjutkan nanti setelah Idul Fitri. Bunda menyampaikan, selama training 25 hari, mereka telah berhasil menghafalkan Qs. al-Mulk dan sebagian besar Juz  ‘Amma.

“Untuk menuntaskan Juz ‘Amma insya Allah akan kita lanjutkan usai lebaran. Dan insya Allah Juli 2021 kita benar-benar akan membuka santri baru usia kelas 1 sekolah dasar. Mohon doa dari semuanya,” ujar Bunda.

Menurut Bunda, untuk ukuran anak seusia mereka, ketercapaian hafalan selama 25 hari ini lebih cepat dari target yang ditetapkan. Karena itu, pada Senin, 26 April 2021, di Majelis Putera di hadapan para guru, wali santri dan santri, hafalan mereka ditampilkan dan diuji-coba.

 “Mereka sudah bisa menghafal dengan cara menyambung ayat, tebak ayat dan bahkan hafalan mundur dari ayat 30 ke 1. Mereka menghafal dengan lancar dan bahkan langsung dites oleh para guru dan hadirin,” katanya.

“Silahkan saja dites oleh siapapun, insya Allah mereka mampu menjawabnya,” imbuhnya.

Bagaimana mereka menghafalkan dalam waktu yang relative tidak lama?

Diceritakan Bunda, mereka menghafal  tanpa beban hafalan. “Mereka belajar dengan sangat santai. Bahkan lebih banyak mainnya. Kami tidak membebani mereka dengan menghafal. Tentu ada metode khusus yang kami terapkan pada mereka,” jelasnya.

Bunda berharap, semoga ketercapaian target ini memberikan motivasi bagi siapapun, terutama santri-santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten.  

“Dan mudah-mudahan ini menjadi penanda kesiapan kami untuk membuka pesantren anak-anak di tahun ajaran baru ini,” ujarnya.

Tak lupa, Bunda mengharapkan doa dan support dari semua pihak, supaya rencananya ini menghasilkan manfaat bagi banyak orang.

“Bagi siapapun yang ingin mendaftarkan putera-puterinya, yang usia 7 tahun, silahkan datang ke pesantren kami, karena kuotanya kami batasi. Insya Allah akan kami bombing dengan sebaik mungkin,” katanya lagi.

Usai uji-coba itu, mereka berbuka bersama dengan para guru. Al-hamdulillah![nhm]
 

Kategori: Berita

Angkatan XX Santuni Santri Yatim

Kepedulian sosial pada anak-anak yatim dan yatim piatu ditunjukkan oleh Alumni Pondok Pesantren Qothrotul Falah Angkatan XX. Bertempat di Majlis Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak, mereka memberikan santuan pada 10 santri yang tidak mampu, Ahad, 25 Mei 2021 sore.

Mereka juga sekaligus memberikan santapan buka puasa bersama untuk guru-guru. Diantara guru-guru yang turut hadir adalah Ustadz Agus F. Awaludin, Ustadz H. Agus Badrussalam, Ustadz Mahfudz Husaini, Ustadz Subandi, Ustadz Apriadi, Ustadzah Hj. Dede Saadah Syatibi, Ustadzah Nining S. Wafy, Ustadzah Amanah dan lainnya.  

“Niat kami mengadakan acara santunan di pondok ini sebetulnya sudah ada sejak Ramadhan sebelumnya, namun belum terlaksana, karena satu dan lain hal. al-Hamdulillah pada tahun ini bisa terlaksana berkat partisipasi dari Angkatan XX,” ujar Syifa F. Fathiyah, salah satu perwakilan Angkatan XX yang hadir.

Syifa menyatakan, kegiatan santunan ini meneladani dan sekaligus mendapat support dari angkatan sebelumnya, yakni Angkatan XIX atau Genesis.

“Ada 10 santri yatim yang disantuni dan ditambah beberapa anak tahfidz. Dana yang terkumpul kami galang dari setiap anggota Angkatan XX dengan cara dicicil dari sebelum Ramadhan,” jelasnya.

Apa tujuan yang disasar?

“Tujuan dilaksanakannya acara ini adalah untuk menjalin silaturahmi dengan sesama, pun dengan guru-guru  dan pondok. Dan santunan ini pun dilaksanakan untuk saling berbagi di bulan suci ini,” katanya.

“Kegiatan ini mengusung tema Ramadhan Berkah dengan Sedekah, karena di setiap rezeki manusia ada hak anak yatim di dalamnya,” katanya lagi.

Syifa dan rekan-rekannya berharap kegiatan ini bisa mempererat tali silaturahim dan tali persaudaraan antara alumni dengan keluarga pesantren. “Semoga juga menjadi wasilah tersampaikannya barakah guru kepada kami,” ujarnya.

Ke depan, dikatakan Syifa, Angkatan XX juga berencana mengadakan kegiatan yang serupa secara rutin.  “Dan semoga bisa lebih besar lagi skalanya,” katanya.

Merespon kegiatan ini, Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) Nurul H. Maarif menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya. “Di tengah situasi pandemi, kita serba kesulitan, rupanya anak-anak kami memiliki kepedulian sosial yang patut dibanggakan. Inilah inti nilai kemanusian,” ujarnya. Nurul sendiri tidak bisa turut hadir karena mengikuti kegiatan lain di Serang Banten.

Dikatakannya, menyantuni anak yatim/yatim piatu adalah petintah Alquran dan sunnah, yang sudah semestinya dilakukan oleh setiap muslim yang berkecukupan. “Dan mereka ini, anak-anak yang masih muda dan secara umum belum punya pekerjaan tetap, memiliki kesadaran yang tinggi untuk mengamalkan ajaran agamanya. Ini patut menjadi teladan bagi alumni yang lain,” kata Pengelola Pondok Anak-anak Qothrotul Falah ini.

Tak lupa, Nurul H. Maarif menyampaikan terima kasih yang mendalam atas diselenggarakannya kegiatan ini. “Insya Allah rejeki kalian tidak akan berkurang melainkan terus bertambah dan bertambah, sesuai janji Allah Swt,” katanya.[sff/nhm]


Kategori: Berita

Alihkan Kecanduan Hape, Qothrotul Falah Terima Santri Anak-anak

Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten terus mempersiapkan segala sesuatunya untuk penerimaan santri baru usia sekolah dasar (SD) Tahun Ajaran 2021-2022. Setelah mendidik 11 gurunya ke Ponpes Assalim beberapa waktu lalu, kini persiapan lain juga terus dimatangkan.

