Tahun Berganti, Semangat Persatuan Makin Tinggi

BAGIKAN:

Facebook
Twitter
WhatsApp

H. Nurul H. Maarif

Tahun 2025 telah tergantikan oleh tahun 2026. Berbagai kenangan, yang positif maupun yang negatif, yang bermanfaat maupun yang sia-sia, akan menjadi pengalaman berharga sekaligus pelajaran penting untuk menapaki tahun 2026; tahun baru yang penuh rencana baru dan harapan baru. Ikhiar menjadi lebih baik telah dicanangkan di tahun baru ini, tentunya.

Sebab, jika kebaikan di tahun baru ini sama belaka dengan kebaikan di tahun sebelumnya, maka rugilah. Apalagi jika kebaikan di tahun baru ini kurang dari kebaikan pada tahun sebelumnya, maka bangkrutlah. Tapi jika canangan sekaligus capaian kebaikan di tahun baru ini lebih dari tahun sebelumnya, maka inilah keuntungan sejati yang harganya tidak bisa ditawar lagi.

Di Indonesia, negeri dengan sejuta keragaman – baik suku, agama, ras – yang berjuluk ‘negeri serpihan surga’ ini, hampir seluruh penduduknya merayakan pergantian tahun ini, dengan berbagai macam keragaman perayaannya. Betul! Tidak semua merayakan, namun tidak ada yang menolaknya secara terang-terangan.

Yang menolak perayaanpun, kalaupun ada, tetap saja dalam menjalankan aktivitas kesehariannya menggunakan kalender Masehi ini. Berarti, kan, ini juga menghargai? Dan yang terpenting, perayaan ini diselenggarakan secara positif dan memberikan manfaat. Tidak menghamburkan uang dan tidak membahayakan negara atau keselamatan jiwa.

Biasanya, pada puncak peringatan pergantian tahun ini akan diselenggarakan berbagai even. Sangat tergantung latar belakang penyelenggaranya. Baik latar belakang kegemaran, hobi, aktivitas, ormas, bahkan agamanya.

Tak heran, karenanya, pada momen pergantian tahun ini, ada yang menyulut kembang api atau petasan (kendati hal ini telah dilarang oleh beberapa pemerintah daerah), hiburan adat, hiburan musik dangdut atau pop, perlombaan, dan sebagainya. Bakar-bakar jagung ramai-ramai. Atau juga bakar-bakar ikan di pantai. Bahkan kalangan santri biasanya menggelar doa bersama atau istigatsah yang dipimpin oleh kiai. Tujuannya tak lain untuk kebaikan bangsa. Pun, terkadang dilakukan doa bersama lintas agama, dengan niatan menjaga keutuhan dan persatuan bangsa.

Begitulah keunikan bangsa Indonesia, dengan segala keragamannya. Keragaman latar belakang, yang berdampak pada keragaman kegemaran dan keanekaan kegiatan yang diwujudkan, benar-benar mencerminkan semangat Bkhinneke Tunggal Ika. Semua bergembira dalam ketidaksamaan. Dan inilah cermin nyata semangat Qs. al-Hujurat [49]: 13, bahwa keragaman itu tak lain untuk tujuan saling mengenal dan saling berdampingan.   

Karena itu, yang penting dicatat secara tebal dalam merenungi pergantian tahun, dari 2025 ke 2025, adalah bahwa seberbeda apapun bentuk perayaan masyarakat menyambut tahun baru, mereka semua tetap sama-sama warga negara Indonesia dan sama-sama diikat oleh Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45 (PBNU); dan berarti sama-sama harus saling menghargai dan menguatkan. Tidak boleh berseteru, apalagi bermusuhan serius, karena kecenderungan merayakannya berbeda-beda. Semangat Qs. Ali ‘Imran: 103, untuk “janganlah kamu bercerai berai,” sudah semestinya menjadi ikatan kuat menyambut pergantian tahun ini.

Apalagi, selain kita sama-sama bangsa Indonesia, kita juga sama-sama makhluk Allah Swt yang berkeluarga satu dengan lainnya. Dikutip Abu Zahrah dalam Zahrah al-Tafasir (II/877), Abu Ya’la meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda bahwa “Seluruh makhluk adalah keluarga Allah SWT; dan yang paling dicintai-Nya adalah yang paling bermanfaat untuk keluarganya.”

Untuk itu, saling bergandengan tangan, menjadi inti dari perayaan tahun baru ini. Tidak ada pengkotakan atas dasar perbedaan apapun, karena perbedaan ini sangaja Allah Swt ciptakan. Dan hanya dengan persatuan inilah, keadilan dan kesejahteraan yang menjadi tujuan bersama dan utama bisa diwujudkan.

Jangan lupa, di hadapan kita semua, banyak tantangan berat yang hanya bisa dilawan dengan semangat persatuan yang sejati! Tahun boleh berganti, namun semangat persatuan harus tetap kuat terpatri dalam diri![]

 

Penulis adalah Pengajar di Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak-Banten

Pondok Pesantren Qothrotul Falah

Alamat:
Jl. Sampay-Cileles Km. 5
Ds. Sumurbandung Kec. Cikulur Kab. Lebak
Provinsi Banten (43256)

Developed by