Budaya literasi, baik membaca, menulis maupun berbicara, adalah hal penting dalam dunia pendidikan. Bahkan dikatakan TS Elliot, tak mungkin membangun peradaban tanpa budaya membaca dan menulis.
Karena itulah, untuk meningkatkan budaya literasi di kalangan para santri khususnya, Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten melaunching “Si Geulis”, yakni Sehat Informasi, Gerakan untuk Literasi Santri. Melalui gerakan ini, diharapkan para santri memiliki kesadaran yang tinggi untuk tekun membaca, menulis dan berbicara, yang kelak akan menjadi bekal mereka mengarungi kehidupan ini.

“Si Geulis” ini dilaunching berbarengan dengan kegiatan Workshop Literasi Santri bertema “Menjadikan Reading, Writing and Speaking sebagai Life Style”, Sabtu, 26 Agustus 2023, di GOR Qothrotul Falah.
Pada kegiatan ini, hadir Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah KH. Ahmad Syatibi Hambali, Ketua YPI Qothrotul Falah KH. Abdurohman Syatibi, M.Pd., Pengawas SMA Dr. Yepi, Kepala SMA Qothrotul Falah H. Nurul H. Maarif, Kepala MTs Qothrotul Falah Ahmad Turmudzi, M.Pd., Waka Kurikulum Mupren Prestiana, M.Pd., Waka Kesiswaan Puput Nadipah Syatibi, S.E., Waka Sarpras M.E. Sulaeman, dewan guru, peserta PPL dari Unilam Lebak, dan para santri.
Dalam sambutannya, Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah KH. Ahmad Syatibi Hambali menyampaikan pentingnya santri untuk terus belajar. “Ilmu itu tidak bisa ditunggu atau ditongkrongin. Harus dipelajari dan dikejar,” katanya mengingatkan.
Kiai Ibing – sapaan akrabnya – lalu menceritakan bagaimana dirinya dulu menjalani proses belajar saat masih menjadi santri. “Setiap hari saya menulis di lembar kertas, setidaknya 10 bait Alfiyah. Saya taruh di saku dan saya hafalkan. Kalau keluar pondok saya bawa. Main saya bawa. Terus begitu, sehingga bisa hafal banyak,” jelasnya memberikan motivasi.
Untuk melengkap workshop ini, dilakukan diskusi tentang literasi yang menghadirkan pemateri dari internal pesantren, yakni H. Nurul H. Maarif, Ahmad Turmudzi, M.Pd., dan Dede Ikrom, S.M. Bertindak sebagai moderator adalah Puput Nadipah Syatibi, S.E.
Nurul H. Maarif lebih banyak menyampaikan urgensi literasi, manfaat membaca, menulis juga berbicara, juga bagaimana trik biar gemar membaca, menulis dan berbicara. Tiga hal inilah yang disebutnya sebagai triping (reading, writing and speaking). Dan banyak kegiatan membaca, menulis dan berbicara, yang akan dilakukan sebagai bentuk kongrit kegiatannya.
Ahmad Turmudzi lebih banyak menyampaikan urgensi literasi digital dan Dede Ikrom menyampakan Assessment Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Dan di ujung kegiatan, “Si Geulis” dilaunching secara resmi sebagai bagian penting dari Gerakan Literasi Santri ini.[]