Santri usia sekolah dasar ini nantinya akan ditampung di bawah Pondok Pesantren Anak-anak Qothrotul Falah (PPAA-QF) yang mengusung tagline “Tumbuh Cerdas Berakhlak Qur’ani”. Lembaga ini dikelola langsung oleh Dr. H. Nurul H. Maarif, M.A. (Pimpinan), Hj. Dede Saadah Syatibi, M.Pd. (Kepala Sekolah Dasar), Ahmad Turmudzi, M.Pd. (Kepala Madrasah Diniah), Nur Jannah, S.Pd. (Bendahara), Syifa F. Fajriyah (Sekretaris), M. Isnaini, S.E.I. (Media) dan sebagainya.  

Sebelum memasuki Ajaran Baru 2021-2021 pada Juli mendatang, Pengelola saat ini sudah menerima 23 santri baru Kelas VI SD, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka mukim secara penuh di pesantren. Mereka datang dari beberapa wilayah sekitar pesantren, dihantarkan orang tuanya pada Ahad, 28 Maret 2021.

“Mereka sebagai bahan latihan kita selama tiga bulan ke depan sampai datangnya ajaran baru dengan kedatangan anak-anak yang baru. Kita akan jadikan bahan evaluasi terkait menejemen, kurikulum, kegiatan harian, pengajaran, dll,” jelas Nurul H. Maarif.

Melalui kegiatan “uji coba” ini, Nurul berharap, program pondok anak-anak ke depan akan kian matang dan lebih baik. “Ketika anak-anak baru datang, insya Allah kami sudah lebih siap,” ujarnya.

Untuk 23 santri yang saat ini sudah mukim di PPAA-QF, mereka sudah menjalankan kegiatan rutin sebagaimana santri umumnya. Misalnya, mulai bangun malam untuk tahajud, berjamaah shalat wajib, belajar shalat sunnah, hafalan-hafalan surat, hafalan doa-doa dan sebagainya.

“Mereka sudah kita buatkan kurikulum dan target tersendiri sesuai jangka waktu mereka di pondok ini, yakni tiga bulan. Untuk anak-anak yang baru nanti kita juga sudah menyiapkan kurikulum dan targetnya,” ujarnya.

Di PPAA-QF ini, kata Nurul, ada dua program pendidikan yang diselenggarakan; Sekolah Dasar dan Madrasah Diniah. “Sekolah dasar ini untuk pengetahuan umum yang dikepalai Bunda Saadah. Dan Madrasah Diniah ini untuk pengetahuan agama yang dikepalai oleh Ustadz Ahmad Turmudzi,” katanya.

Disampaikan Nurul, untuk SD, lembaganya mengikuti kurikulum Kemendikbud Republik Indonesia. Bahkan pihaknya sudah berkoordinasi intensif dengan Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Lebak.

Sedangkan untuk Madin, target yang hendak dicapai adalah: Tahun I Tahsin Alquran, Tahun II Hafal Juz Amma, Surat-surat Pilihan dan Doa-doa, Tahun III Nahwu-Shorof Metode Praktis, dan Tahun IV-VI santri diberi pilihan jurusan Tahfidz Alquran dan Kitab Kuning.

“Insya Allah kami sudah menyiapkan semuanya dan insya Allah semua kegiatan akan dihandle oleh guru-guru yang memiliki kelayakan dan kecakapan,” katanya.

Dijelaskan Bunda Dede Saadah, usai pihaknya menerima 23 santri sebagai uji coba, ternyata cukup banyak pihak-pihak yang merespon pesantren anak-anak ini. Tiap hari pihaknya di-WA, ditanya tentang pembukaan pesantren anak-anak ini. Ada yang nanya brosur, nanya biaya, nanya program, dan sebagainya.

“Beberapa bahkan mau memindahkan anaknya. Tentu kenyataan ini menjadi perhatian kami untuk lebih serius lagi menyiapkan segala sesuatunya. Insya Allah kami siap menyongsong ajaran baru ini dengan lebih baik,” ujar Kepala SD Qothrotul Falah ini.

Menurut Bunda, kenapa pesantren anak-anak ini penting dihadirkan, ini karena situasi pandemik saat ini menghadirkan kekhawatiran di kalangan orang tua tentang proses belajar anak-anaknya.

“Mereka ini kan kebanyakan belajarnya daring. Kadang tidak terkontrol dengan baik oleh orang tuanya. Karena sering pegang HP, kita akui saja, anak-anak saat ini jadinya gemar main game, aplikasi hiburan dan bahkan banyak yang akhirnya kecanduan. Dari 23 anak yang sudah masuk pesantren anak-anak ini, ada beberapa yang nyaris tiap malam begadang. Bahkan sampai jam lima pagi hanya untuk main game. Ibadah atau belajar sudah tidak jadi perhatian lagi,” jelasnya.

Atas situasi ini, kata Bunda, maka pihaknya ingin membantu orang tua yang kesulitan mengarahkan anaknya. “Simpelnya, kami ingin menjadi solusi bagi anak-anak yang kehidupannya sudah mulai tidak normal, apalagi yang sampai psikiloginya gak bagus gara-gara keranjingan HP. Mereka harus didampingi dan diselamatkan masa depannya,” ujarnya.

Semoga saja, kehadiran Pondok Anak-anak Qothrotul Falah ini benar-benar menjadi solusi atas situasi yang mengkhawatirkan ini. Karena itu, doa dan dukungan dari semua pihak sangat diharapkan.[nhm]


Kategori: Berita

Siap Terima Santri Anak-anak, Pengelola Studi ke Assalim Gembong


Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten berencana melebarkan cakupan lembaga pendidikannya, dengan mendirikan Sekolah Dasar (SD) untuk santri-santri anak-anak. Saat ini, semua kesiapan sedang dimatangkan oleh Pengelola; baik fasilitas, menejemen pengelolaan, kurikulum, pembinaan maupun yang lain.

