Bertempat di Lapangan Futsal, Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten menyelenggarakan Wisuda Santri XXII, Ahad, 30 Mei 2021, pagi. Dalam situasi Pandemi Covid 19, wisuda diselenggarakan secara sederhana dan tidak menghadirkan banyak undangan.
“Hanya wali santri Kelas XII yang kami undang. Wali santri Kelas VII, VIII, IX, X dan XI, tidak kami undang. Karena itu mohon maaf. Kami juga sedikit galak terkait pelaksanaan prokes ini. Mohon dimaklumi atas semua kondisi ini,” ujar Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) Nurul H. Maarifn dalam sambutannya.
Kendati dihelat dengan sangat sederhana, wisuda ini tetap dihadiri tamu-tamu penting dari luar pesantren, seperti Kakanwil Kementerian Agama Propinsi Banten Dr. H. Nanang Fatchurochman, M.Pd., Kepala KCD Dinas Pendidikan Kab. Lebak Dr. H. Sirojudin Alfarisi, M.Pd., Kepala Kemenag Kab. Lebak H. Ahmad Thohawi, M.Si., Ketua PW GP Ansor Propinsi Banten Ahmad Nuri, M.Si., Ketua PC GP Ansor Kab. Lebak H. Deden Z Farhan, juga Ketua FSPP Kab. Lebak Ade Bujhaerimi.
Wisuda sendiri diisi dengan berbagai rangkaian agenda; Haflah MDTA Qothrotul Falah, Pentas Seni Santri dan puncaknya Wisuda Santri Ke XXII yang diisi sambutan-sambutan oleh tokoh-tokoh penting semisal Pengasuh, Kakanwil dan Kepala KCD.
Dalam sambutannya, Kakanwil Kemenag Propinsi Banten, Dr. H. Nanang Fatchurochman, M.Pd. mentakan, saat ini tidak ada lagi dikotomi pendidikan pesantren dan pendidikan non-pesantren. “Tidak ada lagi pesantren sebagai alternative, bila tidak diterima di sekolah umum, maka masuk pesantren,” ujarnya.
“Kalau ada yang bilang pesantren itu isinya anak-anak buangan, saya marah!” imbuhnya.
Kakanwil menyatakan, dirinya sangat kritis pada kebijakan apapun yang mendiskreditkan pesantren. “Pesantren itu cikal-bakal pendidikan Indonesia. Ini harus diakui. Makanya jangan kecil hati. Jangan minder. Madrasah ini pilihan utama untuk anak-anak kita mengenyam pendidikan, sehingga bisa menjadikan Indonesia lebih baik,” ujarnya.
Beliau juga menyinggung kelompok kecil orang yang gemar mencaci-maki pemerintah hanya karena berbeda kepentingan. “Ingat! Kita harus bersama-sama menjaga NKRI,” tegasnya.
Karena itu, Kakanwil mengaku miris dan sedih, melihat banyak pesantren yang dipolitisir dan terbawa arus, bukannya malah meningkatkan citra pesantren. “Untuk itu jangan lupakan pendidikan agama yang Anda dapatkan. Jangan tergoyahkan!,” pesannya.
“Santri ini harus menjadi golongan sarungan tapi berwawasan nasional,” ujarnya.
Usai arahan Kakanwil, kegiatan dilanjutkan makan siang bersama. Suasana gayeng dan banyak guyonan menyegarkan suasana.[nhm]


