Semata untuk Allah

BAGIKAN:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Oleh H. Nurul H. Maarif*)

Ibadah yang kita lakukan, tak cukup hanya memenuhi rukun dan syarat. Kendati secara fikih dinilai sah, sejatinya ada hal lain yang patut menjadi perhatian: yakni ketulusan semata karena Allah Swt. Shahadat tanpa ketulusan tiada nilainya. Shalat tanpa ketulusan tiada maknanya. Zakat tanpa ketulusan juga tiada gunanya. Puasa tanpa ketulusan pun tiada faedahnya. Haji tanpa ketulusan, pun sia-sia belaka.

Ini memberi isyarat, kunci utama penerimaan ibadah oleh Allah bukan soal keterpenuhan aspek fikih, melainkan ketulusan niat. Dalam riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Umar bin al-Khaththab, Rasulullah Saw mewanti-wanti: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya.” Niat, yang wujudnya tak terlihat karena tersimpan di kedalaman kalbu, itu menjadi penentu diterima atau ditolaknya ibadah.

Dalam Syarh al-Arba’in al-Nawawiyyah (h. 5) karya Yahya bin Syaraf al-Din al-Nawawi, disebutkan bahwa al-niyyah mi’yar li tashhih al-amal (niat menjadi ukuran atau kreteria sahihnya perbuatan). Jika diniatkan karena Allah, maka yang diraih adalah ridha-Nya. Jika diniatkan karena manusia, maka yang diraih bukan lagi ridha-Nya, melainkan murka-Nya. Pun, jika niatnya benar, maka benarlah ibadahnya. Jika niatnya salah, maka salahlah ibadahnya.

Dalam kitab ini juga dijelaskan (h. 5-6), ada tiga kondisi yang melatari pelaksanaan ibadah seseorang. Pertama, karena takut pada (siksaan) Allah Swt (khaufan min Allah). Ibadah demikian, laksana ibadah al-abiid (ibadahnya budak). Budak, dalam mengerjakan pekerjaan, tak lain karena takut majikannya. Takut tidak digaji. Atau takut diberi sanski. Seorang yang menunaikan ibadah karena takut pada Allah, levelnya seperti budak ini.

Kedua, karena mengharap keuntungan surga dan pahala (li thalab al-jannah wa al-tsawab). Ini ibadah tipe pedagang. Pedagang, misalnya, menjual barang dagangannya lantaran berharap keuntungan materi. Orang yang beribadah karena mengharap keuntungan surga dan pahala, karenanya layak diidentikkan dengan al-tujjar (pedagang).

Ketiga, karena malu pada Allah Swt, menunaikan hak penghambaan dan menunaikan rasa syukur, disertai kekhawatiran kalau-kalau ibadahnya tidak diterima oleh-Nya. Inilah ‘ibadah al-akhyar (ibadahnya orang-orang baik yang terpilih). Ibadah model ini diisyaratkan oleh Rasulullah Saw, seperti tercermin dalam dialog dengan Aisyah r.a. Istri tercintanya ini bertanya perihal kebiasaan suaminya shalat malam, sehingga telapak kakinya bengkak kehitaman. “Bukankah aku hamba yang bersyukur?” jawabnya. Bersyukur pada Allah menjadi alasan Rasulullah menjalani ibadah.

Ibadah kategori ketiga inilah yang tentu saja paling ideal. Hanya orang tertentu yang benar-benar mampu menjalankannya. Lalu bagaimana dengan orang-orang awam yang level keimanan dan penghambaannya pada Allah Swt masih labil dan fluktuatif?

Bagi mereka ini, ibadah model pertama dan kedua masih baik, karena inti penciptaan manusia adalah penghambaan (Qs. al-Dzariyat: 56). Dan apa yang mereka jalani, kendati masih dilatari rasa takut siksa atau berharap surga/pahala, masih dinilai baik. Itulah tugas penghambaan pada Allah Swt. Toh masih banyak di luaran sana yang sama sekali tidak menjalankan tugas penghambaan-Nya, bahkan mengingkari kewajibannya.

Andaikan dilevel, baikan mana orang awam yang beribadah karena takut pada Allah Swt dan neraka (khauf) atau berharap pada rahmat-Nya dan surga (raja’), maka Imam al-Ghazali memiliki jawaban yang spesial: ibadah karena raja’ itu lebih utama karena akan menghadirkan cinta (al-mahabbah), sedangkan ibadah karena khauf justru menghadirkan keputusasaan (al-qanuth).

Namun demikian, kiranya kita orang-orang awam perlu coba beranjak dari level ibadah pertama, ke kedua, lalu ke ketiga, sehingga ibadah kita yang diniatkan semata karena Allah benar-benar selamat dari gangguan Iblis “Iblis menjawab, “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Qs. Shad: 82-83). Dan semoga, ibadah puasa yang kita jalani kali ini selamat dari gangguan Iblis, sehingga menghadirkan ketakwaan yang sesungguhnya (Qs. al-Baqarah: 183)![]

*Pengelola Ponpes Anak-anak Qothrotul Falah Lebak Banten

(Radar Banten, 15 April 2021).

Pondok Pesantren Qothrotul Falah

Alamat:
Jl. Sampay-Cileles Km. 5
Ds. Sumurbandung Kec. Cikulur Kab. Lebak
Provinsi Banten (43256)

E-mail :
info@qothrotulfalah.com

Developed by