Dikatakan Nurul H. Maarif, Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) Qothrotul Falah, pengembangan ini diniatkan untuk memajukan Pondok Pesantren Qothrotul Falah, yang sejauh ini telah memiliki MTs dan SMA. Juga telah memiliki lembaga pendidikan nonformal seperti majlis taklim dan diniah kitab kuning.

“Semua diniatkan supaya pondok ini lebih baik dan manfaat lagi. Tentu banyak PR yang ada di depan mata. Insya Allah dengan keseriusan dan kesungguhan berbagai pihak, semua bisa diraih dengan maksimal,” ujar Nurul H. Maarif.

Kenapa anak-anak?

Nurul menjelaskan, ibarat pohon, anak-anak adalah tunas, yang bisa dibentuk menjadi seperti apapun. “Hidup matinya pohon tergantung bagaimana kita merawat tunasnya. Ini sama halnnya manusia. Bengkok atau lurusnya, sangat tergantung pendampingan di saat anak-anak,” ujarnya.

“Semoga dengan pendampingan sejak usia anak-anak, mereka kelak dewasanya akan menjadi manusia yang benar-benar berkualitas lahir dan batin,” katanya lagi.

Dikatakan NHM – sapaan akrabnya – target yang hendak dicapai oleh Pengelola, selama enam tahun santri anak-anak belajar, bisa dipilah menjadi beberapa level: Tahun I tuntas tahsin Alquran, Tahun II hafalan Juz Amma dan surat-surat pilihan beserta doa-doa, Tahun III pendalaman nahwu praktis, Tahun IV, V dan V dipecah menjadi dua konsentrasi.

“Yang ingin serius tahfidz Alquran, akan menekuni tahfidznya. Dan yang serius mendalami kitab kuning akan melanjutkan kitab kuningnya,” ujarnya. “Dan insya Allah semua dikelola oleh guru-guru yang amanah yang akan kami saring sebaik-baiknya,” imbuhnya.

Untuk kian mematangkan persiapan ini, Pengelola mengirimkan 11 guru dan santri senior untuk belajar di Pondok Pesantren Anak-anak Assalim Gembong Balaraja, pimpinan KH. Mahfudz Lubits dan Ny. Siti maliha, selama lima hari: Kamis-Senin (17-21 Maret 2021), dikomandani oleh Bunda Saadah. Mereka adalah Lely Damayanti, Isnanini, Vera Fitria Zulfa, Nur Asifah, Aliyatul Himmah, M. Misbahudin, Ahmad Faisal, Faqih Tasya Hidayatullah, Muhammad Fajar dan Sudirman.

Di sana, dijelaskan Bunda, mereka belajar tentang kurikulum, pengelolaan kamar, pembelajaran, penerapan aturan, sanksi, akhlak, dan sebagainya. Mereka berbaur langsung dengan para santri. Tidur bersama, makan bersama, mandi antri, dll.

“Banyak hal yang kami pelajari di sana. Dan masya Allah, pesantren ini pengelolaannya sangat maksimal, baik kurikulum maupun menejemen sosialnya. Di Assalim semua kurikulum terukur dan ada target yang jelas. Kita banyak belajar dari pesantren yang baru berdiri 10 tahun ini. Dan insya Allah kami akan menerapkan di tempat kami sejauh yang bisa dijalankan,” ujarnya.

Semoga saja, kegiatan studi banding ini memberikan banyak nilai positif bagi Pondok Pesantren Qothrotul Falah dan para santri. Semoga juga, apa yang direncanakan benar-benar bisa menjadi kenyataan dan memberikan banyak kemanfaatan.[nhm]
 


Kategori: Berita

Kapolres Lebak Silaturahmi ke Pimpinan Ponpes Qothratul Falah

LEBAK, beritajuang.com – Implementasikan program Sowan Sepuh dalam Commander Wish Kapolda Banten, Kapolres Lebak Polda Banten AKBP Ade Mulyana, SIK silaturahmi ke kediaman KH. Ahmad Satibi Hambali, Pimpinan Pondok Pesantren Qothrotul Falah Kp. Koncang Ds. Sumur Bandung Kec. Cikulur Kab. Lebak. (Selasa,16/3/2021)

Dalam Kunjungan tersebut Kapolres Lebak AKBP Ade Mulyana SIK didampingi Kasat Intelkam AKP Eddy Prastyo H., SE., Kapolsek Cikulur AKP H. Rohimat, Kanit Intelkam Polsek Cikulur AIPTU Jajat Sudrajat, Kanit 4 Sat. Intelkam Polres Lebak AIPDA Firmansah.

Kapolres Lebak Polda Banten AKBP Ade Mulyana,SIK mengatakan bahwa Sowan Sepuh merupakan Program Kapolda Banten dalam Commander Wish.

“Sowan Sesepuh merupakan Salah satu program Kapolda Banten dalam Commander Wish dengan Jargon Pendekar Banten ‘Polisi yang Empati,Ngayomi, Dekat dengan Rakyat Banten,” ujar Ade.

Ade menyampaikan, silaturahmi dengan berbagai tokoh, termasuk ulama di Lebak merupakan program yang penting bagi Polres Lebak.

“Untuk itu, melalui kegiatan Sowan Sepuh ini kita bisa bersilahturahmi dengan para ulama kita yang ada di wilayah hukum Polres Lebak,” ungkap Ade.

Ade menjelaskan tujuan dari silaturahmi ke ulama Lebak. “Ya, tujuan kami adalah untuk mempererat jalinan silaturahmi antara ulama dan umaro guna mewujudkan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif di wilayah hukum Polres Lebak,” katanya.
 
Melalui silaturahmi ini, Ade berharap dapat terjalin komunikasi antara Polri, khususnya Polres Lebak dan jajaran dengan para ulama serta tokoh masyarakat Lebak serta meminta doa agar Polri bisa menjalankan tugas sebaik-baiknya.

“Saya memohon doa dan dukungannya dari para ulama agar Polres Lebak dapat terus memelihara situasi kamtibmas yang mantap dan berharap agar pandemi Covid-19 ini segera berakhir, dan masyarakat Lebak dapat melakukan aktivitas seperti biasanya,” kata dia.(DRIE)

https://www.beritajuang.com/8383/sowan-sesepuh-kapolres-lebak-silaturahmi-ke-ulama-dan-pimpinan-ponpes-qothratul-falah-cikulur/

Kategori: Berita

Dakwahkan Islam Ramah, Fatayat NU Lebak Launching Fordaf

Pengurus Cabang (PC) Fatayat Nahdhatul Ulama Kab. Lebak secara resmi melaunching Forum Daiyah Fatayat (Fordaf), Sabtu (20/2/2021), di Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten.

