Berdosa Karena Memberi Ibu Kue

BAGIKAN:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Oleh Nurul H. Maarif*)

Pagi-pagi bakda shalat Shubuh, saya menerima pesan WA dari seorang mahasiswi. Dalam ceritanya, dia menyesal dan merasa berdosa telah memberikan kue pada ibunya di Hari Ibu 22 Desember kemarin.

Alasannya?

Dia menonton video Ustadz Abdul Shomad (UAS) yang mengharamkan Perayaan Hari Ibu, karena hal itu tidak ada dalam Islam.

“Itu kan pendapat UAS. Nggak ada perintah agamanya kok mengikuti pendapat Si A,  Si B atau siapapun, kecuali mengikuti Nabi Muhammad Saw. Pendapat itu hasil pikiran sendiri, bukan agama. Oh ya,  niat kamu memberikan kue ke Ibu apa?” respon saya.

“Menyenangkan dan membahagiakan Ibu, Pak,” jawabnya!

“Apa menyenangkan dan membahagiakan Ibu itu bukan perintah Islam dan melanggar agama? Apa menyenangkan dan membahagiakan Ibu itu dosa, sehingga pelakunya patut bertaubat?” tanya saya.

“Perintah Islam, Pak,” jawabnya.

“Berarti kamu telah menjalankan perintah Islam. Nggak ada yang salah. Caranya saja yang berbeda. Kalau nggak ada Hari Ibu apa kamu memberikan kue ke Ibu?”

“Nggak, Pak,” jawabnya.

“Nahhh.. Hari Ibu mengingatkan kita pada perintah Islam itu. Lain kali lebih sering lagi ya menyenangkan dan membahagiakan Ibu. Jangan hanya pada Hari Ibu! Dan kamu nggak perlu bertaubat karena memberikan kue ke Ibu.”

So?

Beragama itu yang santai saja. Beragama itu yang subtansial. Jangan tegang: dikit-dikit haram dikit-dikit haram. Haram kok dikit.

Al tarku la yadullu ala al tahrim, kata Kiai saya, KH. Ibnu Ubaidillah Syathori, Pimpinan Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon Jawa Barat. Yang tidak dilakukan Nabi Muhammad Saw tidak otomatis Haram. Mainan HP juga bisa haram dong! HUT RI haram juga. Dan betapa banyak yang haram kalau begitu.

Tak lupa saya menganjurkan mahasiswi tadi untuk menyaksikan video-vidio lain semisal Prof. Quraish Shihab, Prof. Aqil Siraj, Prof. Aqil Munawar, Prof. Nasarudin Umar, Gus Mus, Gus Baha, juga sesekali Gus Mao (yang terakhir ini maksudnya Xanana Gusmao).

Alhamdulillah, tampaknya mahasiswi itu lebih mendengarkan pandangan awam saya ketimbang pandangan UAS, dai populer dengan pengikut yang banyak itu. Ia tidak jadi menyesal dan bertaubat karena telah memberikan kue pada Ibunya di Hari Ibu. Ia kini bangga dan akan terus membahagiakan Ibunya, kapanpun, di manapun dan dalam momen apapun.[]

*)Guru Pondok Pesantren Qothrotul Falah

Pondok Pesantren Qothrotul Falah

Alamat:
Jl. Sampay-Cileles Km. 5
Ds. Sumurbandung Kec. Cikulur Kab. Lebak
Provinsi Banten (43256)

E-mail :
info@qothrotulfalah.com

Developed by