Idul Fitri Menghadirkan Keguyuban

BAGIKAN:

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh H. Nurul H. Maarif
(Guru Pondok Pesantren Qothrotul Falah)

 

Allah akbar 3x
Allah akbar 3x
Allah akbar 3x
La ilaha illa Allah, Allah akbar
Allah akbar wa lillahi al-hamd

 

Usai menunaikan puasa Ramadan sebulan penuh, dengan berbagai dinamikanya, ada lantunan suara yang sangat dirindukan oleh segenap kaum muslim di segala penjuru dunia, yakni lantunan takbir. Lantunan ini menjadi penanda “kemenangan” melawan nafsu keduniaan; makan, minum, atau seksualitas.

Lantunan takbir, di malam 1 Syawal, lumrahnya berkumandang bersahut-sahutan dari musalla atau masjid. Juga dari majlis-majlis zikir atau pesantren. Atau dari tempat-tempat bernuansa relijius lainnya. Lantunan yang bermakna mengagungkan Allah Swt. ini terdengar sejak tenggelam matahari hingga khatib naik mimbar untuk khutbah salat Idulfitri (Perayaan Kesucian).

Untuk merayakan hari suci itu, jutaan orang mudik ke kampung halamannya. Juga dengan berbagai dinamika dan kisah perjalanan yang menyertainya. Mereka semata ingin berkumpul dengan keluarganya, kerabatnya, tetangganya atau masyarakatnya, sembari bertakbir beramai-ramai mengagungkan asma-Nya. Silaturahim, setelah sekian purnama tak berjumpa, menjadi point utama kepulangan mereka dengan aneka kelelahannya. Yang tidak mudikpun, mereka tetap bersilaturahim pada handai taulannya di perantauan. Dengan keluarganya, silaturahim bisa diwakili melalui media sosial.

Saat menunaikan salat sunnah Idulfitri, mereka mengenakan pakaian beragam, sesuai selera kesukaannya. Umumnya pakaian baru, yang menjadi simbol kebaruan hati, pikiran dan perilaku mereka setelah menjalani “proses kepompong menjadi kupu-kupu indah” melalui penuntasan rukun Islam keempat ini. Mereka berkumpul dan bergembira tanpa menghiraukan corak, warna atau motif baju yang dikenakan.

Mereka juga berkumpul bergembira, tanpa menghiraukan profesi keseharian. Juga berkumpul bergembira tanpa memandang besar kecil pemasukan ekonomi. Juga berkumpul bergembira, tanpa memandang latar belakang nasab/keturunan atau kesukuan. Juga berkumpul bergembira, tanpa membedakan warna kulit. Semua sama. Semua setara. Tiada beda apapun.

Mereka berkumpul, saling menyapa, semata berlandaskan nilai kemanusiaan dan ketakwaan kepada Penciptanya, guna bersama-sama mengagungkan asma-Nya. Itulah nilai luhur yang Allah Swt. gambarkan melalui Qs. al-Hujurat ayat 6: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.

Usai menunaikan salat, lalu mereka saling memaafkan. Baik dosa yang disengaja maupun tidak disengaja. Bahkan banyak diantara mereka yang tidak saling mengenal, juga saling memaafkan entah untuk dosa apa. Ala kulli hal, ini menunjukkan betapa proses puasa Ramadan yang diikuti Idulfitri, mampu membuat semuanya guyub dan bersama-sama dalam cengkrama yang indah. Dan mereka lalu saling mengunjungi satu dengan lainnya penuh keceriaan.

Kalaupun ada perbedaan, biasanya terjadi di tingkat ormas dalam penetapan 1 Syawal. Itupun tidak pernah terjadi benturan keras yang menyebabkan keretakan. Apalagi keretakan serius yang sulit ditambal lagi. Kendati ini terjadi, di negeri ini khususnya, perbedaan inipun dalam koridor saling menghargai, tanpa menghilangkan nilai-nilai kebersamaan dan silaturahim.

Untuk itu, jika semua makhluk itu sama dan setara, tiada sekat perbedaan apapun, siapa sesungguhnya yang benar-benar mencapai kemenangan pada Idulfitri? Jawabannya bisa ditemukan dalam lantunan syair ini: Laisa al-‘id liman labisa al-jadid // wa la kinna al-‘id li man tha’athuhu tazid (Id bukanlah bagi yang mengenakan pakaian baru // Melainkan bagi siapapun yang ketaatannya bertambah).

So, kemenangan sesungguhnya itu bagi mereka yang salatnya makin baik dan khusyuk, puasanya makin optimal, zakatnya makin purna, silaturahimmnya makin terjaga, mulutnya makin tertata, akhlaknnya makin mengagumkan, penghargaannya pada nilai kemanusiaan makin meningkat dan kemaksiaatannya makin menghilang. Semoga, kita menjadi satu diantaranya. Amin![]

Pondok Pesantren Qothrotul Falah

Alamat:
Jl. Sampay-Cileles Km. 5
Ds. Sumurbandung Kec. Cikulur Kab. Lebak
Provinsi Banten (43256)

Developed by