Launching ini dihadiri oleh Ketua PCNU Kab. Lebak K. Aep Saefudin Asysyadzili S.Ag., Ketua PC Fatayat NU Lebak Wilda Tusururih, M.Pd., Ketua PC Muslimat NU Lebak Yayah Suhayah, M.Pd., pengurus PC Fatayat NU Lebak dan beberapa unsur gerakan wanita di Lebak.

Fordaf adalah program kerja di bawah Bidang Dakwah PC Fatayat, yang dikoordinatori oleh Hj. Dede Saadah Syatibi, M.Pd. Kegiatan launching ini diisi Pengajian Umum bertema “Ahlus Sunnah wa al-Jamaah” yang disampaikan oleh Dr. H. Nurul H. Maarif, M.A., yang juga Wakil Ketua PCNU Kab. Lebak.

Dikatakan Dede Saadah Syatibi, Fordaf adalah kepanjangan tangan Fatayat untuk menyampaikan nilai-nilai islam yang ramah, bukan marah, merangkul bukan memukul, rahmat bukan laknat, mencintai bukan melaknati, dan mengedepankan kemanusiaan.

“Insya Allah, setelah launching resmi ini, kegiatan pengajian Fordaf akan diselenggarakan setiap bulan sekali dan tempatnya bergiliran. Ini untuk memperluas jangkauan kemanfaatan dakwaf Fordaf,” ujar Puteri Rais Syuriah PCNU Kab. Lebak, KH. Achmad Syatibi Hambali, ini.

Menurut Bunda – sapaan akrab Dede Saadah Syatibi – tantangan dakwah Fordaf ke depan cukup berat, karena menghadapi kelompok-kelompok Islam yang galak. Apalagi di zaman media sosial.

“Tantangan ini sudah semestinya disambut dengan penuh kesiapan oleh Fordaf,” katanya.

Dalam sambutannya, Ketua PC Fatayat Wilda Tusururoh menyampaikan harapan supaya Fordaf ini menjadi wadah silaturahim bagi dai-dai perempuan di bawah Fatayat NU. “Fordaf ini juga wadah menghimpun ide-ide tentang Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah dan perspektif jender atau fiqh al-Nisa;,” katanya.

Wilda lalu menjelaskan, Fordaf adalah amanat Muktamar 2012 di Bogor Jawa Barat, mengingat pentingnya menyampaikan dakwah yang rahmatan lil alamin. “Dan dakwah inilah ruh gerakan Fatayat yang sesungguhnya,” ujarnya.

Secara resmi, launching Fordaf dilaksanakan oleh Ketua PCNU Kab. Lebak, K. Aep Syaifuddin Asysyadzili. “Semoga melalui Fordaf ini, muncul dai-dai Fatayat yang mampu membawa nilai-nilai Aswaja, khususnya Aswaja al-Nahdhiyyah,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Al-Marjan Mulabaru Cipanas Lebak ini.

Kiai Aep berharap, selain menghidupkan Fordaf, PC Fatayat NU Lebak juga menyelenggarakan program lain yang bermitra dengan berbagai lembaga, baik pemerintah maupun swasta.

“Misalnya, cari program pemberdayaan ekonomi rakyat. Ini penting! Saya titip pada jamaah, mari jadikan diri kita manfaat untuk banyak orang,” ujarnya memberi wejangan.

Semoga saja, kegiatan Fordaf ini mampu mengawal nilai-nilai Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mengemban misi rahmatan li al-alamin.[nhm]

Kategori: Berita

Pelantikan OPPQ 2021-2022: “Hati-hati Ada Kelompok yang Ingin Menjauhkan Kita dari Ulama”

Pengurus Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ) Masa Khidmat 2021-2022 resmi dilantik, Kamis, 18 Februari 2021, malam, oleh Ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Qothrotul Falah, KH. Abdurohman Syatibi, M.Pd. dan SK Kepengurusan dibacakan oleh Ustadz Agus Faiz Awaluddin, S.Pd.

Bertempat di Majlis Putera, pelantikan ini berlangsung meriah, diisi oleh penampilan kesenian marawis, shalawat, sambutan-sambutan dan tausiah Pengasuh Pesantren, KH. Ahmad Syatibi Hambali dan dihadiri oleh para guru dan seluruh santri.

Pada suksesi OPPQ 2021-2022, Rijal dan Ria Alviah berhasil terpilih menggantikan M. Misbahudin (Warunggunung Lebak) dan Siti Nur Asiah (Cikulur Lebak). Rijal (Cikulur Lebak) mengalahkan pesaingnya, Ahmad Fauzan (Jakarta) dan Miftahudin (Citeras Lebak). Sedangkan Ria Alviah (Cilegon) mengalahkan Hana Munajiah (Cikulur) dan Asysyita Salsabila (Jakarta). Sedangkan Ustadz Subandi, S.Pd. dan Ustadzah Nining S. Wavy, S.Sos. didaulat sebagai Pembina OPPQ.

Keterpilihan mereka melalui perjalanan panjang yang meliputi penjaringan bakal calon ketua, kampanye-kampanye, debat terbuka, dan finalnya pencoblosan pada Jum’at, 12 Februari 2021. Dan puncaknya, mereka dikukuhkan secara resmi sebagai pengurus pada Kamis, 18 Februari 2021 malam.

Sebelum menjadi pengurus, personil OPPQ lainnya juga melalui proses dan uji yang panjang, baik uji akhlak, ibadah maupun hafalan-hafalan (doa-doa, hadharat, dan surat-surat pilihan).

“Ini ditujukan untuk mempersiapkan pengurus yang baru sebagai pemimpin yang benar-benar bisa menjadi teladan terbaik bagi adik-adik kelasnya. Insya Allah kami sudah melakukan yang terbaik sebagai persiapan mereka menjadi pengurus,” jelas Ustadz Andri Fauzi, S.Sos, Ketua Pemilihan OPPQ 2021-2022.

“Insya Allah sehari setelah dilantik mereka juga menjalani Latihan Menejemen Organisasi (LMO), sebagai penguatan kapasitas mereka sebagai pengurus,” imbuhnya.

Dalam pelantikan ini, selain mengucapkan selamat pada pengurus baru, Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah KH. Ahmad Syatibi Hambali juga memberikan pesan-pesan penting pada pengurus terpilih.

“Mudah-mudahan OPPQ yang baru ini lebih terarah. Pengurus yang baru harus belajar dari yang sebelumnya, supaya menjadi lebih bagus lagi. Yang bagus dipertahankan dan yang belum bagus diperbaiki,” katanya.

Belajar pada pengurus yang sebelumnya itu penting dilakukan, sehingga kekurangan yang ada pada pengurus sebelumnya bisa ditambal. “Insya Allah akan lebih baik lagi ke depan,” nasihatnya.

Pada pengurus yang demisioner, Pengasuh memberikan nasihat, supaya mereka tidak bertindak di luar aturan pondok. “Pengurus yang baru kadang tidak enak. Pengurus lama tidak boleh seenaknya. Semua aturan pondok harus tetap dijalankan pengurus lama. Jamaah, belajar, dll, semua harus tetap dijalankan kendati sudah tidak jadi pengurus. Harus eksis dan harus membantu adik-adiknya yang sekarang menjadi pengurus,” harapnya.

Pengasuh juga berharap, Pengurus yang baru menyusun program secara maksimal. “Program lama yang kurang baik direvisi atau diamandemen. Aturan itu untuk semua, bukan hanya untuk yang diatur, tapi juga untuk yang mengatur,” katanya berharap.

“Sehingga ke depan, pondok ini santrinya bisa lebih bagus lagi. Dan itu di pundak pengurus ini. Baik kuantitas maupun kualitas, harapan saya pengurus yang baru bisa membawa ke arah sana,” imbuhnya.

Pengurus, kata Pengasuh, tidak cukup hanya menjadi pengurus, tapi harus ada upaya serius membesarkan pondok ini. “Semua harus mempunyai tanggungjawab pada pondok ini supaya ke depan lebih maju lagi,” harapnya.

Untuk para santri pada umumnya, Pengasuh menyatakan bahwa santri itu orang yang beruntuk bisa tinggal di pondok, karena bisa mendekatkan pada ulama dan pada Allah. “Saat ini ada kelompok yang ingin menjauhkan kita dari ulama. Imam al-Ghazali misalnya, dikatakan biang keladi penyebar bid’ah. Na’udzu billah min dzalik. Ini orang yang berjargon kembali pada Alquran dan Sunnah. Seakan-akan Imam al-Ghazali tidak memegang Alquran dan Hadis. Ini hati-hati oleh kita semua,” nasihatnya sembari menyebut beberapa tokoh yang menghinakan Imam al-Ghazali.

“Sasarannya bukan pondok seperti kita, tapi perguruan tinggi. Mudah-mudahan kalian tidak bisa terbawa oleh arus seperti ini, karena kalian punya dosa. Bagaimanapun ulama itu pewaris para Nabi. Sebesar al-Ghazali, karyanya sangat banyak dan hebat, kita membacanya saya belum tentu mampu, kok dibilang ahli bid’ah,” ujarnya.  

Semoga saja pengurus yang baru bisa mengemban amanah dengan sebaik-baiknya, sehingga roda kepemimpinan mereka setahun ke depan memberikan banyak kemanfaatan bagi diri mereka dan pesantren.[nhm]

Kategori: Berita

Berbagi Pengalaman Pengelolaan Taman Pendidikan Alquran

Pengelola Madrasah Diniah Takmiliah Awaliah (MDTA) dan Taman Pendidikan Alquran (TPQ) Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten menerima kunjungan Pengelola Taman Pendidikan Alquran (TPQ) Masjid Citra Maja Raya (CMR), Maja Lebak, 14 Februari 2021, pagi.

Bertempat di Pondok Pesantren Qothrotul Falah, Pengelola MDTA-TPQ Qothrotul Falah yang hadir adalah Hj. Dede Saadah (Kepala/Guru), Nur Jannah (Bendahara/Guru), Subandi (Sekretaris/Guru), Aroh Rohmawati (Guru) dan Nurul H. Maarif (Koordinator Majelis Pembimbing Santri Qothrotul Falah).

Sedangkan dari pihak TPQ-CMR tampak hadir H. Hasan (Dewan Pembina), Muhammad Putra Perdana (Steering Committee), Singgih Prabwo (Kepala), Veranita Mei Pratiwi (Sekretaris), Siti Nuryanah (Bendahara), Triana (Guru), Siti Awaroh (Guru), Yulia Ningsih (Guru), Perdiansyah (Guru), Yuli Yanti (Guru) dan Pahmi (Guru).

“Ini bukan studi banding ya. Ini sifatnya hanya sharing, karena lembaga kami masih sangat banyak kekurangan di sana-sini. Belum tepat kalau dianggap studi banding,” ujar Kepala MDTA-TPQ Qothrotul Falah, Dede Saadah, di sela-sela perkenalan.

Kehadiran para tamu ini memang untuk sharing, saling belajar, tentang pengelolaan TPQ, baik terkait pengelolaan metode pembelajaran, pengelolaan keuangan, pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler maupun lainnya.

“Kami gedung belum punya dan masih nebeng pada pesantren. Keuangan juga tidak maksimal, karena SPP saja hanya Rp. 4.000. Dan kami mengawali MDTA-TPQ sejak sepuluhan tahun lalu dengan ala kadarnya, karena orientasi anak-anak di sekitar daerah ini bukan sekolah agama, tapi main atau ke sawah,” ujarnya.

Namun seiring waktu, kata Puteri Kedua Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah, al-hamdulillah kepercayaan masyarakat pada lembaga yang dipimpinnya terus membaik.

“Indikasinya, jumlah siswa terus bertambah dan saat ini sudah mencapai 130 anak. Termasuk cukup banyak untuk ukuran MDTA-TPQ yang kebanyakan tidak banyak muridnya,” katanya lagi.

MDTA-TPQ Qothrotul Falah mengikuti kurikulum Kementerian Agama (Kemenag), termasuk buku-buku ajar yang digunakan. “Cuma kami berupaya menambah kegiatan lagi biar anak-anak tidak jenuh. Misalnya, kita adakan olah raga, hiking, santri kilat, class meeting, marawis/hadrah, pembelajaran di alam bebas, dan sebagainya,” ujarnya.

“Untuk guru-gurunya, biar tidak penat, kita ajak jalan-jalan ke Dufan Jakarta, Ocean Park BSD, Pelabuhan Merak, ziarah-ziarah dan sebagainya. Kenapa? Mereka ini bebannya banyak tapi nggak punya gaji. Kami hanya bisa memberikan hiburan seadanya,” sambungnya.

Karena di musim Pandemi Covid-19, murid-murid MDTA-TPQ Qothortul Falah di-off-kan, maka pihak diniah membuatkan video yang berisi kegiatan rutin: pembacaan Asmaul Husna, pengajian Alquran, olah raga, ekstrakurikuler, sanlat, ikhtifalan dan sebagainya.

“Apa yang kami tampilkan di video itulah kira-kira gambaran kegiatan kami, dari sejak masuk sampai wisuda di akhir pembelajaran,” jelasnya.   

Setelah Kepala MDTA-TPQ Qothrotul Falah menyampaikan uraiannya, giliran Pengelola TPQ-CMR menyampaikan beberapa hal. Disampikan H. Hasan, mewakili TPQ CMR, lembaganya baru berdiri 7 bulan.

“al-Hamdulillah sekarang sudah tercatat memiliki 140 murid, kendati yang aktif baru 70-an persen. Untuk itu kami masih harus banyak belajar dari berbagai lembaga lain yang lebih dulu muncul,” ujarnya.

Untuk ukuran lembaga pendidikan agama yang baru berusia 7 bulan, tentu apa yang didapatkan TPQ-CMR menjadi prestasi tersendiri, apalagi keberadaannya di tengah Komplek Perumahan Citra Maja Raya (CMR).

Ke depan, ujar H. Hasan, jika lembaganya sudah tertata dengan baik, ada harapan didirikannya Islamic Center, dengan membawahi berbagai kegiatan keagamaan, baik TPQ, MDTA, sekolah formal, maupun yang lainnya.

“Mudah-mudahan ini bisa terlaksana, karena potensi ke arah sana cukup besar,” katanya.

Disampaikan M. Putra Perdana, salah satu pengelola TPQ-CMR, untuk pembiayaan kegiatan, murid-murid dikenakan Rp. 30.000. “Juga ada beberapa donatur yang al-hamdulillah turut membantu pembiayaan. Kita buatkan formulir dan kita tawarkan mau berdonasi berapa dan jangka waktunya berapa bulan,” ujarnya.

“Lembaga kami sama sekali tidak punya donatur dan SPP hanya Rp. 4.000. TPQ CMR sudah jauh melangkap lebih baik di start yang awal,” respon Dede Saadah.

“Memang ada batuan ala kadarnya dari Pemda ya, seperti Bosda, tapi itu sifatnya membantu saja. Dan ini syaratnya ada Ijin Operasional (Ijob) dari Kemenag. Ada baiknya TPQ-CMR juga dibuatkan ijin operasional untuk keamanan ke depan,” sambungnya.

Usai memberikan uraian masing-masing, lalu forum dilanjutkan tanya jawab santai dan diakhiri makan siang ala kadarnya. Tugas pengelola lembaga keagamaan memang tidak mudah. Tapi tidak ada yang sulit jika ada kemauan dan terus istikomah.[nhm]

Kategori: Berita

LPJ OPPQ: Kita Semua Akan Dimintai Pertanggungjawaban

Sebagai akhir Pengurus OPPQ 2020-2021, maka dilakukan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) atas program setahun yang mereka selenggarakan. Pelaksaan LPJ ini dilakukan dua tahap: tertutup dan terbuka.

LPJ tertutup diselenggarakan selama dua malam, malam Jumat-Sabtu, 4-5 Januari 2021, di hadapan Ketua Yayasan dan guru-guru. Sedangkan LPJ terbuka diselenggarakan malam Ahad, 6 Januari 2021, di hadapan guru-guru dan seluruh santri.

Masing-masing Ketua OPPQ, baik Putera maupun Puteri, diberikan kesempatan untuk menyampaikan seluruh program yang telah diselenggarakan selama setahun, lalu para guru memberikan tanggapan seperlunya, disertai berbagai catatan dan masukan.

Dalam tausiahnya, Ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Qothrotul Falah KH. Abdurohman Syatibi, M.Pd., LPJ ini akan terus diselenggarakan sebagai ujung kepengurusan OPPQ.

Menurutnya, LPJ itu ada yang suka dan ada yang tidak suka. Ada kakak OPPQ yang judes, ada yang baik, ada yang suka nongkrong bareng, yang positif bareng, yang negative juga duduk bareng, dan seterusnya. Suka tidak suka inilah sebuah laporan pertanggungjawaban.

“Pastinya kita akan mendapat pertanggungjawaban maksimal di hadapan Allah Swt,” ujar Kepala SMA Qothrotul Falah ini.

Bagi Kiai Aang, sapaan akrabnya, LPJ yang diselenggarakan ini hanyalah latihan yang normal saja, yang harus dijalani oleh semua pengurus.

“Ini hanya pembelajaran awal dari kehidupan yang akan datang,” ujarnya mengingatkan kehidupan akhirat yang menjadi ajang pertanggungjawaban amaliah setiap manusia di dunia.

Karena itu, di usia pengurus yang masih belia, kegiatan pertanggungjawaban ini menjadi positif dan penting dilalui. Ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga dan penting.

“Apapun yang kalian dapatkan dari OPPQ, baik plus dan minusnya, mudah-mudahan mendapatkan keberkahan dari Allah Swt,” katanya.

“Insya Allah yang kalian dapatkan ada himmah menjadi lebih baik di masa yang akan datang,” lanjutnya.

Tak lupa, Kiai Aang menyampaikan selamat kepada Pengurus OPPQ 2020-2021. “Mudah-mudahan LPJ ini diterima dan mendapatkan apresiasi yang baik,” ujarnya.

Dan bagi yang tidak dilantik sebagai pengurus karena tidak menyelesaikan persyaratan, maka sudah sepatutnya hal ini menjadi pelajaran bagi semua, terutama adik-adik kelasnya.

“Yang dilantik jadi contoh, yang tidak baik jadi baik. yang tidak dilantik juga jadi pelajaran untuk tidak ditiru adik-adiknya,” nasihatnya.

Semoga  LPJ ini menjadi pembelajaran yang baik dan kian mematangkan mereka kelak di kemudian hari jika sudah terjun ke tengah masyarakat.[nhm]

Kategori: Berita

Gebyar OPPQ 2020-2021: Santri Harus Ramaikan Dakwah Digital

Masa Akhir Kepengurusan Organisasi Pelajar Ponpes Qothrotul Falah (OPPQ) 2020-2021 segera berakhir. Seperti tradisinya, akhir kepengurusan ditutup dengan Gebyar OPPQ, semacam kegiatan puncak untuk ajang penampilan santri.

Kegiatan Gebyar OPPQ kali ini diselenggarakan pada Kamis-Ahad, 28-30 Januari 2021. Tidak seperti biasanya, kegiatan ini diselenggarakan di depan Saung Panjang atau samping Gedung Pondok Baca Qi Falah. Pertimbangannya, jika hujan turun karena musim hujan, maka santri-santri bisa berlindung di saung atau kelas-kelas.

Pada Gebyar OPPQ kali ini, berbagai kegiatan ditampilkan, seperti muhadharah (pidato) Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda. Orator-orator terpilih dan terbaik sepanjang tahun, yang diseleksi dalam kegiatan muhadharah setiap malam Jum’at.

Selain itu juga ditampilkan muhafadhah atau hafalan, seperti hafalan Imrithi, Jurumiyah, Awamil, Aqidatul Awwam, Mandhumah Baiquniyah, yang menampilkan santri-santri terpilih berdasarkan seleksi yang diselenggarakan.

Juga diselenggarakan OPPQ Award, yang isinya ajang penilaian bagi santri dan pengurus: ada santri terbaik, terrapi, terajin, dan sebagainya. Ini semata ajang hiburan yang intinya untuk menjalin keabrakan antar sesama.

Dalam tausiah pembukaan Gebyar OPPQ, Ustadz Agus Faiz Awaluddin menyatakan, apresiasinya pada kegiatan tahunan ini, khususnya yang diselenggarakn oleng kepengurusan tahun 2020-2021.

 “Ini persiapannya luar biasa. Butuh waktu dan sangat canggih, karena menggunakan teknologi. Ini sudah melampaui gurunya. Inilah santri yang kreatif dan inovatif,” ujarnya.

Dikatakannya, tantangan dakwah santri ke depan itu bagaimana menyampaikan nilai-nilai Islam dengan kemasan yang digital, seperti youtube, instagram, facebook, dll. “Kita tidak bisa hanya berdiri di panggung. Bisa disampaikan melalui vidio. Dakwah itu melalui mimbar, layar dan lembar,” katanya.

Kita, katanya, harus bertransformasi dalam menyampaikan dakwah. Jangan kalah dengan mereka yang dakwah tidak menunjukkan keramahan. Karena inti dakwah adalah mengajak kebaikan dengan cara makruf, ramah bukan marah.

“Sebagai santri ahlussunnah wal jamaah al nahdhiyah yuk berdakwah dengan ramah, baik dan menyejukkan, yang menunjukkan Islam rahmatan lil ‘alamin,” pesannya.

Selain itu, Ustadz Agus mengingatkan, supaya setiap dai memberikan kesejukan. Tidak menjadikan Islam sebagai agama yang penuh kemarahan, tapi penuh keramahan.

“Insya Allah semua sudah oke, dan punya bakat. Tinggal kita latih lebih baik lagi. Ruang kosong yang belum terisi mari kita bina lebih baik lagi. Bakat-bakat ini semoga bisa terus dibina, sehingga bisa lebih matang lagi,” katanya.[nhm]

Kategori: Berita

Empat Santri Ikuti Sidang Terbuka Karya Tulis Ilmiah

Sebagai salah satu persyaratan kelulusan, Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten mengharuskan santrinya untuk membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI). Kegiatan ini diselenggarakan untuk mengasah kemampuan para santri di bidang tulis-menulis dan kegiatan ini akan terus ditradisikan secara rutin.

KTI diujikan dua tahapan; tertutup dan terbuka. Ujian tertutup dijalani oleh seluruh santri Kelas XII SMA Qothrotul Falah. Sedangkan ujian terbuka hanya diikuti oleh siswa-siswi yang terpilih sesuai kesepakatan para penguji berdasarkan pertimbangan-pertimbangan khusus.

Untuk tahun ini, ujian terbuka yang diselenggarakan pada Senin, 25 Januari 2020 di Majelis Putera Qothrotul Falah, diikuti oleh empat siswa-siswi: M. Misbahudin (Warunggunung Lebak) yang menulis “Hukum Prewedding dalam Perspektif Islam”, M. Rio Nazaruddin (Cikulur Lebak) yang menulis “Pengaruh Teknologi Bagi Kecerdasan Santri”, Rizqi Laili (Cileles Lebak) yang menulis “Peluang Bisnis Online di Masa Pandemi” dan Dian (Jakarta) yang menulis “Manfaat Saffron untuk Mengatasi Covid-19”.

Sedangkan penguji pada sidang terbuka ini adalah Dr. Muhammad Zen, M.A. (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Dr. H. Nurul H. Maarif, M.A. (STAI La Tansa Mashiro Lebak), Hj. Dede Saadah Syatibi, S.Th.I., M.Pd. (PC Fatayat Lebak) dan Ahmad Turmudzi, S.Pd.I., M.Pd. (Kepala MTs Qothrotul Falah). Sidang dipandu oleh Agus Faiz Awaluddin, S.Pd. (Waka Kurikulum SMA Qothrotul Falah) dan dihadiri oleh dewan guru dan para santri.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Qothrotul Falah yang sekaligus Kepala SMA Qothrotul Falah KH. Abdurohman Syatibi, S.E., M.Pd., menyatakan kegiatan ini sangat baik dilakukan, karena beberapa siswa di Lebak mendapatkan kesempatan ke luar negeri, baik Amerika, Jepang, maupun ke negara lainnya, dengan wasilah KTI.

“Siswa yang tidak mampu, karena KTI-nya berprestasi, mereka dibiayai oleh Pemda Lebak dan Propinsi Banten untuk ke luar negeri. Kita juga ingin seperti mereka dan insya Allah pada saatnya bisa,” ujarnya.

Kiai Aang – sapaan akrabnya – berharap, KTI ini ditulis dengan sebaik-baiknya dan tidak hanya mengutip dari google. “Supaya layak dibukukan dan dipresentasikan untuk orang banyak,” katanya.

Menurutnya, kegiatan ini harus dibiasakan, karena akan membantu mereka di lingkungan kampus ketika kuliah kelak. “Kalau anak-anak kita Kelas XII SMA sudah terbiasa, ini akan menjadi pengalaman yang penting untuk mereka kelak,” ujarnya.

Semoga saja, kegiatan ini benar-benar memberikan pengalaman yang terbaik bagi para santri, baik yang mengikuti sidang maupun adik-adik kelasnya.[nhm]

Kategori: Berita

Konsisten Tradisikan Literasi Karya Tulis Ilmiah

Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten selalu konsisten mentradisikan kegiatan literasi, terutama di bidang tulis-menulis. Setiap tahun, misalnya, ada keharusan bagi siswa-siswi Kelas XII SMA Qothrotul Falah untuk membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI) sebagai salah satu persyaratan kelulusan dari pesantren.

Untuk tahun ini, sebagaimana dijelaskan oleh Ketua Panitia Karya Tulis Ilmiah (KTI) Ustadzah Fitri Ariyanti, S.Pd.,  kegiatan munaqasyah diselenggarakan dalam dua tahap: tertutup dan terbuka. Terbuka diselenggarakan pada Sabtu, 16 Januari 2020. Dan Sabtu depan insya Allah diselenggarakan ujian terbuka.

“Tertutup itu sifatnya sangat personil hanya ada penguji dan peserta. Tidak ada penonton. Setelah itu, nanti akan diseleksi lima terbaik, yang nantinya akan diujikan terbuka di hadapan semua guru dan semua santri,” ujarnyanya.

Dikatakan Ustadzah Fitri, tujuan utama kegiatan ini adalah melatih tulis-menulis dan melestarikan tradisi literasi ini. Juga untuk mengakrabkan mereka dengan buku-buku.

“Selain itu, juga untuk melatih mental mereka berhadapan dengan banyak orang. Ini juga sekaligus mempersiapkan anak-anak ketika kelak menjadi mahasiswa di kampus, yang akan bergelut dengan dunia tulis-menulis setiap saat,” katanya lagi.

Ustadzah Fitri melanjutkan, rencananya hasil KTI ini akan dibukukan, supaya terdokumentasikan dengan baik dan bermanfaat bagi orang yang membacanya. “Mudah-mudahan buku itu menjadi kenangan terbaik dan lebih mencerdaskan,” katanya.

Kegiatan KTI ini memang sudah menjadi trend di lingkungan Ponpes Qothorutl Falah. Bahkan peluncuran buku karya guru atau santri menjadi agenda rutin setiap wisuda santri.

“Tradisi KTI ini sudah kami lakukan sejak 2009, dan alhamudulillah terus berlangsung hingga saat ini. Ini akan terus kami pertahankan, karena inilah cara kami mewariskan gagasan, ide, pemikiran, bahkan peradaban, kepada generasi setelah kami,” ujar Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) Qothrotul Falah, Nurul H. Maarif, yang juga Pembina Triping Community.

Triping Community adalah komunitas santri yang kegiatan utamanya 3-ing: reading, writing dan speaking. Beberapa buku yang dicetak professional telah dihasilkan mereka: Renungan Santri I: Refleksi atas Kehidupan Remaja , Renungan Santri II: Intelektualitas, Moralitas dan Integritas Remaja, Rumah Kita: Catatan Santri Qothrotul Falah, Toleransi Perspektif Santri, Fikih Keseharian, Lelaki dalam Doa, Nasihat untuk Santri, Strategi Pemasaran Ponpes Qothrotul Falah, Dakwah bi al-Qalam: Studi di Ponpes Qothrotul Falah, dan sebagainya.

Hal serupa disampaikan Kepala SMA Qothrotul Falah, KH. Abdurohman Syatibi, M.Pd. “Ini tradisi kami yang akan terus diselenggarakan. Semoga kami bisa konsisten mendampingi anak-anak untuk belajar menulis ini. Dan kami akan mensupport semaksimalnya,” ujar Putera Pertama Pimpinan Ponpes Qothrotul Falah ini.

Bagi peserta KTI, kegiatan ini sangat bermanfaat tentu saja. “Manfaatnya kita bisa berfikir bahwa apa yang kita samaikan itu harus berbobot. Tidak sekedar apa adanya. Perlu membaca serius dan butuh referensi. Karena itu, santri Qothrotul Falah harus bisa belajar berfikir kritis dan harus bisa memikirkan masalah, apa penyebabnya dan apa solusinya,” ujar M. Rio Nazaruddin asal Cikulur Lebak, yang menulis KTI berjudul “Pengaruh Teknologi terhadap Kecerdasan Santri.”

Siti Nur Fadilah, asal Cikulur Lebak, menulis judul “Perempuan sebagai Tonggak Peradaban Dunia”. Dalam presentasinya, ia menyampakkan bahwa pada umumnya perempuan itu hanya bisa 3K: "macak, manak dan masak" atau hanya di 3R "dapur, sumur dan kasur."

"Perempuan itu penopang peradaban dunia. Tidak bisa dibatasi hanya pada wilayah itu. Harus lebih. Saya sendiri ingin menjadi wanita karir," katanya menyampaikan cita-citanya.

Semoga saja, kegiatan yang sifatnya mengasah skill literasi santri ini benar-benar memberikan manfaat yang banyak bagi para santri. Terlepas dari kekurangan yang ada, kegiatan ini patut dilestarikan dengan catatan di sana-sini tentunya.

“Ya, pasti kekurangan itu ada di mana-mana. Tanpa kekurangan, kita juga tidak akan mencapai kesempurnaan. Tapi untuk ukuran mereka, kegiatan permulaan ini sudah lebih dari cukup. Insya Allah ke depan mereka akan kian matang,” ujar Bunda Saadah, salah satu penguji.[nhm]